Kurnia Bersyukur bagi yang Kecil, Lemah Lembut dan Rendah Hati

love01

HARI ini kita diajak Yesus untuk bersyukur. Yesus sendiri menunjukkan bahwa hidupNya itu penuh rasa syukur. Ia bersyukur saat karyaNya diragukan oleh Yohanes Pembaptis dan ditolak di berbagai tempat. Ia bersyukur karena ada orang kecil yang menerima Dia. Yesus bersyukur karena orang kecil ini lah yang dianugerahkan Bapa kepadaNya. Karena Bapa mengenal dan mencintai Yesus dan Bapa juga mengenal dan mencintai orang kecil. Yesus juga bersyukur karena boleh membantu meringankan beban orang-oorang kecil dengan memberi mereka kuk kelemah lembutan dan kerendah hatian. Itu lah jalan bersyukur Yesus, itu juga jalan syukur yang ditawarkan Yesus kepada kita.

Kita mudah mengeluh karena beban hidup kita berat. Kita mengeluh karena kita sendirian dan tidak ada yang menolong. Kita mengeluh karena kita merasa tidak berdaya, kecil, sepele dan ditinggalkan. Kita mengeluh karena kita bukan orang pintar, kaya dan berkuasa. Karena itu lah kita harus menanggung beban hidup dan kesialan ini semua. Dan jika kita perhatikan, semua keluhan itu bukan kenyataan; tetapi merupakan bual pikiran dan cara kita melihat dan menjalani hidup. Mungkin kita merasa hidup ini berat. Tetapi selalu ada orang lain yang lebih susah dan lebih sedikit mengeluh. Karena itu banyak masalah kita sebenarnya ada dalam pikiran dan cara hidup kita.

Yesus mengajarkan cara hidup penuh syukur: menjadi kecil, lemah lembut dan rendah hati. Menjadi kecil berarti tidak merasa jadi yang berkuasa, yang berhak memerintah, menentukan dan memutuskan tentang hidup kita dan sesama. Lemah lembut berarti tidak merasa perlu memakai kuasa, kekerasan untuk mencapai tujuan atau memecahkan masalah. Rendah hati, tidak melihat prestasi diri itu penting dan melihat orang lain lebih penting, lebih membutuhkan, lebih berjasa dari pada saya. Sikap mendahulukan orang lain.

Jika kita dapat menjadi seperti yang diarahkan Yesus, hidup kita akan penuh syukur dan dari sukap penuh syukur akan tumbuh kepercayaan dan kepasrahan. Dari kepercayaan akan tumbuh kesetiaan dan kesediaan berkurban. Dari situ akan tumbuh kedekatan hati dan kebersamaan yang saling menguatkan.

Seorang lelaki sukses melihat setiap kali dia pulang kerja, istrinya sudah cantik dan wangi, bersama anak-anak yang sudah mandi, menunggu kedatangannya. Ia merasa tidak adil dan berdoa: “Oh Tuhan, saya tidak terima. Saya bekerja begitu keras di kantor, sementara istri saya enak-enakan di rumah. Saya ingin memberinya pelajaran; tolonglah ubahlah saya menjadi istri dan ia menjadi suami.” Tuhan merasa simpati dan mengabulkan doanya. Keesokan paginya, lelaki yang telah berubah wujud menjadi istri tersebut terbangun dan cepat-cepat ke dapur menyiapkan sarapan. Kemudian membangunkan kedua anaknya untuk bersiap-siap ke sekolah.

Kemudian ia mengumpulkan dan memasukkan baju-baju kotor ke dalam mesin cuci. Setelah suami dan anak pertamanya berangkat, ia mengantar anaknya yang kecil ke sekolah taman kanak-kanak. Pulang dari sekolah TK, ia mampir ke pasar untuk belanja. Sesampainya di rumah, setelah menolong anaknya ganti baju, ia menjemur pakaian dan kemudian memasak untuk makan siang. Selesai memasak, ia mencuci piring-piring bekas makan pagi dan peralatan yang telah dipakai memasak. Begitu anaknya yang pertama pulang, ia makan siang bersama kedua anaknya.

Tiba-tiba ia teringat ini hari terakhir membayar listrik dan telepon. Disuruhnya kedua anaknya untuk tidur siang dan cepat-cepat ia pergi ke bank terdekat untuk membayar tagihan tersebut. Pulang dari bank ia menyetrika baju sambil nonton televisi. Sore harinya ia menyiram tanaman di halaman, kemudian memandikan anak-anak. Setelah itu membantu mereka belajar dan mengerjakan PR. Jam 9 malam ia sangat kelelahan dan ingin tidur. Tetapi suaminya minta dilayani malam itu. Tentu masih banyak pekerjaan-pekerjaan kecil lainnya yang belum dikerjakan. Dua hari menjalani peran sebagai istri ia tak tahan lagi. Sekali lagi ia berdoa, “Ya Tuhan, ampuni aku. Ternyata aku salah. Aku tak kuat lagi menjalani peran sebagai istri. Tolong kembalikan aku menjadi suami lagi.” Tuhan menjawab: “Bisa saja. Tapi kamu harus menunggu sembilan bulan, karena saat ini kamu sedang hamil.”

Suami itu merasa besar, kuat dan berhak menuntut. Ia diajar menjadi kecil dan lemah lembut dan rendah hati dengan cara yang keras. Semoga hidup kita dapat tumbuh semakin belajar menjadi kecil, lembah lembut dan rendah hati, sehingga hidup kita lebih penuh dengan syukur, setia dan cinta kepada Tuhan dan sesama. Amin.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: