Kita Doakan Semua yang Sudah Mendahului Kita

“Sebab jika tidak menaruh harapan bahwa orang-orang yang gugur itu akan bangkit, niscaya percuma dan hampalah mendoakan orang-orang mati.” (2Mak 12, 44) SAYA baru saja pulang dari sebuah lingkungan. Malam ini ada sebuah keluarga yang memperingati satu tahun meninggalnya seorang ibu. Beliau meninggal karena suatu penyakit berat. Warga lingkungan juga hadir. Kami merayakan Ekaristi peringatan […]

“Sebab jika tidak menaruh harapan bahwa orang-orang yang gugur itu akan bangkit, niscaya percuma dan hampalah mendoakan orang-orang mati.” (2Mak 12, 44)

SAYA baru saja pulang dari sebuah lingkungan. Malam ini ada sebuah keluarga yang memperingati satu tahun meninggalnya seorang ibu. Beliau meninggal karena suatu penyakit berat. Warga lingkungan juga hadir.

Kami merayakan Ekaristi peringatan arwah. Besok malam, saya juga diminta untuk memimpin Perayaan Ekaristi dengan intensi yang sama, yakni untuk mendoakan arwah seorang umat yang sudah dipanggil Tuhan.

Gereja Katolik memang memberikan tempat khusus bagi orang yang sudah meninggal. Mendoakan arwah merupakan kebiasaan baik yang dilaksanakan Geereja sampai saat ini. Orang yang sudah meninggal senantiasa diperingati dan didoakan secara berturut-turut pada hari yang ke-3, 7, 40, 100, 1 tahun, 2 tahun dan 1000 hari.

Dalam peristiwa seperti ini anggota keluarga, sanak saudara dan tetangga berkumpul untuk berdoa, baik dengan Perayaan Ekaristi maupun ibadat. Mereka mohon agar Tuhan berkenan mengampuni segala dosa-dosa orang yang sudah meninggal dan memberikan kebahagiaan kekal bagi jiwanya. Semoga mereka yang sudah berbahagia di surga juga menjadi pendoa atau penyalur berkat bagi keluarga yang masih dalam peziarahan di dunia.

Ini merupakan doa pokok dalam kesempatan peringatan arwah. Selain itu, Gereja secara khusus juga mempunyai waktu untuk memperingati arwah semua orang beriman, yakni pada tanggal 2 November. Orang-orang yang sudah meninggal tidak mampu lagi berbuat sesuatu yang baik bagi dirinya sendiri.

Maka bantuan dari anggota keluarga, sanak saudara dan tetangga yang masih hidup amat diperlukan.

Kesediaan dan kerelaan mereka untuk mengunjungi makam, membersihkannya, mendoakannya secara pribadi atau dalam kebersamaan dengan umat beriman lain selama 8 hari berturut-turut akan meringankan siksa dosa yang harus ditanggung orang yang sudah meninggal.

Mendoakan orang mati tidak hanya menjadi kebiasaan baik umat beriman. Kebiasaan ini mengungkapkan adanya kesatuan antara orang yang sudah meninggal dengan mereka yang masih hidup. Selain itu, hal ini sesungguhnya juga mengungkapkan harapan Gereja akan kebangkitan. Maut dan kematian bukanlah akhir dari segala-galanya, tetapi awal dari kebangkitan dan kemuliaan hidup.

Semoga jiwa-jiwa orang beriman mendapatkan kebahagiaan abadi karena kerahiman Tuhan.

Teman-teman selamat pagi dan selamat berhari Minggu. Berkah Dalem.

Kredit foto: Prosesi pemakaman (Mathias Hariyadi)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply