Layang-Layang

Ayat bacaan: Yakobus 4:10
=========================
“Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu.”

layang layang

Melihat anak-anak bermain layang-layang memang terkadang mengasyikkan. Saya jadi ingat masa ketika saya kecil dan bermain seperti mereka, menerbangkan layang-layang bersama adik dan ayah saya. Layang-layang akan secara perlahan naik semakin tinggi, membumbung di angkasa, melayang dengan indahnya ke kiri dan kanan. Layang-layang akan tetap terjaga posisinya, tetap di atas jika kita pintar mengendalikannya dari bawah. Artinya, layang-layang itu akan bisa terbang dengan megahnya jika ia masih terkait pada seutas benang yang kita kendalikan. Mungkin layang-layang ingin bisa bebas tanpa terikat lagi, dan mengira bahwa ia akan bisa terbang sebebas-bebasnya jika tidak lagi terpaut pada benang. Tapi jika lepas sepenuhnya, yang terjadi justru sebaliknya.Apa yang terjadi ketika benang itu putus? Layang-layang itu bukannya akan terus terbang semakin tinggi, tapi akan segera jatuh ke bawah, dan seringkali menjadi akhir dari perjalanan sebuah layang-layang. Sobek terkena pagar, dahan pohon dan sebagainya, hancur jatuh ke selokan atau lumpur, dan sebagainya.

Hal ini mengingatkan saya pada hakekatnya hidup kita. Kita seringkali merasa terbelenggu oleh peraturan-peraturan atau batasan-batasan seperti yang telah digariskan Tuhan. Kita merasa bahwa kebebasan kita terbelenggu, seolah-olah kita dilarang untuk menikmati sesuatu yang menyenangkan, yang mungkin sedang berlangsung di sekitar kita. Apa yang ditawarkan dunia memang seringkali terlihat menyenangkan, namun dibalik itu semua terdapat banyak jebakan yang siap membawa kita jatuh ke dalam jurang dosa. Kita terkadang berkompromi, memutuskan “benang” dengan Tuhan, dan mengira bahwa segala kenyamanan yang ditawarkan oleh dunia akan lebih memuaskan ketimbang terbelenggu ke dalam peraturan dan batasan yang berasal dari Tuhan. Tapi kemudian seperti layang-layang, kita pun akan jatuh semakin jauh. Ada banyak orang yang terlena ke dalam apa yang dianggap memberi kesenangan, namun pada suatu ketika mereka tiba-tiba menyadari bahwa kehancuran ada di depan mata. Penyesalan pun datang, namun bisa jadi sudah terlambat.

Tuhan membuat segenap aturan dan batasan bagi kita semua seperti yang dimuat di sepanjang isi Alkitab yang tebal bukan untuk membuat kita menderita, tapi justru agar kita bisa menapak di jalan yang benar, terus naik hingga bisa mencapai sebuah keselamatan kekal yang penuh dengan sukacita. Yakobus menggambarkannya demikian: “Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu.” (Yakobus 4:10). Seperti halnya layang-layang, keinginan untuk lepas dari benang bukannya akan semakin meninggikan terbangnya, tapi justru membawanya untuk berakhir terhempas ke tanah. Sebaliknya dengan seutas benang yang baik, di tangan orang yang baik, justru layangan akan terus bisa menapak naik semakin tinggi. Seperti itu pula kita dalam dunia ini. Di tangan Tuhan ada rencana yang terindah dan terbaik yang telah Dia sediakan bagi kita. Berada di tangan yang baik akan membuat kita terjaga dan terus menjadi semakin baik, semakin tinggi dari hari ke hari. ada batasan dan peraturan yang digariskan Tuhan, bagaikan benang yang mengikat kita, tapi itu semua bertujuan agar kita terhindar dari kebinasaan, agar kita tidak tenggelam dalam jurang kesesatan yang tidak akan pernah membawa kita semakin tinggi, tapi justru sebaliknya semakin rendah.

“Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci.” (Roma 15:4). Ada begitu banyak keteladanan atau pelajaran yang bisa kita peroleh dengan membaca Alkitab. Kita bisa melihat bagaimana pengharapan dan ketekunan akan sanggup membawa sebuah perbedaan, kita bisa belajar dari orang-orang yang tergelincir, namun kemudian kembali menapak naik, kita bisa melihat bagaimana penyertaan Tuhan membawa sebuah hasil gemilang, bahkan kita bisa belajar dari orang-orang yang ternyata salah jalan hingga menemui kebinasaan. Semua itu sudah tertulis bagi kita agar kita bisa belajar untuk mengetahui apa saja yang menjadi batasan dan aturan untuk hidup benar, kudus dan taat sesuai dengan kehendak Tuhan. Semua itu bukanlah ditujukan untuk menyiksa kita, tapi justru agar kita semua terhindar dari berbagai jebakan yang ditawarkan dunia dan bisa mencapai garis akhir yang gemilang. Berpeganglah selalu kepada firman Tuhan, bacalah dan renungkanlah senantiasa, maka seperti apa yang dikatakan Pemazmur, inilah yang akan terjadi pada kita: “Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” (Mazmur 1:3). Itu janji Tuhan kepada setiap anak-anakNya yang taat, yang tidak terpengaruh kepada berbagai kesesatan yang ditawarkan dunia dengan segala pernak-pernik atau polesan yang terlihat indah. Seperti layang-layang, kita akan jatuh menuju kebinasaan apabila kita tidak terus berpegang teguh kepada Tuhan. Hanya Dia yang sanggup menjaga kita untuk tetap naik, mencapai keberhasilan demi keberhasilan. DitanganNya kita akan mampu menjadi pemenang, bahkan lebih dari pemenang. (Roma 8:37). Apakah kita ingin terus semakin tinggi, atau ingin menikmati kesenangan sesaat lalu kemudian berakhir sia-sia dengan penyesalan, itu tergantung dari bagaimana kita menyerahkan diri kepada seutas benang yang tersambung kepada Tuhan. Oleh karena itu, pastikan bahwa benang yang menghubungkan kita dengan Tuhan jangan sampai putus. Tuhan memberkati.

Peraturan dari Tuhan bukan dibuat untuk menyiksa namun sebaiknya mengarahkan kita kepada keselamatan

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: