Kisah 25 Sen

Ayat bacaan: Titus 2:7
=================
“dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu”

jujur dalam perkara kecil

Sebuah email forward-an saya terima hari ini berisikan sebuah kisah yang menarik. Ceritanya mengenai pengalaman seorang pendeta yang baru saja pindah ke negara bagian lain di Amerika. Beberapa minggu setelah ia tiba disana, pada suatu hari ia naik ke sebuah bus untuk menuju suatu tempat agak ke luar kota. Ketika ia duduk, ia menyadari bahwa ternyata uang kembalian yang diberikan supir berlebih 25 sen. Ia kemudian mempertimbangkan apa yang harus ia lakukan. Hatinya berkata, “saya harus mengembalikan uang 25 sen ini.” Tetapi kemudian pikirannya berkata, “ah lupakan saja, kan cuma 25 sen saja..mengapa harus repot dengan jumlah sekecil itu?” Uang pecahan sekecil itu toh tidak akan merugikan supir dan pengusaha pemilik bus. Ia terus berpikir sepanjang perjalanan. “Mungkin saya sebaiknya menerima saja sebagai sebuah “hadiah kecil dari Tuhan” dan mendiamkan saja pura-pura tidak tahu. Ketika ia sampai di tempat tujuan ia pun berdiri sejenak di pintu, lalu mengembalikan uang pecahan itu kepada supir sambil berkata, “anda tadi kelebihan memberi kembalian.” Dan si supir kemudian tersenyum dan berkata: “anda kan pendeta baru di kota ini?” Si pendeta pun terkejut seraya mengiyakan. Lalu supir itu melanjutkan, “saya sedang mencari tempat yang tepat untuk menyembah Tuhan. Saya tadi ingin mencoba anda, apa yang akan anda lakukan jika mendapat kembalian lebih dari yang seharusnya. Baiklah kalau begitu, sampai ketemu hari Minggu.” ucap sang supir sambil tersenyum. Pendeta itu pun kemudian tertegun dan berkata, “Ya Tuhan, saya hampir saja menjual AnakMu hanya untuk 25 sen.” Ia bersyukur sudah mengambil keputusan yang tepat, meski uang itu sangatlah kecil nilainya dan tidak akan merugikan siapapun.

Adalah penting bagi kita untuk terus bersikap jujur dalam kondisi,situasi apapun dan atas jumlah berapapun. Godaan-godaan seperti itu akan terus datang dalam hidup kita. Kita cenderung mengabaikan untuk bersikap jujur ketika ada keadaan yang menguntungkan kita seperti mendapat kembalian lebih ketika berbelanja misalnya. “Ah biar saja, toh itu salah dia, bukan salah saya..” itu bisa muncul dipikiran kita untuk membuat kita terjebak melakukan hal yang salah. Bahkan yang lebih parah, kita mungkin malah membawa-bawa Tuhan di dalamnya, dengan menganggap bahwa itu hadiah dari Tuhan. Tuhan tidak akan pernah memberi hadiah yang merugikan orang lain. Meski jumlahnya relatif kecil sekalipun, itu tidak akan pernah benar, dan sekecil apapun,sebuah dosa tetaplah dosa.

Cerita ini memberi sebuah keteladanan tepat seperti yang disampaikan Paulus dalam surat untuk Titus. “dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu.” (Titus 2:7). Perhatikanlah bahwa pesan ini bukan hanya berlaku bagi pendeta, penginjil atau hamba-hamba Tuhan saja, tetapi juga kepada kita semua orang percaya. Sebagai anak-anak Tuhan kita seharusnya menunjukkan integritas yang baik dengan perbuatan yang sesuai dengan perkataan, sesuai dengan ajaran Tuhan, sesuai dengan gambaran orang percaya yang benar, menghasilkan buah-buah yang sesuai dengan pertobatan, seperti yang diajarkan pada kita dalam Matius 3:8. Seperti apa yang dialami oleh pendeta di atas, segala perilaku, perbuatan dan keputusan-keputusan yang kita ambil akan tetap menjadi perhatian orang lain. Alangkah ironisnya apabila kita sebagai anak-anak Tuhan sama sekali tidak mencerminkan sikap seperti Bapa kita, malah sebaliknya memberi citra negatif dengan bersikap munafik, terus mencari kepentingan sendiri tanpa merasa bersalah jika merugikan orang lain. Kelanjutan dari ayat Titus di atas mengingatkan kita agar terus bersikap jujur, “..sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita.” (ay 8).

Jujur dalam segala hal merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar atau dinegosiasikan dengan alasan apapun. Salomo yang penuh hikmat berkata “Orang yang jujur dipimpin oleh ketulusannya, tetapi pengkhianat dirusak oleh kecurangannya.” (Amsal 11:3). Dan dalam bagian lain ia berkata “karena orang yang sesat adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi dengan orang jujur Ia bergaul erat.” (3:32). Kita harus ingat bahwa Tuhan bergaul erat dengan orang-orang jujur, sebaliknya dosa sekecil apapun bisa membuat jurang menganga untuk memutuskan hubungan kita dengan Tuhan. “tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.” (Yesaya 59:2). Jangan lupa bahwa kita membawa nama Kristus dalam setiap langkah hidup kita. Email yang saya terima itu ditutup dengan sebuah rangkaian yang sangat baik untuk kita renungkan: Watch your thoughts ; they become words. Watch your words, they become actions. Watch your actions, they become habits. Watch your habits, they become character. Watch your character, it becomes your destiny. Jangan beri toleransi untuk menghalalkan kejahatan, jangan buat timbangan sendiri untuk besar kecil atau boleh tidaknya kita melakukan kecurangan atau menutup mata atas sesuatu yang menguntungkan kita tetapi merugikan orang lain, “dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.” (Efesus 4:27). Hendaklah kita terus bersikap jujur dalam perkara apapun, agar kita bisa menjadi kesaksian tersendiri akan Kristus di dunia ini.

Jujurlah dalam segala hal tanpa memandang besar kecilnya, karena setiap pelanggaran tetaplah dosa

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

5 pencarian oleh pembaca:

  1. menurut iman katolik jika kita terima uang kembalian berlebih
Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.