Korea United

Ayat bacaan: Yakobus 2:8-9
======================
“Akan tetapi, jikalau kamu menjalankan hukum utama yang tertulis dalam Kitab Suci: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”, kamu berbuat baik.Tetapi, jikalau kamu memandang muka, kamu berbuat dosa, dan oleh hukum itu menjadi nyata, bahwa kamu melakukan pelanggaran.”

olimpiade Sydney 2000, korea bersatu, korea united

Masih ingatkah anda dengan sebuah peristiwa menyentuh pada Olimpiade Sydney, Australia tahun 2000? Ini olimpiade pertama di era milenium. Pada parade kontingen dari negara peserta di pesta pembuka (opening ceremony), terjadi peristiwa mengharukan yang menyentuh hati banyak orang. Korea Utara dan Korea Selatan ternyata tampil bersatu, dengan bendera baru yang menggambarkan semenanjung korea. Bendera dipegang oleh dua orang yang mewakili masing-masing bagian, Pak Jung Chol, pelatih judo dari Korea Utara dan Chun Un Son, pemain basket wanita dari Korea Selatan. Pemandangan luar biasa ini langsung disambung tepuk tangan meriah dari seisi stadion, termasuk presiden IOC saat itu, Juan Antonio Samaranch yang melakukan standing applause. Tidak saja keluar beriringan sebagai satu kontingen, tapi mereka juga saling bergandengan tangan. Pujian bukan saja mereka dapat dari seisi stadion, tapi juga dari 3.7 milyar penonton televisi bahkan seluruh dunia pun memberikan hormat. “We became one body, the same race of the same blood.” demikian komentar dari salah satu anggota dewan komisaris IOC yang berasal dari Korea. Seorang atlit asal Korea Utara, Choe Myong Hwa ketika diwawancarai Los Angeles Times berkata, “My heart is exhilarated. I never thought this would be a reality.This will bring us closer to reunification.” Suasana menyejukkan seperti ini akan selalu indah untuk dikenang, dan mengingatkan kita bahwa perpecahan tidak akan pernah membawa kebahagiaan, damai dan sukacita.

Ketika Yesus ditanya oleh seorang ahli Taurat tentang hukum apa yang paling utama, Yesus dengan tegas menjawab bahwa dua hukum paling utama adalah Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari dua hukum ini (Markus 12:28-34). Lihat disana Yesus tidak berkata bahwa kita harus mengasihi saudara seiman saja, hanya mengasihi suku kita, golongan kita, atau keturunan kita saja, tapi mengasihi sesama kita manusia. Ayat hari ini pun berbicara dengan tegas mengenai hal tersebut. Jika kita membeda-bedakan orang dengan dasar apapun, itu artinya kita melanggar salah satu hukum yang paling utama, dan akibatnya kita berdosa.

Ketika ada atlit Indonesia yang menolak bertanding dengan atlit Israel, pesan perdamaian yang disampaikan kedua bagian Korea di atas menjadi signifikan. Dunia olah raga yang menjunjung tinggi sportivitas dan persaudaraan tidak seharusnya dicampur adukkan dengan berbagai kepentingan, apalagi kebencian berakar yang dijalankan tanpa pandang bulu. Lebih dari segalanya, kita semua adalah sama-sama manusia biasa, yang seharusnya bisa hidup berdampingan dengan dasar kasih. Perbedaan pandangan boleh-boleh saja. Perbedaan keyakinan, ideologi, politik, budaya dan lain-lain semuanya sah-sah saja. Tapi jangan sampai perbedaan itu menyebabkan hubungan antar sesama manusia menjadi terputus. Kita sebagai anak-anak Allah seharusnya bisa mulai dengan memperlebar tali persaudaraan kita dengan sesama manusia, tanpa memandang siapa mereka itu. Kita bisa memulainya saat ini dari diri kita sendiri di lingkungan sekitar kita yang paling dekat.

Berbeda boleh saja, tapi jangan sampai perbedaan tersebut meracuni hubungan antara sesama dan menjadikan kita berdosa

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply