Lari dari Panggilan Tuhan

Ayat bacaan: Yunus 1:2-3
======================
“Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku. Tetapi Yunus bersiap untuk melarikan diri ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN; ia pergi ke Yafo dan mendapat di sana sebuah kapal, yang akan berangkat ke Tarsis. Ia membayar biaya perjalanannya, lalu naik kapal itu untuk berlayar bersama-sama dengan mereka ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN.”

lari dari panggilan TuhanLari dari panggilan. Kita sering melakukan hal ini dalam berbagai kesempatan. Mungkin kita merasa kurang mampu, mungkin kita kurang percaya diri, mungkin kita merasa beban itu terlalu berat atau segudang alasan lainnya. Untuk menjawab panggilan memang tidak mudah. Seringkali kita harus meninggalkan zona kenyamanan kita bahkan mengorbankan sesuatu dan masuk ke dalam situasi sulit ketika kita memilih untuk patuh terhadap panggilan. Tapi kita juga tidak boleh lupa bahwa sebuah panggilan bisa menjadi sebuah titik balik yang bisa mengubahkan hidup kita untuk menapak ke arah yang lebih baik. Ketika saya mendapat panggilan untuk menulis renungan setiap hari, saya merasa itu adalah hal yang tidak masuk akal. Bagaimana mungkin saya yang sangat jarang membuka Alkitab, malah jarang berdoa, disuruh untuk melakukan sesuatu yang seperti ini? Apa yang bisa saya tulis jika saya tidak mengetahui sebagian besar dari isi Alkitab? Tapi saya memilih untuk taat. Setiap hari saya meluangkan waktu di tengah kesibukan untuk memastikan renungan hadir bagi anda tanpa putus, dan tidak terasa sudah lebih dua tahun saya melakukannya. Bukan karena diri saya sendiri, tapi Tuhan yang memampukan. Selalu saja ada hal yang Dia bukakan untuk ditulis, seperti janjiNya. Dan tidak hanya itu, selama saya aktif menulis, saya mengalami dan menyaksikan begitu banyak mukjizat yang tidak akan mampu terselami akal manusia. Saya pun melihat langsung bahwa ketika Tuhan memberi penugasan, bukan kehebatan kita yang Dia butuhkan, melainkan kesediaan kita. And He, Himself will do the work, through us. All He need is our willingness, obedience and faith.

Apa yang harus kita lakukan ketika Tuhan memanggil kita untuk melakukan sesuatu? Menerima dengan sukacita atau malah lari? Apa yang iperintahkan Tuhan sungguh jelas. Tuhan menginginkan kita untuk taat terhadap panggilanNya. Dia yang menyatakan apa yang harus kita lakukan, kemana harus pergi dan seperti apa kita harus bertindak. Tidak hanya sampai disitu saja, Tuhan pun akan menyediakan cara untuk melaksanakan perintah itu. It’s all in one package. Melarikan diri jelas bukan pilihan, karena biar bagaimanapun Tuhan akan memakai caraNya untuk menundukkan kekerasan orang-orang yang dipilihNya, baik dengan cara lembut maupun dengan didikan yang keras. Yunus mengalami hal itu.

Yunus mendapatkan panggilan secara spesifik dari Tuhan. “Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku.” (Yunus 1:2). “Niniwe, kota yang begitu jahat. Untuk apa diselamatkan? Dan untuk apa pula aku harus repot-repot menghadapi resiko untuk menyelamatkan kota yang seperti itu?” seperti itulah kira-kira isi pikiran Yunus saat itu. Dan ia pun memutuskan untuk lari. Lari dari Tuhan? Mungkinkah? Kita tahu tidak, tapi Yunus mengira ia bisa lari dari panggilan, dan lari dari Tuhan. Dan inilah yang dilakukan Yunus. “Tetapi Yunus bersiap untuk melarikan diri ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN; ia pergi ke Yafo dan mendapat di sana sebuah kapal, yang akan berangkat ke Tarsis. Ia membayar biaya perjalanannya, lalu naik kapal itu untuk berlayar bersama-sama dengan mereka ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN.” (ay 3). Ini sebuah pilihan yang gegabah, karena kita tahu ia kemudian mengalami badai besar di tengah perjalanan dan mendarat di dalam perut ikan yang pasti berbau sangat busuk. Bukan hanya satu dua jam, tetapi hingga tiga hari tiga malam lamanya. (ay 17). Pada akhirnya Yunus menyadari bahwa ia tidak punya pilihan lain selain harus taat, karena Tuhan akan memakai caraNya baik lembut maupun keras untuk menundukkan orang-orang yang sudah ditetapkan untuk dipilihNya.

Perlukah kita mengalami masalah terlebih dahulu untuk mau menuruti panggilan Tuhan? Haruskah kita terlebih dahulu diberi pelajaran untuk taat? Dari Yunus kita bisa belajar bahwa lari dari Tuhan bukanlah solusi. Lari dari panggilan Tuhan tidak akan membuat kita bebas dari perintahNya. Apakah kita memilih untuk menolak dengan tegas atau dengan diam-diam berusaha melepaskan diri dari panggilan Tuhan, kita tidak akan bisa meredam panggilanNya.Tuhan secara tegas sudah menyatakan bahwa bukan kita yang memilih Dia, tetapi Dia lah yang telah memilih kita. Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. (Yohanes 15:16). Lihatlah dari ayat ini bahwa dibalik panggilanNya yang sudah Dia tetapkan sejak awal, Dia pun telah menyiapkan berkat-berkatNya untuk tercurah pada kita. Sesungguhnya panggilan dari Tuhan merupakan sebuah kehormatan. Paulus mengakui pula hal ini kepada jemaat Galatia. “Tetapi karena kebaikan hati Allah, Ia memilih saya sebelum saya lahir dan memanggil saya untuk melayani Dia.” (Galatia 1:15). It’s a God’s grace indeed, and it’s truly an honor.

Mungkin tidak gampang, mungkin berat, namun belajarlah taat terhadap panggilanNya. Sebab bukan kuat dan hebatnya kita yang diperlukan, namun kerelaan hati dan kesediaan kita untuk menuruti kehendak Tuhan karena kita mengasihiNya. Kepada Yeremia pun Tuhan mengingatkan: “Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan. Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN.” (Yeremia 1:7-8). Ketika Tuhan menyuruh, sebenarnya Dia sendirilah yang bekerja dengan memakai kita. Tuhan tidak membutuhkan ahli-ahli dan jagoan. Yang Dia butuhkan adalah orang yang memiliki hati yang rindu untuk mengasihi orang lain, yang dengan sukacita menuruti panggilanNya. Yunus sudah melakukan hal yang keliru, dan ia pun sudah mendapatkan pelajaran. Jangan lari dari panggilanNya. Taatlah sejak awal ketika Tuhan menanamkan sesuatu dalam diri anda untuk dikerjakan. Find your calling and do it the best you can. Jangan sampai kita mengulangi kekeliruan Yunus terlebih dahulu untuk taat kepadaNya.

Adalah sebuah kehormatan besar ketika Tuhan mau memakai kita, karena itu bersyukurlah dan lakukan yang terbaik dengan penuh sukacita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: