Lentera Keluarga – Kenajisan Dari Hati


Rabu, 7 Februari 2018.
Bacaan: 1Raj 10:1-10; Mzm 37:5-6.30-31.39-40; Mrk 7:14-23 


Renungan


SALAH satu pertanyaan yang sering ditanyakan adalah apakah kekristenan mengenal najis. Pernyataan Tuhan Yesus hari ini mengagetkan setiap pendengarnya bahkan murid-muridNya sendiri: ” Apa pun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang,  tidak dapat menajiskan dia! Tetapi apa yang keluar dari seseorang”


itulah yang menajiskannya!”  Najis biasanya berkaitan dengan kondisi ekstern. Najis dalam hal makanan disebut sebagai haram.


Najis itu dikaitkan dengan ketidakkudusan baik berkaitan dengan kondisi orang maupun sesuatu yang membuat orang dekat dengan Allah. Najis tidak selalu ada kaitannya dengan dosa.  Untuk “menguduskan kembali” orang atau sesuatu itu maka harus dikuduskan dengan upacara pemurnian.


Najis dalam makanan disebut sebagai haram. Kebiasaan Yahudi mengenal baik haram dan halal sebagaimana diajarkan dalam Kitab Imamat 11 dan Ulangan 14. Pertimbangan kekudusan itu adalah soal kesehatan, keengganan natural (kotor. jijik), atau konotasi binatang tertentu pada simbol berhala atau takhyul. Larangan memakan makanan haram itu berkaitan dengan  perintah Allah untuk menguduskan umatNya.


Tuhan Yesus memberikan sebuah pernyataan mendasar yaitu sumber dari kenajisan yang sifatnya intern, mulai dari hati yang didorong dan dikuasai oleh dosa. NBajis-haram tidak berbicara soal makanan, situasi atau sesuatu yang ektern. Dosa itulah inti yang membuat hidup manusia tidak bersih dan jauh dari Allah. Pemahaman merombak pemahaman agaman Yahudi tentang najis dan haram; bahkan juga sebagian orang kristen masih sulit untuk menerima; sehingga dengan mudah mengatakan bahwa sebuah perbuatan atau benda atau makanan sebagai haram dan dosa.


Pemahaman ini penting kita teruskan kepada keluarga kita. Kenajisan dan haram bukan berbicara soal makanan; tapi berkaitan dengan cara hidup kudus atau tidak kudus. Berkaitan dengan “apopun yang kita makan dan minum” kita berbicara mengenai menjaga kesehatan, memenuhi keperluan hidup secara baik dan kewajaran natural. Yang jelas Tuhan menghendaki kita hidup dengan cara sehat sebagai tanda syukur atas hadiah kehidupan yang Tuhan berikan bagi kita.


Kontemplasi


Gambarkan reaksi pada pendengar dan para murid Yesus ketika mendengar pertanyaan Tuhan mengenai najis dan haram.


Refleksi


Bagaimana aku menjaga kesehatanku dengan apa yang kumakan? Bagaimana pula caraku untuk tidak dikuasai oleh dorongan-dorongan dosa yang membuat aku jatuh dalam ketidakkudusan hidup?


Doa


Ya Bapa, semoga hatiku dijauhkan dari segala niat jahat dan dipenuhi oleh kasih akan Engkau dan sesama. Amin.


Perutusan


Jaga hati dari kenajisan  tetapi juga jaga makan dan kesehatan anda.


Kredit foto: Ilustrasi (Ist)


Romo Aristanto MSF

Imam anggota Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF) dan tinggal di Skolastikat MSF di Banteng, Yogyakarta.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: