Renungan Harian

Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Renungan Harian - Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Kisah Agats Asmat: Hujan Jadi Nafas dan Sumber Kehidupan (6)

DI Kabupaten Agats yang berlokasi 1 jam perjalanan pesawat terbang dari Timika, hujan adalah segala-galanya. Dengan hujan, nafas kehidupan di Kabupaten Agats dan kawasan pedalaman tetap bisa berjalan.  Dengan hujan, sumber kehidupan atas kemurahan Tuhan bernama air hujan tersedia di bak-bak penampungan air hujan di atas atap genting atau di ketinggian rumah.

Dengan air hujan itulah, semua penduduk di Ibukota Kabupaten Agats dan terutama di pedalaman-pedalaman hutan bisa menggantungkan hidupnya. Air hujan dipakai untuk memasak, mandi, mencuci, kebutuhan MCK. Pokoknya kebutuhan akan air  ya dipenuhi dari air hujan itu.

Tanpa hujan, matilah nafas kehidupan di Kabupaten Agats.

8 hari tanpa hujan

Kami –tim kecil KBKK (Kelompok Bakti Kasih Kemanusiaan) beranggotakan 5 orang—berada di Wisma Keuskupan Agats selama 10 hari mulai tanggal 18 sampai dengan 26 Juni 2013 lalu. Selama kurun waktu itu, hujan kecil terjadi hanya dalam hitungan menit. Tidak sampai berjam-jam sebagaimana biasanya.bak penampungan air 1 email ok

Padahal, kata Bapak Uskup Diosis Agats Mgr. Aloysius Murwito OFM, Tuhan amat bermurah hati kepada masyarakat Asmat di Kabupaten Agats. Karunia Tuhan itu berupa curah hujan yang sangat tinggi. Boleh dikata, setiap hari –terutama sore menjelang malam—hujan deras selalu datang mengguyur bumi Agats. “Dengan air hujan itulah, kami bisa hidup sampai hari ini,” tutur Mgr. Aloysius Murwito dalam perbincangan dengan kami di Wisma Keuskupan.

Selama 9 hari itu pula, kami memanfaatkan air hujan yang ditampung di bak-bak penampungan air di ketinggian rumah sebagai ‘sumber kehidupan’ keseharian kami. Kami mandi dengan air hujan. Minum pun juga berasal dari air hujan yang telah dimasak. Kebutuhan MCK tersedia berkat air hujan.

Persis di hari ke-8, ketika kami akan meninggalkan Wisma Keuskupan  Agats, tiba-tiba kawasan Agats diguyur hujan deras.

Hujan ini sedikit banyak membuat kami cemas sekali. Terutama ketika harus meninggalkan Wisma Keuskupan di “pusat kota” Agats ke Bandara Ewer dengan menggunakan long boat tanpa shelter anti hujan dan sinar matahari. Kami harus bergegas mengeluarkan jas hujan untuk melindungi kami dan barang-barang bawaan kami.

Hujan membuat kami cemas. Itu karena hujan bisa saja menjadi kendala serius bagi pesawat capung ultra light tipe Pilatus untuk bisa mendarat di Bandara Ewer. Mengapa? Bandara Ewer dibangun bukan atas dasar tanah beraspal atau beton, melainkan di atas ‘papan’ besi.

Besi kena air hujan bisa jadi licin. Kondisi itu mencemaskan kami.

Bak mandi keuskupan email ok

Hari itu juga, rencana kami bertolak menuju Timika dengan pesawat Pilatus milik AMA batal.  Bukan lantaran hujan deras mengguyur kawasan Agats, melainkan karena terjadi kebocoran sistem hidrolik pesawat AMA di  Ilaga.

Ilaga adalah kawasan pegunungan, sekitar 30 menit penerbangan dari Timika.

Setelah menunggu hampir 3 jam dengan harapan pesawat bisa diperbaiki, akhirnya kami pulang kembali ke Wisma Keuskupan dengan ‘berlayar’ kembali menggunakan long boat selama 25 menit dari Bandara Ewer.  Pesawat Pilatus yang sedianya menerbangkan kami dari Ewer ke Timika batal mendarat, karena sistem hidrolik belum bisa ditangani di Bandara Ilaga.

Perasaan serba  cemas sekaligus  penasaran karena gagal berangkat  tetap mendera lubuk hati kami sepanjang malam di hari “perpanjangan” kami di Agats.

Menjelang malam, di luaran terdengar bunyi gemericik air hujan membasahi bumi. Kami senang mendengar tetesan air hujan kembali mengisi bak-bak penampungan air di ketinggian rumah.

Kami senang bukan kepalang, karena kran-kran kamar mandi dan WC yang sudah tidak mengalirkan air dalam sekejap bisa kembali  menyuguhkan air ke bak mandi dan ember di WC.

pastoran sagare

Air hujan akhirnya bisa membuat nafas kehidupan kami menikmati hari perpanjangan di Wisma Keuskupan di Agats kembali berderap. Jujur saja, tanpa air hujan sudah pasti kami tidak bisa mandi, tidak bisa nyaman pergi ke WC, dan siapa tahu nyuci piring pun ikut dibuat susah karena cadangan air sudah tidak ada lagi.

Di hari ke-9, Tuhan memberi nafas kehidupan berupa air hujan!

bak penampungan air 1 email okDI Kabupaten Agats yang berlokasi 1 jam perjalanan pesawat terbang dari Timika, hujan adalah segala-galanya. Dengan hujan, nafas kehidupan di Kabupaten Agats dan kawasan pedalaman tetap bisa berjalan.  Dengan hujan, sumber kehidupan atas kemurahan Tuhan bernama air hujan ada tersedia di bak-bak penampungan air hujan di atas atap genting atau di ketinggian rumah.

Dengan air hujan itulah, semua penduduk di Ibukota Kabupaten Agats dan terutama di pedalaman-pedalaman hutan bisa menggantungkan hidupnya. Air hujan dipakai untuk memasak, mandi, mencuci, kebutuhan MCK. Pokoknya kebutuhan akan air  ya dipenuhi dari air hujan itu.

Tanpa hujan, matilah nafas kehidupan di Kabupaten Agats.

8 hari tanpa hujan

Kami –tim kecil KBKK (Kelompok Bakti Kasih Kemanusiaan) beranggotakan 5 orang—berada di Wisma Keuskupan Agats selama 10 hari mulai tanggal 18 sampai dengan 26 Juni 2013 lalu. Selama kurun waktu itu, hujan kecil terjadi hanya dalam hitungan menit. Tidak sampai berjam-jam sebagaimana biasanya.

Padahal, kata Bapak Uskup Diosis Agats Mgr. Aloysius Murwito OFM, Tuhan amat bermurah hati kepada masyarakat Asmat di Kabupaten Agats. Karunia Tuhan itu berupa curah hujan yang sangat tinggi. Boleh dikata, setiap hari –terutama sore menjelang malam—hujan deras selalu datang mengguyur bumi Agats. “Dengan air hujan itulah, kami bisa hidup sampai hari ini,” tutur Mgr. Aloysius Murwito dalam perbincangan dengan kami di Wisma Keuskupan.

Selama 9 hari itu pula, kami memanfaatkan air hujan yang ditampung di bak-bak penampungan air di ketinggian rumah sebagai ‘sumber kehidupan’ keseharian kami. Kami mandi dengan air hujan. Minum pun juga berasal dari air hujan yang telah dimasak. Kebutuhan MCK tersedia berkat air hujan.

Bak penampungan air 3 email ok

Persis di hari ke-8, ketika kami akan meninggalkan Wisma Keuskupan  Agats, tiba-tiba kawasan Agats diguyur hujan deras.

Hujan ini sedikit banyak membuat kami cemas sekali. Terutama ketika harus meninggalkan Wisma Keuskupan di “pusat kota” Agats ke Bandara Ewer dengan menggunakan long boat tanpa shelter anti hujan dan sinar matahari. Kami harus bergegas mengeluarkan jas hujan untuk melindungi kami dan barang-barang bawaan kami.

Hujan membuat kami cemas. Itu karena hujan bisa saja menjadi kendala serius bagi pesawat capung ultra light tipe Pilatus untuk bisa mendarat di Bandara Ewer. Mengapa? Bandara Ewer dibangun bukan atas dasar tanah beraspal atau beton, melainkan di atas ‘papan’ besi.

Besi kena air hujan bisa jadi licin. Kondisi itu mencemaskan kami.

Hari itu juga, rencana kami bertolak menuju Timika dengan pesawat Pilatus milik AMA batal.  Bukan lantaran hujan deras mengguyur kawasan Agats, melainkan karena terjadi kebocoran sistem hidrolik pesawat AMA di  Ilaga.

Ilaga adalah kawasan pegunungan, sekitar 30 menit penerbangan dari Timika.

Setelah menunggu hampir 3 jam dengan harapan pesawat bisa diperbaiki, akhirnya kami pulang kembali ke Wisma Keuskupan dengan ‘berlayar’ kembali menggunakan long boat selama 25 menit dari Bandara Ewer.  Pesawat Pilatus yang sedianya menerbangkan kami dari Ewer ke Timika batal mendarat, karena sistem hidrolik belum bisa ditangani di Bandara Ilaga.

Perasaan serba  cemas sekaligus  penasaran karena gagal berangkat  tetap mendera lubuk hati kami sepanjang malam di hari “perpanjangan” kami di Agats.

Menjelang malam, di luaran terdengar bunyi gemericik air hujan membasahi bumi. Kami senang mendengar tetesan air hujan kembali mengisi bak-bak penampungan air di ketinggian rumah.

Kami senang bukan kepalang, karena kran-kran kamar mandi dan WC yang sudah tidak mengalirkan air dalam sekejap bisa kembali  menyuguhkan air ke bak mandi dan ember di WC.

Bak mandi keuskupan email okAir hujan akhirnya bisa membuat nafas kehidupan kami menikmati hari perpanjangan di Wisma Keuskupan di Agats kembali berderap. Jujur saja, tanpa air hujan sudah pasti kami tidak bisa mandi, tidak bisa nyaman pergi ke WC, dan siapa tahu  piring-piring kotor di dapur tidak bisa bersih kembali karena tidak bisa dicuci dan dibilas.

Cadangan air sudah habis. Semua air di bak-bak penampungan sudah tipis, karena selama 8 hari terakhir tidak ada hujan deras.

Akankah kami harus mandi dengan air mineral? Itu pertanyaan konyol tapi terbersit nakal di benak kami.

Namun ternyata pada hari ke-9, Tuhan masih bermurah hati dengan memberi nafas kehidupan berupa air hujan!

0saves
If you enjoyed this post, please consider leaving a comment or subscribing to the RSS feed to have future articles delivered to your feed reader.
Category: Sesawi

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*