Ilustrasi: Indonesian Youth Day di Manado. (Mathias Hariyadi)

PERTENGAHAN tahun 2017, tepatnya bulanJuli 201, saya bersama 20 orang teman mewakili Keuskupan Banjarmasin berangkat ke Surabaya.

Kami pergi dengan pendamping Romo Teddy Aer MSF untuk mengikuti program live in yang waktu itu disebut Days in Diocese di Keuskupan Surabaya.

Kegiatan ini merupakan salah satu dari rangkaian acara 7th Asian Youth Day yaitu pertemuan Orang Muda Katolik se-Asia yang di tahun yang sama diadakan secara besar-besaran di Yogyakarta, Keuskupan Agung Semarang.

Di Surabaya,  kami berkumpul di Gedung Keuskupan Surabaya untuk menunggu dijemput oleh host family yang telah ditentukan oleh panitia.

Kami akan tinggal selama tiga hari dengan host family untuk mengalami dan belajar kehidupan dari keluarga, komunitas, dan paroki di tempat kami live in.

Kegiatan yang paling berkesan bagi saya adalah ketika baru hari pertama saya tinggal bersama ‘keluarga baru. Saya diajak berwisata kuliner malam ke kawasan wisata di  Tretes.

Di Tretes kami menyantap bakso, sate, wedang rondé, angsle, roti bakar, dan berbagai kuliner lainnya sambil berbincang dan bercanda.

Waktu yang berlalu tidak terasa sampai akhirnya kami pulang pada Pukul 02.00 dini hari dan besoknya suara saya serak entah karena kelelahan atau karena terlalu banyak tertawa.

Kegiatan live in di Keuskupan Surabaya ini kemudian ditutup dengan pentas seni yang dapat dikatakan sangat sukses, selain karena penampilan yang memukau dari setiap keuskupan peserta live in, antusiasme hadirin, dan keseruan pembawa acara.

Walikota Surabaya Tri Rismaharini juga hadir sebagai undangan sekaligus memberi sambutan.

Komsos Keuskupan Banjarmasin: Hidup Berubah, Ketika Saya Mulai Berubah (3)

Penggiat Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Banjarmasin, Kalsel.

Sumber: Sesawi

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.