Lentera Keluarga – Memprioritaskan Kehendak Allah

0
4

Jumat, 12 Januari 2018.

Bacaan : 1Sam 8:4-7.10-22a; Mzm 89:16-17.18-19; Mrk 2:1-12

Renungan

DALAM sejarah Israel, jaman hakim-hakim diakhiri oleh Samuel dan bergantu menjadi zaman raja-raja. Bagi Samuel, Allah adalah raja Israel, maka mengangkat seorang raja seperti bangsa-bangsa asing berarti menjadikan seseorang itu berkuasa “seperti Allah”.  Samuel keberatan dengan permintaan orang Israel itu dengan berbagai macam alasan, tetapi akhirnya Samuelpun belajar untuk mendengarkan kehendak Allah walaupun itu bertentangan dengan cara berpikirnya pribadi. Dikutip dalam KS “Ia mendengarkan segala perkataan bangsa itu dan menyampaikannya kepada Tuhan”.

Samuel menjadi contoh pemimpin yang baik bagi kita. Pertama,  ia mempunyai pemandangan pribadi yang berdasar pada kenyataan dan tahu benar akan konsekwensi yang akan terjadi dari setiap keputusannya. Kedua, ia tidak mengesampingkan pandangan orang banyak yang menuntut hal secara emosional, tetapi membawanya untuk berdialog dengan Tuhan. Ketiga, ia mendengarkan kehendak Tuhan dan mentaatinya.

Kejutahan kita adalah bahwa kita lebih sering mengedepankan pemikiran-pandangan kita pribadi. Kita mengesampingkan pandangan banyak orang yang menurut kita tidak tahu detail – konsekwensi dari sebuah tuntutan. Dan yang lebih mendasar bahwa kita meletakkan kehendak Allah di bawah pertimbangan-keyakinan kita.

Sebagai religius-imam, dalam tugas perutusanpun kadang kita mengalami hal serupa. Kita kadang mudah protes-menilai kebijakan pemimpin salah dan kurang mampu dipertanggungjawabkan; sementara pandangan kitalah yang paling tepat dan masuk akal. Protes ini kemudian disertai dengan ketidaktaatan yang didasarkan pada pertimbangan dan keyakinan pribadi. Penghayatan ketaatan menuntut dari kita sikap seperti Samuel: menerima kebijaksanaan Allah lebih dari pertimbangan-pemikiran kita yang mungkin secara manusiawi masuk akal.

Dalam hidup berkeluarga, kita sebagai pemimpin perlu belajar dari Samuel. Tidak selalu kita sebagai orang tua yang benar dan masuk akal, sementara kita meremehkan pertimbangan anggota keluarga lain. Atau bahkan kadang kita lupa memohon hikmat Tuhan. Maka tidak mengherankan sehingga anak-anak kadang berpandangan bahwa kita otoriter. Mari kita lebih mendengarkan suara anggota keluarga kita mengatasi pertimbangan-pemikiran kita; mari kita mendengarkan dan lebih taat kepada kehendak Allah daripada pemikiran-pandangan kita pribadi.

Kontemplasi

Gambarkan bagaimana pertimbangan dan sikap Samuel menghadapi permintaan bangsa Israel untuk mengangkat seorang raja bagi mereka.

Refleksi

Bagaimana mengembangkan keutamaan dan ketaatan Samuel dalam hidupku? Apakah aku mendengarkan orang lain? Apakah aku juga mendengarkan Tuhan dan taat kepadaNya lebih dari pemikiran-pertimbanganku sendiri?

Doa

Ya Bapa, ajarilah aku taat sebagai PuteraMu taat pada kehendakMu, bahkan ketika ketaatan itu tidak mampun kucerna dengan pemikiran dan pertimbangan manusiawiku. Amin.

Perutusan

Dengarkankah setiap suara anggota keluarga, walaupun anda mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang kaya. Dan taatilah kehendak Allah lebih dari pertimbangan pribadimu.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Romo Aristanto MSF

Imam anggota Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF) dan tinggal di Skolastikat MSF di Banteng, Yogyakarta.

Loading...

Tulis gagasan

Please enter your comment!
Please enter your name here