Lentera Keluarga – Melayani Yang Menderita

Minggu, 4 Februari 2018.
Bacaan:  Ayb 7:1-4.6-7; Mzm 147:1-2.3-4.5-6; 1Kor 9:16-19.22-23; Mrk 1:29-39

Renungan

DAPAT kita gambarkan betapa penderitaan yang dialami oleh Ayub: seperti orang buruh yang rindu upah, seperti budak yang butuh naungan, seperti orang gelisah yang terjaga dan tidak bisa tidur, hari berat tanpa akhir serta menunggu saat-saat akhir yang panjang. Dapat dibayangkan pula bagaimana kondisi orang-orang yang datang kepada Yesus menjelang malam, kalau mereka tidak mengalami kesesakan dan penderitaan.

Bersentuhan dengan penderitaan orang lain kadang tidak mengenakkan. Tidak semua dari kita tahan mendengar keluhan, situasi sulit, sakit, putus asa, cemas, ketakutan, dan kelumpuhan kehendak. Hati kita tersentuh dan ikut berempati dengan mereka. Saya sebagai pendamping keluargapun kadang lelah menerima tamu dengan aneka persoalan, kadang juga ada keinginan untuk menghindar; kadang dering tilpun atau sms membawa asosiasi beban yaitu “perkara lagi”. Namun Tuhan mengatakan: mereka yang datang adalah berkat dan guru kehidupan.  Perlu cukup waktu untuk dapat “menikmati” membantu saudara-saudara yang sedang mengalami persoalan hidup.

Ketahanan dan kemampuan Yesus dalam bersentuhan dengan penderitaan sangat mengagumkan. Bukan hanya itu,  Ia pun berkata “datanglah semua kalian yang letih lesu dan berbeban berat..” Hidup Yesus banyak bersentuhan dengan penderitaan orang. Demikian juga Paulus; dalam pelayanannya ia banyak bersentuhan dengan penderitaan orang. Maka iapun berani mengatakan “upahku adalah mewartakan injil tanpa upah….aku menjadikan diriku hamba dari semua orang…bagi orang-orang yang lemah alu menjadi seperti orang lemah..”  Yesus dan Paulus memilih jalan berbeda dengan banyak orang. Ketika orang banyak memilih bersentuhan dengan glamour, kemewahan, sukacita, pesta, mereka memilih jalan untuk bersentuhan dengan penderitaan orang.

Inilah panggilan kita. Tuhan memanggil kita untuk berani bersentuhan dan akrab dengan penderitaan anggota keluarga kita, sahabat-sahabat kita dan orang-orang yang Tuhan kirimkan kepada kita. Setiap kali, kita diundang untuk bersyukur bahwa kita boleh merasul sebagai Tuhan Yesus lakukan, sebagaimana Paulus lakukan, sebagaimana para kudus lakukan. Penderitaan orang kadang menjadi guru bagi kita karena mengajarkan kepada kita nilai harapan, ketekunan dalam pergumulan dan kesetiaan pada iman.  Bersentuhan dengan penderitaan orang lain membawa kita juga untuk turut merasakan penderitaan Yesus Kristus bagi hidup kita.

Kontemplasi

Gambarkan bagaimana Tuhan Yesus dekat dan erat bersentuhan dengan penderitaan orang lain.

Refleksi

Apakah aku juga merangkul penderitaan orang lain dalam hidupku? Ataukah aku merasa terbebani karena penderitaan orang lain ataukah aku menjauh dan berlari daripadanya?

Doa

Ya Bapa, semoga aku lebih berani dan tulus seperti Yesus serta terbuka dengan membiarkan diriku bersentuhan dengan penderitaan orang lain.

Perutusan

Biarlah penderitaan orang lain menyentuh hatimu

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Romo Aristanto MSF Imam anggota Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF) dan tinggal di Skolastikat MSF di Banteng, Yogyakarta.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: