Kisah Seorang Matius

Ayat bacaan: Matius 9:9
===================
“Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: “Ikutlah Aku.” Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia.”

Yesus menyelamatkan, Yesus untuk orang berdosa

Maukah kita melayani sungguh-sungguh jika hanya untuk seorang saja? Bagi sebagian orang mungkin itu buang-buang waktu dan tenaga. Apalagi jika masalah yang dihadapi rumit. Ada banyak orang yang mungkin buat sementara butuh telinga untuk mendengarkan saja jauh melebihi kebutuhannya untuk diberi nasihat atau masukan. Mereka perlu ada orang yang mau mendengar keluhan dan kepedihan mereka, dan mereka biasanya akan menceritakannya berulang-ulang. Hal ini membutuhkan kesabaran dari kita, yang mungkin di saat yang sama punya kesibukan sendiri-sendiri. Namun hal itu bisa sangat berarti bagi mereka, dan bagi saya, satu orang yang bisa selamat sudah membawa kebahagiaan luar biasa. Apa yang membuat saya paling bahagia bukan karena kehebatan saya, dan bukan pula karena Tuhan mau pakai saya, walaupun hal itu adalah sebuah kehormatan yang tidak terhingga bagi saya, namun apa yang paling membuat saya bahagia adalah ketika ada satu orang yang akhirnya bisa selamat dan terhindar dari kematian kekal dan penyiksaan tanpa batas dalam kekekalan.

Mari kita lihat perjumpaan Matius dengan Yesus. “Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: “Ikutlah Aku.” Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia.” (Matius 9:9). Perhatikan bahwa seorang pemungut cukai yang tengah duduk-duduk di kantor pajaknya tiba-tiba didatangi Yesus, orang yang sebelumnya tidak ia kenal, namun ia mau berdiri dan mengikut Yesus. Dan perhatikan pula sebaliknya, Yesus mau meluangkan waktunya untuk mendatangi dan mengajak Matius, orang yang statusnya tidak baik di pandangan masyarakat waktu itu, untuk mengikutinya. Tidak saja mengajak Matius, tapi Yesus malah mau makan di rumahnya. Teman-teman sesama pemungut cukai dan orang berdosa lainnya mungkin melihat hal ini luar biasa, maka mereka pun berbondong-bondong datang untuk ikut makan bersama-sama dengan Yesus dan para murid. Di sisi lain, orang-orang Farisi yang merasa sangat suci malah kebingungan. Mereka tidak mengerti mengapa Yesus mau makan bersama-sama tukang pajak dan orang berdosa. Apa reaksi Yesus? “Yesus mendengarnya dan berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.” (ay 12). Kemudian dilanjutkan dengan “Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (ay 13). Apa yang kemudian terjadi pada Matius? Kita melihat Matius mengalami pemulihan dan transformasi total dalam hidupnya. Dari seorang pemungut cukai, Matius berubah menjadi pengikut Tuhan Yesus dengan sepenuh hati. Dia menjadi salah seorang dari dua belas murid Yesus. Dan kita tahu bahwa Matius juga satu dari penulis Injil. Bukankah hal ini luar biasa?

Yesus datang ke dunia memenuhi kehendak Bapa untuk menyelamatkan manusia. Orang-orang yang “sakit” secara rohani, mental, spiritual, bahkan sakit penyakit yang mungkin membuat orang tidak bisa fokus berhubungan dengan Tuhan sekalipun, semua adalah bagian dari pekerjaanNya. Satu nyawa sekalipun itu sungguh berharga di mata Tuhan! Tidak heran kita melihat Yesus mau meluangkan waktunya untuk makan di rumah seorang berdosa. Dan lihatlah, ada banyak orang berdosa lainnya yang kemudian datang untuk bertemu dengan Sang Juru Selamat. Betapa ironis jika kita melihat para ahli Taurat yang seharusnya paham benar pentingnya keselamatan malah menjauhi mereka, bahkan mengkritik Yesus karena mau masuk ke rumah orang-orang yang berdosa ini, malah makan bersama-sama mereka. Ketika untuk kali kedua mereka sinis kepada Yesus, Yesus pun menjelaskan demikian. “Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?” (Lukas 15:4).Yesus bersukacita jika telah menemukan/menyelamatkan satu domba (ay 6). Tidak hanya Yesus saja, namun seluruh malaikat pun akan bersorak sorai melihat satu orang bertobat. “Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat.” (ay 10). Inilah yang terjadi di Surga ketika satu orang kembali ke jalan yang benar. “Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.” (ay 7).

Dari kisah Matius kita bisa belajar beberapa hal. Yang pertama kita lihat bahwa bagi Yesus satu jiwa selamat itu sangat berharga. Ada sukacita besar di Surga ketika ada satu orang yang bertobat. Kemudian kita juga bisa melihat bahwa untuk selamat dibutuhkan pula kesediaan dari diri kita sendiri. Matius tidak akan selamat apabila ia menolak mengikuti Yesus, meski Yesus sudah memanggilnya. Tuhan mau semua manusia bisa selamat. Dia mengetuk pintu hati kita setiap hari, namun kemauan kita untuk percaya atau menolak, itu akan sangat menentukan kemana kita akan melangkah. Menerima Yesus dalam hidup kita mampu membawa sebuah transformasi total menjadi ciptaan baru. (2 Korintus 5:17). Ada hidup yang diubahkan, ada pemulihan, ada berkat dan ada pula keselamatan, seperti halnya yang terjadi pada Matius. Selain itu, bisa saja ada banyak orang yang datang padaNya setelah melihat bagaimana kita menjadi ciptaan baru di dalam Kristus.

Lihatlah bahwa satu jiwa bertobat itu sungguh sangat berharga di mata Tuhan. Oleh karenanya kita jangan menolak untuk melayani satu orang sekalipun. Keteladanan sudah diberikan langsung oleh Yesus. Ada begitu banyak orang “sakit” di dunia ini yang sangat membutuhkan perhatian, kepedulian, bantuan dan pelayanan. Seperti halnya seluruh malaikat dan Tuhan sendiri bersukacita melihat satu domba yang hilang kembali ditemukan, hendaklah kita pun memiliki sukacita yang sama ketika melihat satu jiwa selamat. Jangan lupakan mereka, jangan tutup mata dan jangan biarkan mereka putus pengharapan dan menjadi jiwa terhilang.

Layanilah sungguh-sungguh meski hanya seorang, sebab satu jiwa itu berharga di mata Tuhan

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply