Lentera Keluarga: Jumat, 18 Agustus 2017 – Ketegaran Hati


Bacaan: Yos 24:1-13; Mzm 136:1-3.16-18.21-22.24; Mat 19:3-12.


Renungan


PADA awalnya perkawinan adalah sebuah panggilan ilahi untuk menjadi satu daging. Namun disadari pula bahwa perkawinan ideal tidaklah ada. Di dalam perkawinan itu, kita bergumul melawan dosa dan kelemahan kita. Namun juga kadang berhadapan dengan “ketegaran hati” sebagaimana kutip Yesus dari Ulangan 24:1 dimana seorang laki-laki memberikan surat cerai kepada isterinya. Klausul  “kecuali karena zinah”, harus dipahami dalam konteks “ketegaran hati”. Namun pada awalnya tidaklah demikian. Di satu sisi Yesus memberikan ajaran yang indah tentang perkawinan, tetapi di lain sisi Yesus juga menunjukkan sikap pastoralnya berhadapan kerapuhan manusiawi yang mendasar yaitu : ketegaran hati. Yesus tetap mencari hal yang terbaik, terutama pada pihak korban, pada saat perkawinan berada dalam situasi sulit.


Membangun perkawinan tidaklah mudah karena mengandaikan kerjasama dua pribadi yang berbeda. Walaupun tidak mudah, tetapi hal itu indah. Dalam proses membagun satu daging itulah, kadang kerapuhan dan kelemahan pribadi  membayang dan menjadi peluang bagi dosa untuk menyusup dalam relasi. Apalagi jika kelemahan pribadi itu sampai pada tahap “ketegaran hati”.  Butuh waktu yang panjang untuk mengusahakan rekonsiliasi dan kadang hal itu tidak memungkinkan karena “ketegaran hati” salah satu pihak. Situasi ini menuntut dari kita kebijaksanaan Yesus: yang disatu sisi menggarisbawahi panggilan perkawinan, dan di lain sisi menunjukkan sikap pastoralnya untuk tetap mencari yang terbaik, terutama berpihak kepada korban. Inilah semangat yang digarisbawahi juga dalam Seruan Apostolik Amoris Laetitia: memahami, discerment dan integrasi.


Kontemplasi


Gambarkan bagaimana Yesus bersikap bijak atas kenyataan hidup perkawinan?


Refleksi


Bagaimana aku menghayati perkawinan sebagai sebuah panggilan untuk menjadi satu daging? Bagaimana aku mengatasi kerapuhan dan kelemahan pribadiku?


Doa 


Ya Bapa, berkatilah setiap suami isteri, terutama mereka yang sedang mengalami kesulitan, supaya semakin dimampukan hidup dalam panggilan kekudusan, menjadi satu daging. Amin.


Perutusan


Aku bersikap bijak dalam membantu mereka yang mengalami kesulitan dalam hidup perkawinan mereka.


Kredit foto: Ilustrasi (Ist)


Romo Aristanto MSF

Imam anggota Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF) dan tinggal di Skolastikat MSF di Banteng, Yogyakarta.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: