Kuasa Untuk Menikmati

Ayat bacaan: Pengkhotbah 6:1-2
=========================
Ada suatu kemalangan yang telah kulihat di bawah matahari, yang sangat menekan manusia:orang yang dikaruniai Allah kekayaan, harta benda dan kemuliaan, sehingga ia tak kekurangan suatupun yang diingininya, tetapi orang itu tidak dikaruniai kuasa oleh Allah untuk menikmatinya, melainkan orang lain yang menikmatinya! Inilah kesia-siaan dan penderitaan yang pahit.

karunia untuk menikmati

Selain untuk menawarkan kemudahan, kelebihan dan keandalan produk, sebuah iklan juga kerap menawarkan kebahagiaan. Lihatlah iklan yang menampilkan puluhan orang bernyanyi dan menari, deretan gigi-gigi putih bersih, wajah yang begitu bahagia tanpa masalah hanya karena memiliki produk yang diiklankan. Logika manusia memang sepertinya begitu. Siapa sih yang tidak senang kalau punya kemampuan membeli yang lebih dari cukup, dan mampu memiliki produk-produk yang punya kelebihan dan memberi banyak kemudahan dalam hidup? Tapi nyatanya tidaklah demikian. Begitu banyak orang yang kemampuan finansialnya lebih dari cukup, namun kehidupannya jauh dari bahagia. Saya menyaksikan sendiri beberapa orang yang saya kenal hidup berkelimpahan tapi tidak bahagia. Orang yang melihat kekayaan mereka mungkin berpikir akan sangat bahagia jika memiliki setengah saja dari apa yang mereka punya, tapi semua itu tidak memberi rasa bahagia sama sekali bagi pemiliknya. Foya-foya, pesta pora, keliling dunia sekalipun seringkali hanya membawa kebahagiaan instan yang sangat singkat umurnya. Kebahagiaan langsung hilang begitu semuanya selesai. Kekayaan tidak berarti punya keluarga yang rukun, damai dan penuh kasih. Banyak keluarga kaya hidupnya berantakan dan penuh masalah. Bahkan tidak jarang kita membaca atau mendengar seseorang mengakhiri hidupnya, bukan karena tidak mampu tapi karena merasa hidup mereka sia-sia.

Melanjutkan renungan kemarin, hari ini kita melihat bahwa bukan hanya kekayaan yang berasal dari karunia Tuhan. Jika kita heran bagaimana banyak orang yang sungguh kaya raya, tapi tidak bisa menikmati kekayaannya, terjawab pada ayat bacaan hari ini. Ternyata kemampuan untuk menikmati kekayaan pun berasal dari karunia Tuhan juga. Ketika motivasi kita beralih dari mengasihi Tuhan dan membagi berkat buat sesama yang membutuhkan kepada menimbun harta sebanyak-banyaknya tanpa pernah merasa cukup, ketika kita mulai mengorbankan waktu kita bersama Allah dan mulai fokus mencari uang sebanyak-banyaknya, pada saat itu pula kita mulai meninggalkan Tuhan. Semakin jauh hal itu terjadi, semakin jauh pula karunia-karunia pergi meninggalkan kita, termasuk karunia untuk menikmati apa yang telah kita miliki, padahal karunia menikmati adalah hal paling mendasar yang dapat membuat kita merasa bahagia. Di saat itu lah kita akan merasa bahwa apa yang kita kumpulkan ternyata sia-sia adanya tanpa kehadiran karunia untuk menikmati. Betapa malangnya, betapa menyedihkan. Kejatuhan dalam dosa akibat memilih harta daripada Tuhan bisa berakibat fatal dalam kehidupan.

Jangan sampai terlambat, mari kita periksa diri kita masing-masing. Apakah kita telah mengucap syukur dan puas terhadap segala sesuatu yang telah kita miliki? Apakah kita selalu merasa kekurangan? Apakah kita tidak menikmati hal-hal yang Tuhan berikan, termasuk keadaan diri kita saat ini atau hari-hari yang kita jalani? Jika ini yang terjadi, sekarang waktunya untuk kembali berpaling kepada Tuhan yang selalu menanti kita.

Karunia Allah tak terbatas bagi anak-anakNya yang setia, termasuk karunia kuasa untuk menikmati berkat Allah

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply