Lentera Keluarga – Aku Hamba Tuhan


Sabtu, 24 Maret 2018. Hari Raya Kabar Sukacita
Bacaan : Yes 7:10-14;8:10; Mzm 40:7-8a.8b-9.10.11;  Ibr 10:4-10; Luk 1:26-38


Renungan


KEBERANIAN Maria yang masih sangat muda dalam menjawab panggilan dan rencana Allah sungguh mengagumkan “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; terjadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Sebuah keputusan iman yang tidak mudah dan beresiko tetapi Maria mampu mengambilnya karena ia “..beroleh kasih karunia di hadapan Allah.” Dari “ya” Maria ini tergenapi apa yang diungkapkan dalam nubuat nabi Yesaya dan hal itu ditegaskan oleh Paulus dalam suratnya kepada jemaat Galatia tentang Karya Keselamatan Allah yang membahagiakan.


Kerap kali dalam hidup beriman kita mudah mengatakan “ya” dan “amin” jika Tuhan mengutus kita untuk tugas perutusan atau pelayanan yang membahagiakan dan tidak membawa kita pada resiko. Dan dengan mudah kita ragu ketika tugas perutusan dan pelayanan yang kita terima itu beresiko dan tidak membuat kita nyaman. Biasanya banyak catatan atau syarat yang kita berikan. Tindakan iman membawa kita untuk meninggalkan “rasa aman” kita memasuki zona beresiko, dimana hanya Tuhan yang dapat kita andalkan. Tindakan iman membuat kita melupakan diri kita sendiri dan hanya  taat dan setia. Bagi kita mungkin Tuhan terasa memimpin kita ke padang gurun, tetapi senyatanya Tuhan mau membawa kita memasuki tanah subur dengan melewati padang gurun.


Hidup perkawinan dan berkeluarga selalu ada pasang dan surut baik dalam relasi maupun dalam kondisi ekonomi. Komitmen dan ketaatan kita ditantang ketika relasi dan situasi keluarga kita mengalami “desolasi” dan krisis  dalam hidup.  Kita perlu belajar dari Maria, yang masih sangat muda itu, dan berani mengatakan dengan iman “aku ini hamba Tuhan. Terjadilah padaku menurut perkataanMu”.  Mari kita belajar taat dan setia ketika tanganNya menuntun kita untuk melalui krisis. Sampai kapan kita harus melaluinya janganlah kita hitung; tetapi marilah kita semakin kuat memegang tangan Tuhan.


Kontemplasi


Gambarkan bagaimana Maria yang masih sangat muda itu mengambil keputusan iman yang membuka pintu keselamatan.


Refleksi


Bagaimana sikapku ketika Tuhan menuntut aku melewati padang gurun hidup? Apakah aku percaya pada rencanaNya dan berani menginggalkan diriku sendiri?


Doa


Ya Bapa, seperti Maria, akupun berseru kepadaMu “aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu”.


Perutusan


Peganglah tangan Tuhan dengan kuat ketika anda berada dalam situasi krisis



Kredit foto: Ilustrasi (Ist)


Romo Aristanto MSF

Imam anggota Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF) dan tinggal di Skolastikat MSF di Banteng, Yogyakarta.

Sumber: Sesawi

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: