Lebih Dekat dengan Mgr. Benedictus Estephanus Rolly Untu MSC, Uskup Keuskupan Manado Terpilih (1)

Uskup Keuskupan Manado Terpilih Mgr. Benedictus Estephanus Rolly Untu MSC. (Yohanes Indra/Dokpen KWI)

Pengantar

PAUS Fransiskus pada 12 April 2017 telah mengumumkan penunjukan uskup baru untuk Keuskupan Manado. Uskup baru yang ditunjuk tersebut adalah Pastor Benedictus Estephanus Rolly Untu MSC,  imam anggota Tarekat Hati Kudus Yesus.

Pastor Rolly, begitu ia biasa disapa sebagai imam, akanmenggantikan Uskup Keuskupan Manado Mgr. Joseph Theodorus Suwatan MSC yang telah memimpin Keuskupan Manado selama lebih kurang 27 tahun sejak 29 Juni 1990. Pengumuman Takhta Suci ini dibacakan langsung oleh Uskup Manado saat ini –Mgr. Joseph Theodorus Suwatan– dalam Misa Krismatis atau sehari menjelang Kamis Putih di Gereja Hati Tersuci Maria Katedral Manado.

Pada 9 Juni 2017 nanti,  Mgr. Rolly akan disambut secara resmi di Bandara Sam Ratulangi, Manado dengan tarian Kabasaran serta prosesi semarak lainnya. Dua hari menjelang penyambutan resmi Uskup Terpilih Keuskupan Manado ini, beliau menyempatkan waktu untuk bincang-bincang bersama Harini B dan Yohanes Indra dari  Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI (www.dokpenkwi.org).

Bincang-bincang rileks ini berlangsung selama hampir 1,5 jam dan ini terjadi di ruang rekreasi Provinsialat MSC, Jakarta Barat, dalam suasana santai.

Berikut petikannya:

T: Bagaimana reaksi pertama Bapak Uskup, ketika Nuntio Duta Besar Tahta Suci Vatikan Mgr. Antonio Guido Filipazzi akhirnya memberitahu Mgr. Rolly telah terpilih menjadi Uskup Manado? Apalagi waktu itu sudah pernah ada hoax yang viral tentang hal ini?

J: Sesudah melepas jabatan sebagai pemimpin Tarekat Hati Kudus Yesus (MSC) di bulan Januari 2017,  saya sudah bersiap untuk mengemban tugas baru yang diberikan oleh pemimpin MSC yang baru. Saya juga sudah tidak memperhitungkan lagi tentang hoax penunjukan saya sebagai Uskup Manado yang pernah beredar di linimasa grup pada penghujung 2016 tersebut.

Tetapi, ternyata pada tanggal 8 April 2017 saya mendapat panggilan dari Nuntio. Saya merasa kaget dan sempat bertanya-tanya dalam hati ada apa ini. Di sana, Duta Besar Tahta Suci menyampaikan bahwa saya telah ditunjuk Paus Fransiskus menjadi Uskup Manado.

Saya kaget,  karena merasa sebagai manusia yang lemah.  Dalam hal kepemimpinan pun saya masih memiliki kelemahan. Saya merasa ada orang lain yang lebih pantas, lebih mampu dan lebih siap untuk menjalankan tugas itu, kenapa harus saya.

Ada pergumulan dalam batin saya saat itu.

Pada waktu itu pun saya berpikir  bahwa sudah saatnya imam diosesan Manado menjadi uskup karena selama ini selalu MSC dan MSC. Apalagi dengan konteks jumlah imam diosesan yang semakin banyak, saya percaya ada yang bisa menjadi uskup. Dengan jumlah  imam diosesan yang saat ini sudah besar pasti dukungannya juga lebih besar.

Maka,  saya menyampaikan keberatan kepada Nuntio,  termasuk kelemahan-kelemahan saya dalam kepemimpinan. Saya juga mengatakan bahwa ada banyak imam diosesan dan calon-calon lain yang mampu untuk itu. Untuk pertimbangan lebih banyak,  saya minta waktu kepada Nuntio dan beliau memberi waktu dua hari untuk merenung dan menimbang-nimbang.

Namun demikian, sebagai misionaris dan pemimpin religius, kami biasa mengatakan ‘boleh keberatan, tetapi tidak boleh menolak’.

Prinsip inilah yang saya pegang ketika akhirnya saya mengatakan “ya” untuk penunjukan tersebut.

Tentang hoax sendiri, bagi saya tidak gampang untuk menjawab segala pertanyaan yang berseliweran selama ini sejak munculnya hoax tersebut. Saya tidak tahu darimana asalnya dan itu bisa muncul dari mana saja, padahal waktu itu belum ada panggilan dari Duta Besar Tahta Suci. Supaya saya tidak terpancing atau terpengaruh atas jawaban yang saya ambil, saya hanya mengatakan “sejauh saya tahu belum ada berita resmi dari Vatikan.”

Begitu jawaban saya kalau ada orang menanyakan kebenaran hoax tersebut.

Namun, saya membaca hoax yang beredar waktu itu sebagai hal positif. Itu berarti tumbuhnya harapan dan kerinduan orang akan adanya suatu pergantian karena Mgr. Suwatan sudah hampir dua tahun mengundurkan diri dan belum tampak adanya tanda-tanda pengganti. Maka, wajar kalau kerinduan itu muncul. Yang tidak wajar adalah dengan cara membuat hoax.

T: Bagaimana reaksi keluarga dan teman-teman mendengar berita bahagia ini?

Saya mendapat surat dari Nunciatura pada hari Rabu, 12 April 2017 pukul 17.00 sore WIB atau pukul 12 siang waktu Vatikan, dan pukul 18.00  WITA di Manado. Pada waktu itu.  pas tengah berlangsung Misa Krismatis menjelang Tri Hari Suci di Gereja Katedral Manado. Pada awal misa,  kabar  penunjukan saya sebagai uskup Manado akhirnya diumumkan oleh Mgr. Yoseph Suwatan.

Sementara itu, saya sendiri pada waktu itu masih ada di Jakarta dalam rangka liburan, selain datang khusus untuk bertemu Duta Besar Tahhta Suci.

Orang pertama yang mengucapkan proficiat adalah Mgr. Ignatius Suharyo. Beliau mengatakan pada saya: “Proficiat Bapak Uskup. Selamat memikul salib.”

Saya kaget dengan ucapan itu karena beliau adalah orang yang berpengalaman, punya bobot, punya sejarah dan cerita. Pasti beliau memiliki maksud dengan ucapan selamat demikian itu.

Sementara itu, teman-teman imam MSC di Provinsialat tidak ada yang tahu. Itu karena mereka hanya tahu bahwa saya tengah liburan di Jakarta. Teman-teman imam hanya menduga-duga kedatangan saya waktu itu karena saya tidak mengatakan apa pun kepada mereka.

Semua orang di Provinsialat merasa kaget dengan surat penunjukan Bapa Suci yang saya berikan secara tiba-tiba pada sore itu. Biasanya mereka sudah mempersiapkan sesuatu untuk menyambut rekan imam yang menjadi uskup baru.

Kepada keluarga besar saya di Manado saya hanya mengatakan bahwa berita penunjukan saya sebagai Uskup Keuskupan Manado itu sekarang benar, kalau yang dulu itu hoax.

PS: Berita lebih lengkap dan detil  mengenai bincang-bincang ini bisa diakses di http://www.dokpenkwi.org/2017/06/09/mgr-benedictus-estephanus-rolly-untu-msc-kenal-lebih-dekat-sosok-uskup-manado-terpilih-1/

Sumber: Sesawi.net

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply