Senin, 8 Januari 2018. Pesta Pembaptisan Tuhan.

Bacaan: Yes 55:1-11: Yes 12:2-3.4bcd.5-6: 1Yoh 5:1-9: Mrk 1:7-11

Renungan

PERISTIWA Baptisan menjadi tanda penutup dari masa natal dan awal dari masa biasa dalam Tahun Liturgi. Baptisan Tuhan berbeda dengan baptisan yang diterima oleh orang lain yang datang kepada Yohanes. Orang lain dibaptis oleh Yohanes karena dosa dan rekonsiliasi dengan Allah; tetapi Tuhan Yesus dibaptis untuk merangkum kesenasiban Tuhan dengan manusia. Ia menerima keadaan manusia sedalam-dalamnya, termasuk kenyataan manusia yang dikuasai oleh dosa. Surat kepada jemaat  Ibrani 4;15 mengungkapkan “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.”  Dalam baptisan itu hadirkah Pribadi Bapa dan Putera yang memberi kesaksian “Engkaulah Anak-ku yang Kukasihi, kepadaMu lah Aku berkenan.”.

Jikalau Tuhan sendiri mau merendahkan diri dan menjadi sama dengan manusia; meleburkan diri tetapi tanpa dosa.”, maka kita sebagai orang-orang kristen juga dipanggil untuk tidak “terlena” dengan kegiatan kegerejaan intern saja, tetapi juga mau mengambil bagian dalam suka duka hidup masyarakat di sekitar kita . Pengalaman anak-anak sekolah Live In yang diadakan di sekolah-sekolah menjadi pengalaman yang baik bagi mereka untuk mempunyai “kepekaan manusiawi” terhadap situasi dan hidup bermasyarakat. Merekapun juga mengalami perubahan mental dan perilaku ketika mereka pulang ke rumah.

Kita jangan buat ketika keluarga kita menjadi “benteng gading” yang aman dari persoalan, tidak hidup dalam dosa, berprestasi, sukses, hidup dalam rutinas aktifitas rohani-gerejawi, tetapi lupa akan panggilan kita untuk membuka pintu keluarga kita bagi orang lain dan menyatukan diri dengan masyarakat setempat.  Kita harus menjadi keluarga yang “open” dan “apostolik”. Tahun 2018-2019 adalah Tahun Politik; tahun yang memanggil kita sebagai bagian tak terpisahkan dari masyarakat untuk tidak hanya menggunakan hak politik kita untuk memilh pemimpin, tetapi juga hak dan kewajiban kita untuk membangun budaya politik yang semakin manusiawi dan beradab.

Benar kita dipanggil untuk menjadi sama dengan yang lain, tetapi yang terakhir harus kita digarisbawahi : “tetapi tidak berbuat dosa”.

Kontemplasi

Gambarkan peristiwa pembaptisan Tuhan oleh Yohanes.

Refleksi

Apa artinya baptisan yang kuterima? Apakah bapitsan juga mendorong aku untuk terjun dan menyatu dengan kehidupan bermasyarakat?

Doa

Ya Bapa, semoga baptisan yang kami terima mendorong kami untuk semakin berani menyatu, menjadi senasib dan menjadi terang dalam kehidupan bermasyarakat.

Perutusan

Mari terlibat dalam hidup bermasyarakat di sekitar kita.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Romo Aristanto MSF

Imam anggota Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF) dan tinggal di Skolastikat MSF di Banteng, Yogyakarta.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.