Lamban Semangat

lamban“Tetapi kami ingin, supaya kamu masing-masing menunjukkan kesungguhan yang sama untuk menjadikan pengharapanmu suatu milik yang pasti, sampai pada akhirnya, agar kamu jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah.” (Ibr 6, 11-12) MENUNJUKKAN kesungguhan dan jangan menjadi lamban adalah dua hal yang bisa saling berkaitan. Para staf seminari mengamati bahwa beberapa frater di tingkat terakhir masih belum menunjukkan kesungguhan untuk menjadi imam. Kemampuannya akademis dan pastoralnya serta kemampuan lain ada. Namun demikian, mereka lemah dalam kemauan atau kehendak atau kurang menunjukkan kesungguhan untuk menjadi seorang imam. Mereka jarang berkomunikasi tentang hal-hal yang berkaitan dengan gerak atau keprihatinan keuskupan. Dalam kegiatan lain, mereka nampak kurang cak-cek, tak ada greget dan menunda-nunda banyak tugas. Mereka lamban dalam banyak hal. Corak hidup seperti ini tentu tidak hanya terbatas dalam diri beberapa seminaris. Orang-orang yang lamban dan kurang menampakkan kesungguhan juga bisa ditemukan di tempat lain. Mereka ini ada di dalam keluarga atau komunitas; ada di dalam kring, wilayah, RT atau RW; mereka ada dalam kelompok kategorial atau organisasi; mereka ada di tempat kerja atau di tengah masyarakat. Selalu saja bisa ditemukan orang-orang yang lemah dalam kemauan atau kehendak, sehingga mereka cenderung pasif, menunggu, lelat-lelet dan tidak kreatif. Corak hidup seperti ini tidak hanya membuat orang lain jengkel atau marah; tetapi juga menjadi tantangan dan sekaligus kelemahan para pekerja pastoral. Bagaimana warta sukacita akan dibagikan secara kreatif oleh pribadi yang lamban dan lemah dalam kesungguhan, kehendak, kemauan dan komitmen. Corak hidup lamban dan lemahnya kesungguhan bisa membuat seorang pekerja pastoral bersembunyi dalam ‘zona nyaman’ demi kesenangan dan kenyamanan diri sendiri. Teman-teman selamat pagi dan selamat berkarya. Berkah Dalem. Kredit foto: Ilustrasi

lamban

“Tetapi kami ingin, supaya kamu masing-masing menunjukkan kesungguhan yang sama untuk menjadikan pengharapanmu suatu milik yang pasti, sampai pada akhirnya, agar kamu jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah.” (Ibr 6, 11-12)

MENUNJUKKAN kesungguhan dan jangan menjadi lamban adalah dua hal yang bisa saling berkaitan. Para staf seminari mengamati bahwa beberapa frater di tingkat terakhir masih belum menunjukkan kesungguhan untuk menjadi imam. Kemampuannya akademis dan pastoralnya serta kemampuan lain ada.

Namun demikian, mereka lemah dalam kemauan atau kehendak atau kurang menunjukkan kesungguhan untuk menjadi seorang imam. Mereka jarang berkomunikasi tentang hal-hal yang berkaitan dengan gerak atau keprihatinan keuskupan.

Dalam kegiatan lain, mereka nampak kurang cak-cek, tak ada greget dan menunda-nunda banyak tugas. Mereka lamban dalam banyak hal. Corak hidup seperti ini tentu tidak hanya terbatas dalam diri beberapa seminaris.

Orang-orang yang lamban dan kurang menampakkan kesungguhan juga bisa ditemukan di tempat lain. Mereka ini ada di dalam keluarga atau komunitas; ada di dalam kring, wilayah, RT atau RW; mereka ada dalam kelompok kategorial atau organisasi; mereka ada di tempat kerja atau di tengah masyarakat.

Selalu saja bisa ditemukan orang-orang yang lemah dalam kemauan atau kehendak, sehingga mereka cenderung pasif, menunggu, lelat-lelet dan tidak kreatif. Corak hidup seperti ini tidak hanya membuat orang lain jengkel atau marah; tetapi juga menjadi tantangan dan sekaligus kelemahan para pekerja pastoral.

Bagaimana warta sukacita akan dibagikan secara kreatif oleh pribadi yang lamban dan lemah dalam kesungguhan, kehendak, kemauan dan komitmen. Corak hidup lamban dan lemahnya kesungguhan bisa membuat seorang pekerja pastoral bersembunyi dalam ‘zona nyaman’ demi kesenangan dan kenyamanan diri sendiri.

Teman-teman selamat pagi dan selamat berkarya. Berkah Dalem.

Kredit foto: Ilustrasi

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply