Thursday, 27 November 2014

Kualitas dan bukan Kuantitas

Ayat bacaan: Zakharia 4:10
=====================
“Who despises the day of small things?”

kualitasDunia percaya bahwa semakin besar atau semakin banyak itu artinya semakin hebat. The more the merrier, the bigger the better. Ada banyak orang yang serabutan mengerjakan ini dan itu agar kelihatan hebat, tetapi akibatnya mereka tidak fokus dan tidak satupun yang hasilnya baik. Sementara ada banyak pula orang yang malas mengurusi satu atau dua orang saja. Buang-buang waktu, begitu pikir mereka. Ada banyak artis yang mementingkan berapa banyak jumlah penontonnya sebelum mereka menerima tawaran manggung. Seorang gitaris asal Amerika yang pernah saya temui berkata bahwa ia tidak peduli berapa jumlah penontonnya. “I don’t care if it’s 5 or 10 people. As long as they enjoy my performance, I’ll be delighted.” katanya sambil tersenyum. Inilah sebuah sikap profesional yang bagi saya sangat indah didengar. Bagi saya sendiri jumlah tidaklah penting, karena bukan kuantitas yang saya cari melainkan kualitas. Saya akan mengajar dengan kualitas yang sama baik ketika muridnya berjumlah puluhan atau satuan. Satu orang atau sepuluh orang, saya tetap sama seriusnya dalam mentransfer ilmu mendidik mereka. Dalam kehidupan saya pun seringkali hal-hal kecil yang sederhana atau kelihatannya sepele tetapi bisa memberi makna luar biasa, baik dalam kehidupan di dunia maupun spiritual. Saya pernah menemukan sebuah ayat yang ditulis di pintu toilet. Singkat, namun ayat itu sungguh berbicara banyak kepada saya.

Dunia memang cenderung mementingkan kuantitas dibanding kualitas. Ironisnya ada banyak gereja atau pelayan Tuhan pula yang terjebak pada pemikiran seperti ini. Mereka akan bersemangat melayani ketika jemaat penuh, namun kehilangan gairah melihat bangku kosong. Gereja akan mulai berpikir serius jika jemaatnya banyak tetapi seadanya saja jika sedikit.Tuhan tidak mengajarkan atau menganjurkan kita untuk berpikir seperti itu. Kita tidak boleh memandang hina hal-hal kecil, karena seringkali berkat Tuhan pun dimulai dari sesuatu yang biasa, kecil dan kelihatan sepele. Bahkan kelemahan kita yang terparah sekalipun bisa dipakai Tuhan untuk menjadi lahan subur untuk menyatakan kuasaNya. Dan Tuhan sebenarnya senang dengan hal ini. Lihatlah sebuah ayat berikut: “Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat.” (1 Korintus 1:27). Tuhan senang memakai hal-hal kecil untuk menunjukkan kebesaran kuasaNya.

Mari kita lihat perumpamaan tentang Talenta dalam Matius 25. Talenta dibagikan berbeda oleh sang tuan kepada tiga hambanya. Ada yang memperoleh lima, dua dan juga satu. Lalu perhatikanlah reaksi sang tuan ketika kembali. Kepada hamba dengan lima talenta dan dua talenta, sang tuan memberikan jawaban yang sama. “Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” (Matius 25:21,23). Dari sini kita bisa melihat dengan jelas bahwa talenta besar maupun kecil dihargai sama oleh Tuhan, selama keduanya bisa menghasilkan buah. Tuhan menghargai sama terhadap laba dua talenta dan lima talenta. Artinya jelas. Tuhan tidak melihat kuantitas, melainkan kualitas. Dua talenta sekalipun akan sangat dihargai apabila kita melakukannya dengan sepenuh hati dan sungguh-sungguh. Tuhan akan menghargai sangat besar setiap yang kita lakukan dengan serius dan penuh totalitas. Kita harus ingat bahwa Tuhan tidak melihat apa yang di depan mata, tapi melihat hati. (1 Samuel 16:7).

Lantas kita pun bisa meneladani Yesus dalam melakukan pelayananNya di dunia. Yesus tidak pernah memperhitungkan jumlah. KedatanganNya memang untuk menebus semua manusia, tetapi ribuan atau satu orang diperdulikan sama olehNya. Yesus pernah melakukan kotbah di atas bukit dihadapan orang banyak (Matius 5-7). Tapi tidak pernah menutup mata dari pribadi atau individu perorangan yang menjumpaiNya. Bahkan ketika muridNya berkurang, seperti yang kita baca dalam Yohanes 6:66, “Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia”, Yesus tetap tidak merasa terganggu sedikitpun dalam menjalani tugasnya memenuhi rencana Allah. Dalam kitab Zakharia kita bisa pula melihat hal ini. “Siapa yang memandang hina hari peristiwa-peristiwa yang kecil..” “Who [with reason] despises the day of small things?” (Zakharia 4:10). Dan saya pun tersenyum membaca ayat dalam Zakharia ini, karena jelas disana dikatakan: “Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku, firman TUHAN semesta alam.” “Not by Not by might, nor by power, but by My Spirit, says the Lord of hosts.” (ay 6).

Apakah ada diantara anda yang saat ini merasa down atau gagal karena jumlah yang dilayani sedikit atau terasa sulit berbuah? Atau adakah diantara anda yang saat ini merasa bahwa pekerjaan anda seolah terlau kecil atau sepele? Jika saat ini anda mengalami masa surut dalam pelayanan maupun pekerjaan, tetaplah bersyukur dan tetaplah melayani atau bekerja semaksimal mungkin dengan sepenuh hati. Biar bagaimanapun apa yang Tuhan pandang adalah hati anda, bukan jumlah atau apapun yang dipandang oleh mata dunia. For God is not about the size. Size is nothing; substance is everything. Baik ketika anda melayani gereja kecil, sekolah minggu, atau melayani hanya satu orang saat ini, layanilah dengan segenap hati. Baik ketika anda menjabat direktur maupun cuma janitor, bekerjalah dengan sama baiknya. Jika kita setia dalam perkara kecil, Tuhan akan memberikan tanggung jawab dalam perkara yang lebih besar pada waktunya. Little things often lead to big things, itu harus selalu kita ingat. Tetaplah beri yang terbaik dari diri anda dalam hal-hal kecil, karena bukan kuantitas yang penting, melainkan substansi dan kualitas yang murni berasal dari hati.

Small is big when God’s in it

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Incoming search terms:

0saves


If you enjoyed this post, please consider leaving a comment or subscribing to the RSS feed to have future articles delivered to your feed reader.

Related Posts to "Kualitas dan bukan Kuantitas"

Response on "Kualitas dan bukan Kuantitas"