Rabu, 11 April 2018. PW. S. Stanislaus, Uskup dan Martir.


Bacaan:  Kis 5:17-26;  Mzm 34:2-3.4-5.6-7.8-9; Yoh 3:16-21


Renungan:


DALAM akhir dialog dengan Nikodemus, Tuhan Yesus mengungkapkan tentang kehadiran Terang , “sebab barang siapa berbuat jahat, membenci terang  dan tidak dapat pergi kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak tampak.”. Namun sebaliknya, mereka yang berbuat benar datang kepada terang.  Kesalahan yang sering kita yakini adalah bahwa “kalau kita hidup baik dan benar, kita berhak untuk mendapatkan kebaikan dari orang lain dan tidak ada orang yang akan berbuat jahat kepada kita “. Tetapi nampaknya keyakinan ini perlu kita ubah. Kebaikan dan cara hidup kita yang benar benar disukai oleh mereka yang mencintai kebaikan; tetapi juga tidak disukai dan bahkan dimusuhi oleh mereka yang tidak menyenangi kebenaran. Ciri orang hidup dalam terang adalah orang yang terbuka, transparan dan jelas. Tidak ada sesuatu yang harus disembunyikan.


Dalam hidup perkawinan-keluarga, keterbukaan, transparasi dan apa adanya menjadi tanda sebuah relasi yang berjalan baik dan dilambari dengan kepercayaan. Transparansi dalam media komunikasi, keuangan, relasi, persabahatan, pekerjaan, perasaan, dan pikiran-pikiran kita. Sebaliknya jika sudah mulai memberikan garis privasi diri bagi relasi suami isteri dan menjadi pribadi misterius yang tidak mau dikenal oleh pasangan. Biasanya kalau kita bertindak tidak benar  kita kemudian memilih untuk hidup dalam gelap dan sembunyi-sembunyi. Warning bagi kita jika ketika kita mulai menemukan gejala relasi yang tidak didasari oleh keterbukaan dan kepercayaan.


Dalam hidup religius dan imamat, penting juga keterbukaan, transparasi hidup dan kepercayaan. Keterbukaan dalam pastoral, keuangan, hidup sehari-hari, dan membiarkan diri kita dikenal dan mengenal orang, terutama anggota komunitas. Keterbukaan hidup kita akan membantu kita untuk rendah hati menerima masukan dari orang-orang baik di komunitas kita. Sebaliknya ketertutupan kita akan membuat kita sendiri jatuh dan terjerumus dosa dan kelamahan.


Di atas semua, kita perlu mengingat bahwa jika kita hidup benar dalam perkawinan, keluarga, hidup religius-panggilan,dan bahkan iman kristen kita,  tidak semua orang akan “menyukai kita”. Tetapi janganlah “ketidaksukaan dan sikap bermusuhan” itu membuat kita untuk berhenti bertindak benar. Kita ingat kata Tuhan : “Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia, orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat.” (Luk 6,22).


Kontemplasi


Renungkanlah kata-kata Tuhan Yesus mengenai kehadiran Terang dan penerimaan Terang.


Refleksi


Apakah aku menghayati hidupku di dalam perkawinan/keluarga/panggilan dalam keterbukaan dan terang?


Doa


Ya Bapa, ajarilah aku senantiasa untuk hidup terbuka di dalam terang cahayaMu. Amin.


Perutusan


Belajarlah hidup terbuka, transparan dan benar di hadapan  pasangan/keluarga/komunitas kita


Kredit foto: Ilustrasi (Ist)


Romo Aristanto MSF

Imam anggota Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF) dan tinggal di Skolastikat MSF di Banteng, Yogyakarta.

Sumber: Sesawi

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.