Lentera Keluarga – Me Time vs Pelayanan

Sabtu, 3 Februari 2018.
Bacaan:  1Raj 3:4-13; Mzm 119:9.10.11.12.13.14; Mrk 6:30-34

Renungan

SETELAH melakukan tugas misi, Yesus mengajak para muridNya untuk “ke tempat yang sunyi, sendirian dan istirahat sejenak”. Bahkan Injil Markus mengatakan bahwa “makanpun mereka tidak sempat”. Namun ketika rencana mereka tidak terlaksana, banyak orang berbondong mendahului Yesus , “tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala”. “Me Time” sering dibuat oleh Yesus baik sendirian ataupun bersama dengan muridNya. ” Ada kalanya Yesus benar-benar menarik diri dari pencarian orang banyak dengan “Me Time”; tetapi ada kalanya “Me Time” itu dikorbankan ketika di hadapanNya orang rindu untuk mendengarkan dan mengalami pemulihan hidup. Sebuah kombinasi hidup yang dikembangkan oleh Yesus dan murid-muridNya.

“Me Time” itu penting bagi kita sebagai pasangan suami isteri dan juga bagi keluarga. Dari beberapa survey diungkapkan bahwa di kota-kota besar hanya 30 % keluarga yang berkumpul lebih dari 14 jam per minggu; sementara 60% keluarga berkumpul kurang dari 14 jam per minggu.    Hal ini menyadarkan kita bahwa “Me Time” ini harus diciptakan, bukan disisakan dari waktu kita. “Me Time” pasutri itu ibarat “hari sabath” dimana kita beristirahat, menikmati kebersamaan dengan Tuhan dan dengan orang-orang terdekat kita. “Me Time” sebagai pasturi dan sebagai keluarga sangat besar manfaatnya bagi perkembangan relasi dan komunikasi antar anggota keluarga. Kurangnya “me time” tidak akan pernah kita dapat tebus dikemudian hari.

Tetapi belajar dari Yesus kitapun perlu menyadari bahwa  “Me Time” jangan dijadikan ideologi sehingga kita menutup mata terhadap kebutuhan orang lain yang ada di hadapan kita. “Me Time” bukan alasan untuk bersembunyi atau lari dari tanggungjawab sosial. Ada kalanya situasi “urgen”  atau “tuntutan pekerjaan” mendorong kita untuk memberi prioritas lebih pada tanggungjawab pekerjaan, sosial dan pelayanan. Tetapi situasi “urgen” itu tidak dapat terus menerus terjadi. Kita kadang juga perlu fokus: mengatakan cukup bagi waktu kerja  kita dan fokus dalam pelayanan.

Walaupun tidak ada rumusan yang tepat, kita perlu mengambil sikap bijak antara “Me Time” dan pelayanan/kerja.

Kontemplasi

Gambarkan bagaimana Yesus mengambil keputusan antara “Me Time” dan kebutuhan orang untuk dilayani.

Refleksi

Apakah aku punya waktu cukup bersama dengan pasangan dan keluargaku? Bagaimana aku dapat mengambil sikap yang tepat antara “Me Time” dengan kebutuhan pekerjaan ataupun pelayanan?

Doa

Ya Bapa, semoga aku menjadi semakin bijak untuk memilah dan memilih saat yang tepat untuk memprioritaskan “Me Time” atau menjawab kebutuhan pelayanan/tuntutan pekerjaan. Amin.

Perutusan

Ciptakanlah “Me Time” dengan tetap terbuka akan kebutuhan pelayanan/tuntutan pekerjaan; Dan jangan tenggelam dalam pekerjaan/pelayanan dan mengorbankan “Me Time” anda dengan pasangan ataupun dengan keluarga anda, karena waktu kebersamaan ini tidak akan bisa diputar kembali (Morist MSF)

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Romo Aristanto MSF Imam anggota Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF) dan tinggal di Skolastikat MSF di Banteng, Yogyakarta.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: