Larantuka, Flores: Panen Padi dalam Kemasan Pesta Adat Kereya

Pesta Adat Kereya 5JAUH sebelum agama Katolik masuk dan dikenal di daratan Flores, masyarakat Flores sudah menghidupi tradisi adat-istiadat lamaholot yang menjadi pegangan hidup mereka. Salah satu tradisi yang sampai sekarang masih dilakukan adalah Pesta Adat Kereya. Kereya merupakan upacara adat terakhir yang biasanya dilakukan saat padi sudah mulai menguning dan siap untuk dipetik. Rangkaian upacaranya diawali dengan terlebih dahulu membuka kebun yang baru, lalu membagi-bagikan tangah garapan itu pada orang yang mau menggarap. Bila tanah garapan itu telah ditanami tanaman, mereka tidak lupa membuka jalan. Bila akhirnya masa panen tiba, panenan yang dipetik pertama kali itulah yang dirayakan. Eputobi dan Raingduli Beberapa waktu yang lalu, saya mendapat kesempatan mengikuti pesta adat kereya di kebun daerah Eputobi dan Raingduli. Jalan masuk ke kebun rupanya cukup jauh. Sampai di kebun itu, saya bersama beberapa orang bekerjasama membuat lumbung padi. Menurut kepercayaan mereka, jika lumbung ini terisi penuh dengan padi maka pasti diadakan pesta yang jauh lebih besar lagi dari hari ini. Pintu lumbung padi pun harus menghadap ke gunung. Pesta Kereya Menurut kepercayaan, leluhur mereka gersiktuli mendapat kehidupan dari gunung. Hal ini mengingatkan saya pada masyarakat lereng Gunung Merapi di Yogyakarta yang memandang Merapi sebagai Si Embah yang memberi kehidupan. Di kebun yang dijadikan tempat upacara kereya itu, saya berkesempatan duduk di dekat buang punang yang telah dibuat sehari sebelumnya dan berfungsi sebagai tempat mesbah atau altar. Setelah semua mati (dalam tradisi Jawa: besek) dari semua kebun terkumpul, mulailah ketua adat membawakan doa yang diikuti oleh semua laki-laki yang ada di sekitarnya. Setelah mereka doa, mati itu dibawa kembali oleh pemilik-pemilik kebun. Sementara itu, kaum perempuan mulai mempersiapkan rengki (nasi berbentuk kerucut). Di sela-sela persiapan rengki itu, beberapa tokoh adat mengadakan upacara ute lakang. Seturut penuturan mereka, upacara ini dimaksudkan supaya ketika memetik padi tidak cepat-cepat habis. Setelah semua rangkaian upacara kereya itu selesai, tibalah bagi kami semua untuk makan bersama. Waktu itu sudah sore hari. Saya dan beberapa orang yang dikelompokkan sebagai pihak blake mendapat kesempatan untuk makan rengki yang pertama dengan daging ayam yang berjumlah sembilan, satu kepala, dua paha, satu hati dan beberapa makanan yang lain. Setelah pihak blake, giliran pihak bine anak yang makan dengan ikan. Demikian dilanjutkan dengan gelombang ketiga atau terakhir yang adalah para tokoh adat. Hal menarik lainnya yang saya alami adalah melihat kue adat bolo’k cuco (kue cucur) yang terbuat dari tepung beras dengan ukuran besar-besar menyesuaikan dengan rengki-nya. Menurut penuturan mereka, dulu ketika ada upacara kereya, bolo’k cuco menjadi sarana untuk mengungkapkan rasa cinta seorang pemuda kepada seorang pemudi. Jika cintanya diterima, ia akan mendapat balasan berupa cincin, gelang atau sapu tangan. Jika satu hari sebelum upacara kereya banyak umat keluarga tidur di kebun, maka setelah upacara kereya semua wajib untuk pulang. Kami semua pulang ketika hari sudah mulai malam. Nogo Gunung Upacara kereya memperlihatkan penghargaan dan penghormatan masyarakat lamaholot pada Nogo Gunung yang dipercaya menjadi padi dan jagung. Nogo Gunung dipercaya memberi penghidupan dan penghasilan untuk menopang kehidupan warga. Kesatuan mereka dengan alam itu mempersatukan keluarga mereka dengan segala perbedaan dan bahkan mengembangkan gerak solidaritas. Semangat mereka begitu luar biasa dan memperlihatkan ikatan kesatuan mereka satu sama lain. Upacara adat seputar dunia pertanian selalu menarik. Seperti ikatan cinta pemuda dan pemudi, masyarakat adat memiliki “ikatan cinta” pada semesta alam. Mereka tidak mengalami kesulitan menjalin persahabatan dengan alam. Alam mengajarkan banyak nilai luhur. Upacara kereya akan terus terjadi bila alam terus diselamatkan, dipelihara dan dijaga kelestariannya. Semua yang hidup mempunyai tempat yang penting bagi kelangsungan dan kedamaian semua mahkluk. Untuk itu gerakan dan penyadaran cinta lingkungan hidup dan tindakan penyelamatannya perlu selalu dijalankan. Dewasa ini semangat kesatuan hati itu sedikit memudar karena berkembangnya semangat individualisme, egoisme yang mulai mewarnai kehidupan ini. Masyarakat lamaholot perlu menemukan kembali nilai-nilai warisan leluhur yang baik dari tradisi kereya untuk dipertahankan dan dijaga sesuai perkembangan zaman. Kredit foto: Pesta Panen Pade Kereya di Larantuka (Dok. Romo A. Rinanto Herdianto MSF)  

Pesta Adat Kereya 5

JAUH sebelum agama Katolik masuk dan dikenal di daratan Flores, masyarakat Flores sudah menghidupi tradisi adat-istiadat lamaholot yang menjadi pegangan hidup mereka. Salah satu tradisi yang sampai sekarang masih dilakukan adalah Pesta Adat Kereya.

Kereya merupakan upacara adat terakhir yang biasanya dilakukan saat padi sudah mulai menguning dan siap untuk dipetik.

Rangkaian upacaranya diawali dengan terlebih dahulu membuka kebun yang baru, lalu membagi-bagikan tangah garapan itu pada orang yang mau menggarap. Bila tanah garapan itu telah ditanami tanaman, mereka tidak lupa membuka jalan. Bila akhirnya masa panen tiba, panenan yang dipetik pertama kali itulah yang dirayakan.

Eputobi dan Raingduli

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapat kesempatan mengikuti pesta adat kereya di kebun daerah Eputobi dan Raingduli. Jalan masuk ke kebun rupanya cukup jauh. Sampai di kebun itu, saya bersama beberapa orang bekerjasama membuat lumbung padi.

Menurut kepercayaan mereka, jika lumbung ini terisi penuh dengan padi maka pasti diadakan pesta yang jauh lebih besar lagi dari hari ini. Pintu lumbung padi pun harus menghadap ke gunung.

Pesta Kereya

Menurut kepercayaan, leluhur mereka gersiktuli mendapat kehidupan dari gunung. Hal ini mengingatkan saya pada masyarakat lereng Gunung Merapi di Yogyakarta yang memandang Merapi sebagai Si Embah yang memberi kehidupan.

Di kebun yang dijadikan tempat upacara kereya itu, saya berkesempatan duduk di dekat buang punang yang telah dibuat sehari sebelumnya dan berfungsi sebagai tempat mesbah atau altar. Setelah semua mati (dalam tradisi Jawa: besek) dari semua kebun terkumpul, mulailah ketua adat membawakan doa yang diikuti oleh semua laki-laki yang ada di sekitarnya. Setelah mereka doa, mati itu dibawa kembali oleh pemilik-pemilik kebun. Sementara itu, kaum perempuan mulai mempersiapkan rengki (nasi berbentuk kerucut).

Pesta Adat Kereya 1
Bersama penduduk lokal saat merayakan pesta panen padi secara adat dala Perayaan Kereya di Larantuka, Flores Timur, NTT. (Dok. Pribadi)

Di sela-sela persiapan rengki itu, beberapa tokoh adat mengadakan upacara ute lakang. Seturut penuturan mereka, upacara ini dimaksudkan supaya ketika memetik padi tidak cepat-cepat habis. Setelah semua rangkaian upacara kereya itu selesai, tibalah bagi kami semua untuk makan bersama.

Waktu itu sudah sore hari. Saya dan beberapa orang yang dikelompokkan sebagai pihak blake mendapat kesempatan untuk makan rengki yang pertama dengan daging ayam yang berjumlah sembilan, satu kepala, dua paha, satu hati dan beberapa makanan yang lain.

Setelah pihak blake, giliran pihak bine anak yang makan dengan ikan. Demikian dilanjutkan dengan gelombang ketiga atau terakhir yang adalah para tokoh adat. Hal menarik lainnya yang saya alami adalah melihat kue adat bolo’k cuco (kue cucur) yang terbuat dari tepung beras dengan ukuran besar-besar menyesuaikan dengan rengki-nya.

Pesta Adat Kereya 2
Menyiapkan segala sesuatunya untuk pesta rakyat tradisional Perayaan Kereya di Larantuka. (Dok. Pribadi)

Menurut penuturan mereka, dulu ketika ada upacara kereya, bolo’k cuco menjadi sarana untuk mengungkapkan rasa cinta seorang pemuda kepada seorang pemudi. Jika cintanya diterima, ia akan mendapat balasan berupa cincin, gelang atau sapu tangan. Jika satu hari sebelum upacara kereya banyak umat keluarga tidur di kebun, maka setelah upacara kereya semua wajib untuk pulang. Kami semua pulang ketika hari sudah mulai malam.

Nogo Gunung
Upacara kereya memperlihatkan penghargaan dan penghormatan masyarakat lamaholot pada Nogo Gunung yang dipercaya menjadi padi dan jagung. Nogo Gunung dipercaya memberi penghidupan dan penghasilan untuk menopang kehidupan warga. Kesatuan mereka dengan alam itu mempersatukan keluarga mereka dengan segala perbedaan dan bahkan mengembangkan gerak solidaritas. Semangat mereka begitu luar biasa dan memperlihatkan ikatan kesatuan mereka satu sama lain.

Pesta Adat Kereya 5
Kemeriahan pesta adat bersama anak-anak.

Upacara adat seputar dunia pertanian selalu menarik. Seperti ikatan cinta pemuda dan pemudi, masyarakat adat memiliki “ikatan cinta” pada semesta alam. Mereka tidak mengalami kesulitan menjalin persahabatan dengan alam. Alam mengajarkan banyak nilai luhur. Upacara kereya akan terus terjadi bila alam terus diselamatkan, dipelihara dan dijaga kelestariannya. Semua yang hidup mempunyai tempat yang penting bagi kelangsungan dan kedamaian semua mahkluk. Untuk itu gerakan dan penyadaran cinta lingkungan hidup dan tindakan penyelamatannya perlu selalu dijalankan.

Dewasa ini semangat kesatuan hati itu sedikit memudar karena berkembangnya semangat individualisme, egoisme yang mulai mewarnai kehidupan ini. Masyarakat lamaholot perlu menemukan kembali nilai-nilai warisan leluhur yang baik dari tradisi kereya untuk dipertahankan dan dijaga sesuai perkembangan zaman.

Pesta Adat Kereya 4
Semua berpartisipasi dalam pesta adat panen padi ini.

Kredit foto: Pesta Panen Pade Kereya di Larantuka (Dok. Romo A. Rinanto Herdianto MSF)

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply