Lebih Baik Bersyukur

Ayat bacaan: Roma 12:18
=======================
“Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!”

lebih baik bersyukur

Make the world as a better place. Impian menjadikan dunia sebagai tempat yang lebih nyaman pasti menjadi impian semua orang. Kita menyesalkan berbagai peperangan, perselisihan, pertikaian yang terjadi di mana-mana, sementara kita lupa bahwa kita pun sebenarnya punya andil yang tidak kalah penting dalam membuat dunia ini menjadi lebih nyaman atau semakin buruk untuk ditinggali. Bagaimana bisa? Bukankah kita tidak berperang dengan orang lain? Mungkin kita tidak sedang berperang melawan orang, itu benar, tapi secara tidak sadar kita seringkali dengan mudahnya memupuk kebencian terhadap orang lain. Kita mudah marah dan gampang mengeluarkan kata-kata yang penuh dengan caci maki, menghujat atau mengomentari orang lain dengan sinis. Kita mudah untuk merasa iri terhadap kesuksesan orang lain, bahkan tidak sedikit orang yang berlaku kasar kepada istri dan anak-anaknya sendiri. Alasan stres kerja, tekanan di kantor dan sebagainya bisa jadi dipakai sebagai alasan pembenaran tindakan yang sama sekali tidak baik ini. Kita lebih mudah mengkritik ketimbang memuji. Kita lebih mudah untuk sinis ketimbang dengan tulus mengakui kelebihan orang lain. Jika demikian, bagaimana mungkin kita bisa memimpikan sebuah tatanan dunia yang ramah, damai dan penuh kasih, jika kita sendiri tidak bisa melakukan sesuatu untuk itu?

Sesungguhnya pesan Tuhan begitu jelas bagi kita. Apapun alasannya, kita selalu dianjurkan untuk berdamai. Dan ini berlaku untuk kita jalankan kepada siapapun tanpa terkecuali. Firman Tuhan berkata: “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!” (Roma 12:18). Dengan semua orang. Bukan hanya kepada saudara/saudari seiman, tetapi semua orang, termasuk dengan orang yang berbeda, orang yang sulit, bahkan orang yang menyinggung atau menyakiti kita sekalipun. Karena berdamai dengan orang baik tentu gampang, tapi untuk bisa tetap menjaga perdamaian dengan orang yang sulit untuk diajak akur, itulah yang sulit, dan justru itu yang harus mampu kita lakukan. Mengapa demikian? Sebab tidak ada tempat bagi pemarah, pendendam, sirik, iri hati dan hal-hal jeleknya dalam kasih, hal esensial yang menjadi inti dasar dari kekristenan. “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.” (1 Korintus 13:4-7).

Dalam Efesus kita menjumpai firman Tuhan yang berbunyi: “Demikian juga perkataan yang kotor, yang kosong atau yang sembrono–karena hal-hal ini tidak pantas--tetapi sebaliknya ucapkanlah syukur. (Efesus 5:4). Ya, bukankah jauh lebih baik bagi kita untuk mengucap syukur ketimbang mengeluarkan kata-kata sia-sia atau hujatan, cacian dan makian? Harus kita sadari bahwa memang dari mulut yang sama bisa keluar keduanya. Dan Alkitab dengan tegas mengingatkan kita bahwa apa yang keluar dari mulut kita berasal dari hati. “Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya.” (Lukas 6:45). Dalam kesempatan lain Yesus kembali berkata: “Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang.” (Matius 15:18). Oleh karena itulah untuk mencegah diri kita untuk terus dikuasai kebencian, iri hati dan emosi, kita harus mampu menjaga hati kita. Mengucap syukur, menaikkan pujian kepada Tuhan, akan membuat hati kita senantiasa dalam kondisi sejuk sehingga yang keluar dari mulut kita pun bukan lagi hal-hal jelek yang mampu membuat kita semakin jauh dari kata damai terhadap orang-orang di sekeliling kita.

Jika diantara kita ada yang terbiasa untuk berbicara kasar, membiarkan diri dikuasai kebencian dan iri hati, mulailah mengubah kebiasaan itu sekarang juga. Bila ada orang yang menyakiti, merugikan atau merintangi anda di kantor, di sekolah atau di mana saja, dan itu mulai membuat anda tergoda untuk segera mencabik-cabik mereka, mengumpat dengan kata-kata kasar atau mendendam, segera kuasai diri anda. Luangkan waktu sesegera mungkin untuk mengucap syukur dan memuji Tuhan. Segera pikirkan segala kebaikan Tuhan. Segera penuhi hati anda dengan ucapan syukur, dan itu akan selalu mampu membuat anda tenang kembali dan terhindar dari kebencian kepada siapapun, termasuk kepada orang yang menyakiti anda secara langsung. Adalah penting bagi kita untuk terus menjaga hati kita agar tetap dalam kondisi yang tepat di mata Tuhan. Tidak heran jika pesan Paulus pun mengingatkan hal ini. “Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur.” (Kolose 4:2). Mari kita senantiasa melatih lidah kita untuk menaikkan pujian, mengisi hati kita selalu dengan kebaikan Tuhan yang mampu membuat mulut kita mengeluarkan ucapan syukur dalam situasi dan kondisi apapun. Hidup berdamai tidak akan sulit lagi bagi kita, meski ketika berhadapan dengan orang-orang yang luar biasa sulit sekalipun. Ingin dunia menjadi tempat tinggal yang nyaman? Mulailah dari diri kita sendiri.

“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (1 Tesalonika 5:18)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: