Lalang Ditengah Gandum

Ayat bacaan: Matius 13:29-30
======================
“Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.”

Sudah beberapa tahun taman saya dibelakang rumah ditanami rumput. Saya sudah memilih rumput yang tidak terlalu mahal tapi tumbuhnya menjalar ke samping, bukan ke atas supaya saya tidak perlu terlalu repot memangkasnya. Tapi meski demikian, selalu saja ada rumput dan tanaman liar yang tumbuh bersama-sama dengan rumput itu. Ada yang berbentuk clover bergerombol merayap diantara rerumputan, ada yang panjang-panjang dengan akar serabut yang susah dicabut, ada juga yang sporadis terselip di sana-sini. Kalau saya tidak mencabutnya, tanaman-tanaman liar ini bisa menghambat pertumbuhan dan penyebaran rumput. Mereka menyerap nutrisi-nutrisi dari rumput untuk tetap tumbuh baik. Bahkan kalau saya sedang sangat sibuk dan tidak sempat merawatnya, tanaman liar ini bisa menguasai tempat tumbuhnya rumput. Kalau dibersihkan, tanahnya gundul sehingga saya harus menambalnya dengan rumput baru lagi. Jika anda menanam padi atau gandum, maka lalang pun akan tumbuh disana, berdampingan di tempat yang sama. Jika anda melihat secara sepintas maka anda akan melihat seolah semuanya sama saja. Tetapi jelas keduanya berbeda. Padi dan gandum itu berguna dan berharga, sementara lalang hanya akan dicabut dan dibuang atau dibakar.

Dalam menyampaikan pengajaran tentang prinsip kebenaran Kerajaan Allah Yesus sering mempergunakan perumpamaan-perumpamaan sebagai ilustrasi agar lebih mudah dimengerti. Salah satunya mengambil contoh mengenai gandum dan lalang ini. “Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya.” (Matius 13:24). Yang ditabur adalah benih gandum yang baik. Itulah yang berasal dari Kerajaan Surga. Selanjutnya ini yang terjadi. “Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi.” (ay 25). Jika diantara gandum itu kemudian terdapat lalang, siapa yang menabur? Alkitab mengatakan musuh, dan itu bukan berbicara mengenai orang, melainkan iblis. Iblis akan terus berusaha menabur lalang ditengah-tengah gandum. Perhatikan bahwa kedua tanaman ini tumbuh di tempat yang sama dan kelihatannya cukup sulit untuk dipilah.

Perumpamaan ini berbicara tentang orang benar dan orang fasik yang dibiarkan hidup berdampingan. Di saat gandum itu mulai berbulir, lalang pun mulai kelihatan juga (ay 26). Keduanya jelas mempunyai karakteristik berbeda tapi tumbuh berbarengan di tempat yang sama. Dalam bahasa Inggris gandum dan ilalang pun hampir sama namanya, Wheat dan Weeds. Lalu apa yang harus dilakukan terhadap lalang? Logikanya tentu dicabut. Tapi ternyata Yesus berkata: “Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu.” (ay 29). Yang dikatakan Yesus selanjutnya adalah seperti ini: “Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.” (ay 30). Gandum dikumpul dan dimasukkan ke lumbung, sedangkan lalang diikat dan dibakar.

Kita kelihatannya tidak bisa meminta Tuhan agar mengangkat “lalang”, sebab Tuhan memang mengizinkan lalang itu tumbuh bersama dengan kita. Suka tidak suka kita selalu akan ada benih-benih iblis yang tertabur di sekitar kita lewat berbagai bentuk. Lalu bagaimana? Yang penting adalah menjaga status kita tetap sebagai “gandum” meskipun ada ribuan lalang disekeliling kita. Bisa jadi lalang yang tumbuh lebih banyak dan lebih subur dibandingkan gandum, tetapi itu bukan masalah selama kita menyadari bahwa kita sesungguhnya berasal dari benih Kerajaan Sorga dan bukan dari si jahat. Perbuatan-perbuatan kita sebagai “gandum” haruslah tetap berguna seperti terang dan garam dan memuliakan Bapa di dalamnya. Tentu perbuatan kita itu akan mendapat reaksi dari kelompok ilalang. Petrus pun menyadari hal itu dan berkata “Sebab itu mereka heran, bahwa kamu tidak turut mencemplungkan diri bersama-sama mereka di dalam kubangan ketidaksenonohan yang sama, dan mereka memfitnah kamu.” (1 Petrus 4:4). Sulit, itu pasti. Tetapi semua kesulitan itu memang harus kita lalui. Kita memang dibiarkan tumbuh bersama dengan lalang, tetapi perhatikanlah bahwa pada akhirnya nanti kita akan selamat ketika kita dimintai pertanggung jawaban. “Tetapi mereka harus memberi pertanggungan jawab kepada Dia, yang telah siap sedia menghakimi orang yang hidup dan yang mati.” (ay 5).

Ingatlah bahwa anda memiliki karakteristik sebagai gandum, bukan lalang. Gandum akan dikumpulkan ke dalam lumbung Tuhan, bahkan lebih tegas lagi lewat Filipi 3:20 kita sudah diingatkan bahwa kewargaan kita adalah di dalam surga. Jangan sampai kita berubah karakter, bukan lagi sebagai gandum tetapi malah berubah menjadi ilalang. Jika itu yang terjadi, kita tidak akan pernah sampai ke dalam lumbung Tuhan nantinya. Lalang akan diikat untuk dibakar. Pada panen besar di akhir zaman pun hal ini kembali dinyatakan. “Dan Ia, yang duduk di atas awan itu, mengayunkan sabit-Nya ke atas bumi, dan bumipun dituailah.” (Wahyu 14:16). Semua tuaian jelek akan berakhir ke dalam kilangan murka Allah, dimana dari kilangan itu akan mengalir darah. (ay 19-20). Peringatan yang sangat keras dan mengerikan. Kalau kita melakukan perbuatan-perbuatan seperti halnya ilalang, berarti kita menjerumuskan diri kita sendiri ke dalam kematian kekal.

Sekarang memang kita diijinkan untuk tumbuh bersama-sama. Lalang bisa jadi lebih subur, tetapi satu saat nanti pasti akan terjadi pemisahan antara gandum dan ilalang. Gandum akan masuk ke dalam lumbung Tuhan, sedangkan ilalang akan dibakar habis. Seringkali kita berada di tengah orang-orang yang mungkin setiap kali bertemu kita akan mengejek kita yang tidak mau ikut-ikutan berbuat dosa. Atau kalau tidak separah itu, kita tetap bertemu dengan orang-orang yang menggiring kita untuk berbuat dosa. Jika atasan kita menerima suap misalnya, kita pun diminta untuk ikut arus, setidaknya tidak sok jujur dan melaporkannya atau kita harus siap-siap kehilangan pekerjaan. Ketika teman-teman kita berbuat dosa, kita akan dibilang sok suci dan dikucilkan apabila kita tidak mengikuti mereka. Ini baru dua contoh dari ribuan kasus yang kita hadapi setiap hari. Menjaga hidup tetap kudus itu tidak pernah mudah. Tetapi meski sulit, pilihan tetap ada pada diri kita. Jika sekarang itu terlihat sebagai sebuah pengorbanan besar, tetaplah lakukan, karena sebuah perbedaan perlakuan secara nyata akan hadir kelak pada waktunya. Sebelum hal itu sampai, mari pastikan benar-benar bahwa kita tetap memiliki karakter gandum hingga masa tuai itu tiba.

Lalang akan tetap tumbuh bersama dengan gandum, tetapi keduanya akan berakhir di tempat yang berbeda

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: