Lampu Kuning

Ayat bacaan: Yohanes 13:35
====================
“Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”

lampu kuning

Lampu jalan terdiri atas tiga lampu, merah, kuning dan hijau. Kita akan tahu harus berhenti ketika lampu berwarna merah, bisa mulai bersiap-siap untuk jalan lagi atau mulai berhenti ketika lampu kuning menyala, dan segera melanjutkan perjalanan di saat lampu berwarna hijau. Warna kuning ini pun sering dipakai orang sebagai kiasan bahwa kita sudah harus hati-hati. Seperti teman saya hari ini berkata bahwa kesehatannya sudah seperti lampu kuning, karena hasil check upnya ternyata kurang baik. Lampu kuning menunjukkan bahwa kita harus mulai memperhatikan sesuatu yang mulai mengarah kepada hal yang bisa berpotensi merugikan kita. Dalam keimanan puh seperti itu. Mengaku percaya dan beriman kepada Kristus itu mudah. Tetapi seberapa jauh kebenaran pengakuan itu? Kenyataannya ada banyak orang yang dengan mudah mengaku sebagai murid Yesus, bangga memakai atribut-atribut Kekristenan dalam kehidupan sehari-hari, namun sebenarnya iman mereka sudah mulai berada dalam lampu kuning, yang artinya harus segera dibenahi sebelum terjatuh kepada berbagai tindakan yang tidak berkenan bagi Tuhan. Begitu banyaknya pengaruh dari lingkungan, media dan lain-lain bisa mulai mempengaruhi pikiran kita, dan itu akan berpengaruh kepada keyakinan lalu berdampak melemahkan iman kita. Masalahnya seringkali orang tidak menyadari bahwa iman mereka sebenarnya mulai melemah. Mereka berpikir bahwa mereka baik-baik saja, tetapi pada kenyataannya tanpa disadari mereka mulai masuk ke area lampu kuning yang jika tidak cepat diatasi bisa berdampak pada hilangnya kesempatan untuk menerima mahkota kehidupan yang akan membawanya masuk ke dalam keselamatan. Pertanyaannya, adakah ciri-ciri atau tanda-tanda yang bisa kita pakai untuk mengetahui dimana tingkat iman kita saat ini?

Tentu saja ada. Kita bisa mengukur posisi iman kita saat ini salah satunya dari sejauh mana kepekaan kita terhadap hal-hal yang dialami orang lain. Atau dengan kata lain, sejauh mana kasih berperan dalam menentukan reaksi kita terhadap situasi sesama kita pada saat ini. Mengapa bisa demikian? Sebab Yesus sendiri berkata: “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” (Yohanes 13:35). Orang bisa mengenal iman kita lewat tindakan dan perbuatan kita. Dan Yesus menekankan pentingnya kasih yang mengacu kepada kepekaan dan reaksi kita terhadap orang lain. Itulah yang bisa menunjukkan seperti apa kondisi iman kita hari ini. Saya akan ambil beberapa contoh. Jika ada orang di dekat kita yang membutuhkan pertolongan, apa yang akan menjadi reaksi kita? Apakah kita akan segera membantu mereka sesuai kemampuan kita? Apakah kita merasa kasihan tetapi tidak melakukan apa-apa? Atau kita malah sama sekali tidak peduli. Itu akan menunjukkan sejauh mana kasih Allah masih berkuasa dalam diri kita, seperti apa kondisi iman kita saat ini. Penjabaran kasih dalam 1 Korintus 13:4-7 menunjukkan dengan jelas bahwa hubungan antara kasih dan kepekaan terhadap penderitaan orang lain sangatlah berhubungan, deeply related, dan itu adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar. Perintah dari Yesus jelas. “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. (ay 34).

Sebuah kepekaan atas kasih bukan hanya berbicara secara sempit mengenai reaksi kita terhadap penderitaan orang lain. Apa yang timbul dalam hati kita ketika melihat orang lain memperoleh kenikmatan atau berkat, itupun bisa menunjukkan sejauh mana kasih berkuasa atas diri kita. Apa yang kita pikirkan ketika melihat tetangga kita membeli mobil baru? perabotan baru? Apa reaksi kita melihat orang lain diberkati itu akan mencerminkan kondisi iman kita saat ini. Ketika melihat teman sekerja mendapat promosi, dan kita tidak, apa yang timbul di pikiran kita? Apakah kita mengucap syukur dan turut bergembira atas keberhasilan orang lain, atau kita bersungut-sungut, bergosip di belakang atau malah menyebarkan fitnah karena iri hati? Apakah kita memandang rendah orang lain, atau bahkan membenci dengan berbagai alasan yang kita anggap sebagai kewajaran atau pembenaran ketika mereka berseberangan atau tidak sepaham dengan kita? Hal ini pun penting untuk kita pikirkan dan bisa menjadi ciri-ciri apakah kita masih di jalur yang benar atau mulai kehilangan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam kasih. Mengapa? Karena Firman Tuhan jelas mengatakan: “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” (Roma 12:15). Dengan demikian jelaslah bahwa tanggapan kita terhadap kebahagiaan orang lain pun akan sangat menunjukkan siapa kita saat ini.

Firman Tuhan berkata: “Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.” (1 Yohanes 4:16). Kasih bukan sekedar atribut Allah, tetapi Allah adalah kasih itu sendiri. Dan jika kita berada dalam kasih, maka itu artinya kita berada di dalam Allah dan Allah di dalam kita. Kata “berada” dalam bahasa Inggrisnya disebut dengan “dwell”, yang artinya to live as a resident, to reside, tinggal diam, menetap dan bukan hanya singgah. Kita berada di dalam Allah dan Allah di dalam kita, itu menunjukkan sebuah persatuan yang kuat. Kasih dari Allah adalah sebuah kasih yang sempurna, seperti halnya yang ditunjukkan Kristus pula dengan keteladananNya. Artinya, jika Allah dan kita bersatu, saling tinggal diam di dalam diri masing-masing, maka kasih yang sempurna itu seharusnya pun mengalir keluar untuk menjangkau orang lain, baik melalui belas kasih terhadap yang menderita maupun ucapan syukur dan turut bergembira kepada yang sedang senang. Bagaimana mungkin kita mengaku beriman memiliki Allah di dalam kita tetapi kita tidak peka sama sekali terhadap tangisan orang lain? Dan ayat berikut pun menegaskan betul hal itu. “Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?” (1 Yohanes 3:17).

Alkitab berkata: “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” (Galatia 6:2). Bantulah orang lain sejauh kemampuan kita, kasihilah orang lain tanpa memandang status, latar belakangnya atau kepercayaannya. Jangan bersikap eksklusif, karena kasih Allah yang sempurna itu sesungguhnya mengalir tanpa batas, tanpa sekat, sebagaimana halnya Tuhan mengasihi semua manusia ciptaanNya tanpa terkecuali. Ingatlah bahwa “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” (1 Yohanes 4:8). Bergembiralah bersama yang bergembira, dan pekalah terhadap penderitaan orang lain. Sejauh mana reaksi kita dalam menyikapi itu akan menunjukkan seberapa tinggi iman kita hari ini. Mari kita periksa diri kita. Jika kita ternyata berada pada lampu kuning, benahilah segera hubungan kita dengan Tuhan melalui persekutuan yang manis dan intim. Mari kita kembalikan posisi iman kita pada jalurnya dan nyatakanlah senantiasa kasih lewat kepekaan dan ucapan syukur.

Reaksi kita terhadap orang lain akan menunjukkan seperti apa iman kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply