“Kung Fu Jungle”, Memanipulasi Seni Beladiri untuk Kemasyuran

Kung FuSESUAI judulnya, inilah film anyar keluaran Hong Kong tentang rimba dunia persilatan ala Tiongkok: Kung Fu. Tapi berbeda dari semangat asali yang dikembangkan oleh para bhiksu di Shaolin Temple sebagaimana dulu sering muncul dalam film-film lawas, di sini kung fu justru ‘diperkosa’ sebagai metode untuk membunuh orang. Tujuannya jelas, mereguk kemasyuran pribadi dengan titel No. […]

Kung Fu

SESUAI judulnya, inilah film anyar keluaran Hong Kong tentang rimba dunia persilatan ala Tiongkok: Kung Fu. Tapi berbeda dari semangat asali yang dikembangkan oleh para bhiksu di Shaolin Temple sebagaimana dulu sering muncul dalam film-film lawas, di sini kung fu justru ‘diperkosa’ sebagai metode untuk membunuh orang. Tujuannya jelas, mereguk kemasyuran pribadi dengan titel No. 1 Jagoan Kung Fu.

Itulah yang mengobsesi jago kung fu yang terlahir cacat (Wang Baoqiang). Justru karena terlahir dengan panjang kaki berbeda, ia malah terobsesi menguasai cacat fisiknya dengan latihan beladiri secara keras. Ia berhasil menjadi ‘juara’ dan keluar kandang menantang jagoan kung fu di semua penjuru Hong Kong.
Istrinya yang tengah sakit kanker tak bisa melawan ambisi jagoan kandang ini, hingga akhirnya keluar rumah menantang semua jagoan kung fu untuk duel maut. Serangkaian duel berhasil ia menangkan dengan gemilang namun penuh darah.

Demi istri
Ha Hou-mou (Donnie Yen), mantan instruktur beladiri kepolisian, resah hati. Di balik jeruji besi yang mengurungnya karena membunuh ketua perguruan silat yang menantangya, ia mencemaskan istrinya –juga jago silat—kalau-kalau jago kung fu yang cacat itu menyasar istrinya untuk duel maut. Akhirnya, Hou-mou berhasil keluar dari penjara atas jaminan kepala polisi dengan imbalan memberi informasi siapa pembunuh kejam di balik serangkain kasus pembunuhan dengan korban jagoan silat ini.

Ha Hou-mou langsung tunjuk jari: pendekar cacat namun dengan ilmu kung fu yang lumayan. Demi melindungi istrinya, ia datang melawan pendekar cacat ini dalam sebuah duel maut di jalanan tol. Ia berhasil menang, meski juga sekarat. Di akhir cerita, ia bisa bebas atas kebaikan kepala polisi.

Sekali lagi, sesuai judulnya, ini film tentang rimba persilatan dengan focus kung fu ‘diperkosa’ sebagai alat bunuh untuk mencari popularitas. Jadi, di film ini saya kurang melihat indahnya seni bela diri dengan gerakan-gerakan tubuh yang luwes namun mematikan. Melainkan, panorama jurus-jurus mematikan dan langsung tembak kena sasarannya: kematian musuh.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply