Konfernas I FKUB se-Indonesia di Semarang

Konggres Persaudaraan Sejati Lintas Agama di Muntilan 2014

BARUSAN, kami mengadakan konferensi pers menjelang Konferensi Nasional I FKUB Jateng. Berikut ini, diampaikan materi konferensi pers yang saya persiapkan atas permintaan panitia. Temanya mengenai bagaimana “Mendesain Kedewasaan dan Pendewasaan Beragama dalam Masyarakat Plural”.

Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Jawa Tengah akan menggelar Konferensi Nasional (Konfernas) I FKUB, Jumat-Ahad (12-14 Juni 2015) di Semarang. Hajatan yang melibatkan utusan FKUB Provinsi Se-Indonesia ini mengambil tema “Mendesain Kedewasaan dan Pendewasaan Beragama dalam Masyarakat Plural”.

Sejumlah narasumber akan mewarnai Konfernas ini, yakni Dr. H. Lukman Hakim Saefudin (Menteri Agama RI), H. Ganjar Pranowo, SH (Gubernur Jawa Tengah), Prof. Dr. H. Komaruddin Hidayat, Romo Benny Susetyo, Prof. Dr. John Titaley, MA, KH. Masdar F. Mas’udi, MA, Prof. Dr. Atho’ Mudzhar, MA, Dr. Hastaning Sakti, M.Kes, dan Prof. Dr. Ahmad Gunaryo.

Konfernas ini akan diawali dengan pagelaran wayang kulit empat jam oleh Ki Dalang Yazid Jamil dan kolaborasi musikal dengan sinden (asal) Jepang Hiromi Kano.

Konfernas FKUB ini menjadi penting dalam konteks Indonesia yang ditandai keberagamanan budaya, agama, dan keyakinan. Realitas keberagaman selalu tak terbantahkan. Pengingkaran terhadapnya merupakan sikap ahistoris atas perjalanan dan keberadaan bangsa ini. Alih-alih mengingkari realitas keberagamaan, kita justru dipanggil untuk menjadi dewasa dalam hidup bersama yang berbeda dan beragam dengan mengembangkan sikap saling menghormati, memahami, bersikap toleran atas berbagai perbedaan.

Sayangnya, sebagaimana disinyalir Prof. Dr. H. Mudjahirin Thohir, MA, Ketua FKUB Jateng, kehidupan keberagamaan bangsa ini secara empiris masih kerap ditandai fenomena yang bersifat destruktif atas idealisme suci semua agama dan keyakinan dalam mengkonstruksikan relasi umat beragama yang harmonis. Setidaknya, percikan-percikan intoleransi diskriminatif atas pemeluk agama dan keyakinan yang berbeda masih saja terjadi.

Hemat saya, bahkan ini bisa menjadi semacam bahaya laten yang setiap saat bisa meletup secara sporadis di berbagai tempat di negeri ini.

Untuk itulah, perlu langkah-langkah yang jujur, elegan dan cerdas untuk berani mendesain kedewasaan dan pendewasaan hidup beragama dalam masyarakat yang plural ini. Mendesain kedewasaan dan pendewasaan hidup beragama dan berkeyakinan memerlukan modal kerendahan hati dan keterbukaan untuk mengubah prasangka menjadi cinta penuh pemahaman, mengubah kebencian dan dendam menjadi kasih, mengubah semangat berselisih menjadi semangat hidup bersama dalam kerukunan.

Lebih dalam lagi, upaya mendesain kedewasaan dan pendewasaan hidup beragama dan berkeyakinan akan menjadi semacam ziarah perdamaian dan rekonsiliasi di muka bumi ini antar kita yang berbeda. Setiap tradisi agama apa pun lekat dengan damba ziarah perdamaian dan rekonsiliasi terus-menerus baik secara internal maupun eksternal.

Upaya mendesain kedewasaan dan pendewasaan hidup beragama dan berkeyakinan akan menjadi bentuk pembangunan komitmen untuk bekerjasama dan membangun solidaritas antara umat beragama yang berbeda tak hanya di tingkat elite melainkan juga bersama semua orang dalam karya rekonstruksi spiritual dan moral di tengah masyarakat. Di dalamnya, kita bersama dalam keberbedaan bekerja mewujudkan persaudaraan sejati lintas iman, agama, budaya dan kelompok. Kita bekerja sama sebagai saudari dan saudara yang sejati.

Atas Nama Panitia Konfernas I FKUB Jateng

Aloys Budi Purnomo Pr
Wakil Ketua FKUB Provinsi Jawa Tengah

Kredit foto: Ilustrasi

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply