Lentera Keluarga: Jumat, 15 September 2017 – Sahabat Dalam Penderitaan


S.P Maria Berdukacita.
Bacaan: Ibr 5:7-9; Mzm 31:2-3a.3b-4.5-6.15-16.20; Yoh 19:25-27


Renungan


TIDAK terbayangkan apa yang dirasakan Bunda Maria ketika mendampingi Yesus, terutama pada saat sengsara dan wafat di Salib. Sebagai ibu, yang bersehati dengan Yesus, penderitaan yang dialami Yesus, juga menghancurkan perasaannya. Kebanyakan ibu mungkin histeris, berontak, kehilangan kendali bahkan mungkin pingsan menyaksikan anaknya yang tak bersalah diperlakukan semena-mena, dihina dan direndahkan. Tetapi Bunda Maria tampil sebagai wanita yang luar biasa. Ia tidak berdaya berbuat apapun untuk membela dan melepaskan Yesus . Yang bisa dibuatnya adalah ia menemani Yesus di saat-saat beratNya. Bunda Maria mampu menguasai diri, tidak tenggelam dalam kesedihan dan penderitaannya sendiri. Di dalam kelembutannya, ia adalah pribadi yang kuat berhadapan dengan penderitaan. Ia fokus pada Yesus Puteranya; hadir, dekat dan menguatkan hati Puteranya. Melihat hidup Maria, BundaNya yang luar biasa ini, Yesus menyerahkan BundaNya kepada muridNya, juga kepada kita.


Bunda Maria senantiasa mendampingi kita, terutama di saat-saat tersulit hidup kita sebagaimana kita serukan “doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati”.  Kita berbondong meminta pertolongan dan penyertaan Bunda Maria; tapi terkadang kita hanya ingin disertai dan ditolong menjadi sukses. Kita berhenti meminta tolong dan penyertaan Bunda Maria ketika kita tidak berhasil. Kita lupa apa yang telah kita doakan tadi “..sampai kami mati”; Bunda Maria tetap mendampingi kita juga pada saat-saat kita menderita dan tak berdaya bahkan ketika penderitaan itu membuat kita sampai pada titik “0” hidup kita.


Selain bersyukur atas Bunda Maria sebagai sahabat dan penghibur di dalam situasi tragis,  kitapun juga diundang untuk meneladannya. Kadang saudara-saudari kita yang mengalami penderitaan dan situasi tragis serta tak berdaya datang menjumpai kita. Kita memang tidak dapat melakukan apa-apa karena keterbatasan kita. Tetapi ketidakberdayaan kita, tidak boleh membuat kita lari dan menghindar. Kita masih menjadi teman, sahabat, penghibur dan penguat bagi saudara-saudara kita ini. Kita mengembangkan  “sense of tragic”. Kehadiran kita sudah membuat saudara-saudari kita menyadari bahwa ia tidak sendirian.


Kontemplasi


Gambarkan bagaimana kekuatan Bunda Maria ketika mendampingi Yesus di jalan salib sampai pada saat akhirNya.


Refleksi


Apakah aku memberikan diriku sebagai sahabat, penghibur dan penguat bagi saudara-saudaraku yang sedang mengalami penderitaan dan situasi tragis?


Doa 


Ya Bapa, aku bersyukur mempunyai Maria sebagai Bundaku. Ajar aku juga untuk menjadi sahabat bagi saudara-saudariku yang mengalami penderitaan dan situasi tragis dalam hidupnya. Amin.


Perutusan


Aku mendoakan ibuku yang telah menjadi sahabatku dan penghiburku di saat-saat sulit hidupku. Aku juga menyediakan diriku untuk menjadi sahabat bagi mereka yang mengalami penderitaan dan situasi tragis dalam hidupnya (Morist MSF)


Kredit foto: Ilustrasi (Ist)


Romo Aristanto MSF

Imam anggota Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF) dan tinggal di Skolastikat MSF di Banteng, Yogyakarta.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply