Kisah Jaka Tarub – Nawang Wulan: Sebuah Pesan dalam Berkeluarga

jaka tarub

NAWANG Wulan, bidadari kahyangan yang jelita itu sudah takluk diperdaya Jaka Tarub. Dipersunting Jaka Tarub merupakan pilihan dalam keterpaksaan, setelah tidak mungkin kembali ke Kahyangan karena tiadanya selendang ajaib sertanya.

Padi di lumbung Djaka Tarub tiada habis dimasak bertahun-tahun berkat karisma kebidadarian Nawang Wulan. Padi sebulir cukup mengenyangkan Jaka Tarub – Nawang Wulan dan seorang anaknya sampai tragedi itu tiba.

Tragedi itu adalah terbongkarnya kepalsuan yang selama ini dipendam Jaka Tarub. “Kutang Kadewatan” yang puluhan tahun dulu hilang, ketika Nawang Wulan remaja mandi di telaga bersama rekan-rekan bidadari remaja, ternyatalah Djaka Tarub sang pencurinya.

Sontak Nawang Wulan secepat kilat mengenakan Kutang saktinya dan terbang ke kahyangan. Suami dan anak, -buah kasihnya dengan Djaka Tarub-, tidak masuk dalam pertimbangan.

Malang, setiba di Kahyangan ditolaklah ia menjadi warga kadewan karena kemurnian kebidadariannya telah “tercemar” oleh kemanusiaan. Keangkuhan dan harga diri menghalanginya turun kembali ke dunia. Akibatnya: darah dagingnya, Jaka Tarub, dan dia sendiri terpisah takterpersatukan.

Ketelanjuran dalam hidup
Nawang Wulan dapat kita jadikan kaca (mirror) bahwa ada kalanya kita harus tunduk pada keadaan. Kita perlu berlatih menemukan kebaikan (kehendak Allah) dalam peristiwa hidup yang kita alami, seburuk apa pun peristiwa itu. Kita perlu mengisi kata “terlanjur” dengan sinar pengharapan, bukan dengan keputusasaan atau kutukan terhadap penyebab.

Nawang Wulan “telanjur” ditipu oleh suaminya, “terlanjur” memiliki buah cinta (?) dengan Jaka Tarub. Ternyata keterlanjuran itu tidak berbuah baik jika dipupuk dengan menyalakan api sakit hati dan dendam. Bukankah hal yang semestinya jika Nawang Wulan yang sudah dalam kondisi beranak dan bersuami, ditolak oleh “keluarga besarnya” ketika, -karena sakit hati-, mau kembali kepada mereka?

Kiranya, “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” (Lukas, 9: 62) berlaku pula untuk Nawang Wulan, walaupun Nawang Wulan adalah korban. Hidup beriman alias membaktikan diri seutuhnya kepada Tuhan (kepada keluarga) memang harus secara total, tidak setengah-setengah atau ragu-ragu, dan tidak perlu menatap ke belakang. Namun dalam kenyataan hidup sehari-hari sering kita tidak total membaktikan diri sepenuhnya kepada Tuhan, karena kecongkakan dan kekerasan hati.

Menempuh jalan sesat
Di sisi lain, kita mendapat pelajaran berharga dari Jaka Tarub. Jaka Tarub memetik cinta melalui kelicikan.

Dalam kasus Jaka Tarub, Mateus, 13:30 berkata “Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. . . . . Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.”, kiranya dapat dibaca, “Biarlah keduanya tumbuh, pada waktu menuai, yang ilalang akan diikat dan dibakar . . .”

Namun patut disayangkan dalam kasus Jaka Tarub – Nawang Wulan ini, padi dan ilalang semua hangus terbakar.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: