Kualitas Hubungan antara Tuhan dan Manusia sebagai Sahabat (1)

Ayat bacaan: Kejadian 18:16======================”Berpikirlah TUHAN: “Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini?”Mungkinkah seorang dikatakan sebagai sahabat jika kita jarang berkomunikasi dengannya? Rasanya tidak ada …

Ayat bacaan: Kejadian 18:16
======================
“Berpikirlah TUHAN: “Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini?”

Mungkinkah seorang dikatakan sebagai sahabat jika kita jarang berkomunikasi dengannya? Rasanya tidak ada orang yang menjadikan sahabat mereka sebagai orang terakhir yang mereka hubungi jika mereka mengalami sesuatu. Sebuah hubungan persahabatan akan berisi serangkaian hubungan erat penuh komunikasi tanpa perlu menutup-nutupi sesuatu. Tidak perlu takut bicara, kita bisa selalu jujur dan terbuka akan segala sesuatu, tidak menutup-nutupi, menyimpan atau memendam, apalagi membohongi. Sebaliknya pun demikian. Itu bedanya salah satu perbedaan nyata antara sahabat dengan teman biasa.

Kemarin kita sudah melihat bagaimana kualitas iman Abraham yang disempurnakan lewat perbuatan nyata sehingga bukan saja ia digelari Bapa Orang Beriman tapi juga dianggap sebagai Sahabat Allah. Hari ini kita melihat lebih jauh mengenai bagaimana bentuk hubungan Abraham dengan Allah sebagai seorang sahabat. Pertanyaannya sekarang, apakah Abraham juga seperti itu? Ya, Abraham jelas seperti itu. Abraham rajin berkomunikasi dengan Tuhan!

Ayat bacaan hari ini menggambarkan sesuatu yang luar biasa. Ketika Tuhan menganggap seseorang sudah berstatus sebagai sahabatNya, ternyata Tuhan gelisah untuk berbicara, menyampaikan apa yang hendak Dia lakukan. Lihatlah saat Tuhan hendak menjalankan rencanaNya pada Sodom, Tuhan sampai-sampai harus berpikir bagaimana Dia harus menyampaikan hal itu kepada Abraham. “Berpikirlah TUHAN: “Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini? Bukankah sesungguhnya Abraham akan menjadi bangsa yang besar serta berkuasa, dan oleh dia segala bangsa di atas bumi akan mendapat berkat? Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikan-Nya kepadanya.” (Kejadian 18:19). Anda lihat, Tuhan Sang Pencipta dan Pemilik seluruh isi alam semesta yang berarti punya kekuasaan mutlak untuk menentukan apapun yang ingin Dia lakukan, ternyata merasa berat untuk merahasiakan rencananya kepada sahabatNya, yaitu Abraham. Dengan kata lain, kualitas hubungan persahabatan antara keduanya membuat Tuhan merasa punya kewajiban untuk menyampaikan apa yang akan Dia lakukan kepada Abraham. Wow, ini luar biasa!

Bagaimana ini mungkin terjadi? Selain apa yang kita baca kemarin tentang ketaatan, kesetiaan dan iman penuh Abraham, ayat-ayat selanjutnya menunjukkan sebuah jalinan komunikasi antar dua sahabat dalam kekerabatan yang erat. Mari kita lihat bagaimana hubungan erat tersebut dalam Kejadian 18:20-33. Abraham datang mendekat dan berkata: “Apakah Engkau akan melenyapkan orang benar bersama-sama dengan orang fasik? Bagaimana sekiranya ada lima puluh orang benar dalam kota itu? Apakah Engkau akan melenyapkan tempat itu dan tidakkah Engkau mengampuninya karena kelima puluh orang benar yang ada di dalamnya itu? Jauhlah kiranya dari pada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama-sama dengan orang fasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Jauhlah kiranya yang demikian dari pada-Mu! Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?” (ay 23-25). Dan Tuhan menjawab: “Jika Kudapati lima puluh orang benar dalam kota Sodom, Aku akan mengampuni seluruh tempat itu karena mereka.”(ay 26). Lalu Abraham menyahut: “Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada Tuhan, walaupun aku debu dan abu. Sekiranya kurang lima orang dari kelima puluh orang benar itu, apakah Engkau akan memusnahkan seluruh kota itu karena yang lima itu?” (ay 27-28a). Tuhan kembali menjawab: “Aku tidak memusnahkannya, jika Kudapati empat puluh lima di sana.”(ay 28b), dan seterusnya hingga ayat 33. Lihatlah jalinan percakapan yang terjalin antara Abraham dan Tuhan secara jelas menunjukkan bentuk komunikasi yang dekat dan akrab antara dua sahabat. Abraham bisa berdialog seperti halnya kepada sesamanya manusia dan yang jelas, bentuk kedekatannya sangat terasa lewat bentuk tawar-menawar diantara mereka.

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply