Kilas Balik Pekan Komsos Nasional KWI di Keuskupan Manokwari-Sorong

Tim Komsos disambut dengan Tari Wuon yang diperagakan oleh Seminaris Petrus van Diepen / Foto : Abdi

Pekan Komunikasi Sosial Nasional Konferensi Waligereja Indonesia (PKSN-KWI) telah usai. Namun rasanya kesan mendalam selama sepuluh hari di Keuskupan Manokwari-Sorong dari 11-20 Mei masih mengena di hati. Memang, PKSN-KWI usai hingga 17 Mei saja, namun Tim Komsos KWI baru pulang dari Kota Minyak ini tanggal 20 Mei. Berikut catatan perjalanan di Kota Kepala Burung ini.

Disambut Tari Wuon

Senin, 11 Mei, jelang pembukaan PKSN-KWI, Tim Komsos tiba di Bandar Udara Domine Edward Osok, Sorong, Papua siang hari, sekitar pukul 13.00 WIT. Saat itu Bandara terasa bagai berada dekat matahari. Alat pengukur suhu di ponsel menunjukkan 29 derajat celsius. Tapi para pemuda dari Seminari Menengah Petrus Van Diepan Sorong kelas dua dan tiga berjumlah 40 orang ini begitu bersemangat berjoget menarikan Tarian Wuon, tari selamat datang ala Sorong, Papua.

“Mereka sudah menunggu satu jam lebih dan selalu bertanya apakah tamunya sudah datang atau belum,”ujar salah satu guru.

Dengan kostum minim alias hanya koteka dan cawat, kulit-kulit hitam berambut keriting itu serasa sudah terbiasa dengan sengatan sang surya di terang hari bolong itu menyambut kedatangan tamu dari Jakarta. Mereka bregerombol menari mengiringi para tamu.

“Secara resmi kami menyambut tamu dari tim Komsos KWI yang datang jauh-jauh dari Jakarta ke Sorong,”ujar Uskup Keuskupan Manokwari – Sorong Monsinyur Hilarion Datus Lega memberi sambutan. Sebelumnya Sang Monsinyur mengalungkan kain batik khas Papua pada rombongan Komsos KWI yang dipimpin Sekretaris Eksekutif RD Kamilus Pantus sambil diiringi teriakan para pemuda tanggung sambil menari tarian Wuon.

Sebenarnya ini adalah tarian inisiasi yang membawa para pemuda Papua menunju akil balik, saatnya mereka keluar hutan dan menjadi orang dewasa. Saat ini tarian yang dimainkan para seminaris ini kebanyakan digunakan untuk menyambut para tamu. Selanjutnya para tamu dibawa ke Katedral Kristus Raja untuk makan siang dan ramah tamah sekaligus diajak berkeliling ke lokasi utama acara Pekan Komunikasi Sosial Nasional ke-49 ini nanti diadakan, utamanya Aula ‘Lux ex Oriente’ Katedral Sorong yang baru selesai dibangun.

Pekan Komunikasi Sosial Nasional- Konferensi Waligereja Indonesia (PKSN-KWI) kali ini sengaja dihelat di Keuskupan Manokwari – Sorong atas usulan sang uskup, Yang Mulia Mgr. Hilarion Datus Lega di sela Sidang Tahunan Para Uskup Indonesia Bulan November 2014.

“PKSN-KWI menjadi kesempatan memberikan animasi pastoral komunikasi dan budaya bagi pelaku pastoral pada tingkat Gereja lokal dan masyarakat pada umumnya,”ujar RD Kamilus Pantus.

Hari Pertama

Ratusan orang muda katolik (OMK) Papua memenuhi ruang Aula Kampus Politeknik Sint Paul, Sorong, Papua, Selasa (12/5/2015) sejak pagi hingga sore di hari pertama Pekan Komunikasi Sosial Nasional Konferensi Waligereja Indonesia (PKSN-KWI). Selain dari wilayah Sorong, ada juga OMK yang berasal dari Kabupaten Aimas, Bintuni, Manokwari, Maybrat, Fak Fak, Kaimana, dan mahasiswa-mahasiswi STPK (Sekolah Tinggi Pastoral Kateketik Santo Benediktus Sorong) yang tidak mewakili kabupaten.

120-an OMK ini mengikuti pelatihan jurnalistik sebagai kegiatan awal PKSN-KWI yang mendahului acara pembukaan yang hendak diawali dengan Ekaristi pada Selasa sore hari pukul 17.00 WIT.

Hingga esok atau selama dua hari para peserta dijejali dengan beragam materi tentang bagaimana menulis yang baik, meliput berita, wawancara, mengambil sudut berita juga belajar tentang memahami fotografi jurnalistik.

Dua narasumber ahli, pertama Mathias Hariyadi mantan wartawan Harian Kompas membawakan materi tentang jurnalistik dan Dosen Desain Grafis Institut Kesenian Jakarta Dionisisus Bowo membawakan sesi fotografi.

“Kami ingin agar teman-teman bisa menjadi mata dan perpanjangan tangan gereja dalam mewartakan kaar baik ke seluruh dunia lewat menulis di media khususnya media digital. Karena itu belajar menulis adalah wajib dan harus dimulai dari sekarang,”tegas Mathias Hariyadi.

Di sela pelatihan, peserta diajak untuk bergembira dengan joget dan menyanyi. Menurut Mathias, ini adalah cara agar anak muda bisa dengan mudah menerima apa yang diajarkan.

Misa Pembukaan Dipimpin Mgr. Datus Lega

Ekaristi pembukaan Pekan Komunikasi Sosial Nasional Konferensi Waligereja Indonesia (PKSN-KWI) di Gereja Katedral Kristus Raja, Sorong, Papua Barat berlangsung meriah, Selasa (12/5/2014). Ratusan umat Keuskupan Manokwari-Sorong dengan penuh hikmat dan suka cita merayakan misa konselebari dengan selebran utama Uskup Keuskupan Manokwari-Sorong, Monsinyur Hilarion Datus Lega.

Kemeriahan dan suka cita ini makin terasa mana kala lagu pembukaan dilantunkan oleh paduan suara dari gabungan orang muda katolik (OMK) Keuskupan Sorong. Setidaknya ada tujuh paroki dengan total peserta mencapai 140 orang.

Gema lagu-lagu dengan nada tinggi menelurkan decak kagum usai misa berlangsung. Jepretan foto dari panitia dan peserta yang kagum suara emas OMK serta ucapan selamat menjadi bukti bahwa latihan selama dua minggu (seminggu tiga kali) membuahkan hasil yang luar biasa.

Uskup dalam kotbahnya menyebut OMK sebagai tulang punggung kegiatan PKSN-KWI. Karena itu dia berharap, “perayaan hari komunikasi sosial nasional yang berlangsung sepekan ini semoga tidak hanya terasa selama minggu ini saja, melainkan juga terus menerus sepanjang tahun,”ujar Monsinyur dalam kotbahnya.

Komunikasi, menurut Monsinyur, menempatkan orang-orang pada satu titik temu (to meet). Titik temu ini lalu membuat satu sama lain saling menggapai (to reach) hingga akhirnya membawa orang-orang pada titik yang saling memperkaya diri (riching point). Hal yang sama juga dilakukan Allah yang menyampaikan pesan atau berita kepada umat manusia lewat Yesus Kristus. Di dalam Yesus lah titik temu itu terjadi hingga pada akhirnya memperkaya manusia sendiri dengan cinta.

Paus Fransiskus pada tahun ini menekankan pentingnya kebersama dalam keluarga, kata Monsinyur Datus, namun Keuskupan Manokwari – Sorong mewujudkan itu dengan memperkuat peran orang muda katolik (OMK). Sebagian besar aktivitas PKSN-KWI kali ini akan disesaki oleh anak-anak muda luar biasa dari berbagai tempat di Sorong.

Karena itu uskup berharap agar dengan tangan-tangan muda berbakat OMK, gema dari pesan Paus Fransiskus ini akan terus menggaung tidak hanya terbatas pada tanggal 12 sampai 17 Mei saja. “Semoga ini juga didukung oleh keluarganya masing-masing,”tegas Monsinyur Hilarion.

Uskup menegaskan pula agar prinsip-prinsip penting dalam berjumpa tetap terus dimaknai dalam hidup kita sehari-hari apalagi kalau dikaitkan dengan Tuhan sendiri. “Marilah meyakinkan diri bahwa Tuhan memberkati jalannya pekan komunikasi sosial nasional ini.”ujar Uskup menutup kotbah.

Hari Kedua

200-an siswa-siswi SMP dan SMA yang datang dari 11 sekolah sekota Sorong tampak antusias mendengarkan paparan wartawan liputan6.com  Gabriel Abdi Susanto yang menjadi narasumber pada seminar sosialisasi dampak positif dan negatif media sosial bagi remaja di hari kedua Pekan Komunikasi Sosial Nasional – Konferensi Waligereja Indonesia (PKSN – KWI) di Aula Lux ex Oriente Katedral Sorong, Papua, Rabu (13/5/2015) siang.

Antusiasme ini tampak dari banyaknya para siswa yang tunjuk jari saat pertanyaan demi pertanyaan diajukan oleh pembicara. Seperti misalnya, apa saja bentuk-bentuk media komunikasi, bagaimana media komunikasi berevolusi menjadi media sosial, apa itu media sosial, apa saja manfaat media sosial dan bagaimana menyikapinya serta bahaya yang harus diwaspadai. Juga strategi memanfaatkan media sosial agar tidak terjerembab dengan efek buruknya.

“Sebagian besar siswa rupanya menguasai dan paham betul perihal manfaat dan bahaya media sosial karena itu memang dunia mereka.” ujar Abdi Susanto.

Selain tema mengenai strategi memanfaatkan media sosial, pembicara lain, yakni Sekretaris Eksekutif Komsos KWI RD. Kamilus Pantus memberikan sudut pandang teologi mengenai komunikasi. Menurut Romo Kamilus, Yesus harus menjadi contoh bagaimana kita berkomunikasi dengan orang lain.

Dengan caranya yang sederhana namun mengena, Yesus telah menyampaikan kabar suka cita kepada siapa saja. Meski selalu dengan cara lembut, kadang-kadang Yesus pun menegur keras bila ada sesuatu yang kurang berkenan di hadapan Allah. Cara Yesus menyampaikan pesannya sesuai dengan konteks penerimanya dengan contoh-cotoh yang hidup.

Sementara Ketua Komsos Keuskupan Agung Semarang RD.Petrus Noegroho Agoeng menyampaikan bagaimana bermain dengan media sosial. Menurut Romo Agoeng, bermain dengan media sosial bisa ditempuh dengan 5M + 1B yaitu Melihat, Menandai, Memilih, Mencontoh, Menambah, dan Berkreasi. “Hindari dampak buruk media sosial, tetapi gunakan sebanyak-banyaknya manfaat dan keuntungan dari media sosial” ujar Romo Agoeng.

Meriahnya Lomba Debat di Hari Kedua

Rabu (13/5/2015) siang di hari kedua Pekan Komunikasi Sosial Nasional Konferensi Waligereja Indonesia (PKSN-KWI) suasana Aula Lux Ex Oriente Katedral Sorong, Papua riuh dengan suara siswa-siswa sekolah menengah atas berkaos merah muda. Semua mata tertuju pada panggung berlatar kain putih kuning dengan dua meja tanggung berisi tiga orang siswa saling berhadapan masing-masing beradu argumen.

Suasana debat terlihat serius dan tegang karena masing-masing anak berusaha mempertahankan argumennya.Tidak tanggung-tanggung topik yang mereka perdebatkan cukup seru sekitar hukuman mati bagi bandar narkoba, merokok menyebabkan kualitas anak bangsa menurun, pergaulan di media sosial, UU pornografi, hingga soal kewajiban hukuman mati para koruptor Indonesia.

Sebelumnya, panitia telah menyiapkan setidaknya 21 materi (mosi) yang diperdebatkan dalam lomba yang dibagi dalam empat sesi, penyisihan, perempat final, semi final dan final. Lomba yang menggunakan metode Australs Parliamentary ini baru pertama kali dicoba di Sorong. Namun rupanya anak-anak ini tampak sudah langsung bisa membawakannya dengan mudah.

Proses tidak terlalu sulit karena ketiga peserta dari masing-masing kelompok hanya sekali diperkenankan menyampaikan mosi dan argumen plus satu pidato jawaban untuk masing-masing kelompok. Total waktu hanya sembilan menit untuk masing-masing kelompok.

Salah satu debat yang menarik adalah saat topik hukuman mati bagi bagi bandar narkoba. Kelompok yang pro yakni SMA 3 grup 2 berpendapat bahwa hukuman mati itu perlu karena narkoba telah merusak, dan membunuh generasi muda. Lebih baik menghilangkan satu nyawa, untuk menyelamatkan ratusan bahkan ribuan nyawa.

“Seperti nenek monyang kita, saat mengalahkan musuh, maka rajanya dulu yang dikalahkan. Demikian pula untuk memberantas narkoba, yakni dengan menangkap bandar Narkoba. Dan menghukum seberat-beratnya supaya memberi efek jera.” Demikian pendapat dari ketua tim pro yang disebut dengan Prime Minister grup SMA Negeri 3 kota Sorong.

Sementara kelompok yang kontra dari SMK 1 KAB SORONG grup 1 mengatakan hukuman mati itu telah melanggar hak asasi manusia.”Kenapa para bandar dan pengedar Narkoba tidak dihukum seumur hidup saja? Tuhan saja memberi kesempatan manusia untuk bertobat? kenapa manusia tidak? Bahkan hukuman mati juga telah merusak hubungan baik dengan negara yang warganya di hukum mati di negara kita?.” Begitu jawaban Ketua tim oposisi tentang terhadap hukuman mati yang disambut tepuk tangan para pendukungnya.

Menarik karena setidaknya tema ini masih hangat dan para siswa menurut ketua tim juri, Abdi Susanto menganggap mereka menguasai masalah yang ada.  “Sebagian besar topik yang masih hangat dan aktual membuat suasana lebih hidup karena kebanyakan dari anak-anak ini menguasai topik,”ujar Abdi.

Lomba debat diikuti 14 Kelompok yang datang dari 7 sekolah se-kota Sorong-Papua yang akhirnya dimenangi oleh SMA Negeri 3 Kota Sorong sebagai juara pertama, SMA YPPK Augustinus juara kedua dan SMA Seminari Petrus van Diepen juara ketiga. Selain Abdi Susanto sebagai juri ketua, tm penilai terdiri diperkuat oleh RD. Antonius Harianto Sekretaris Komisi Kepemudaan KWI dan CEO Suara Surabaya Errol Jonathans.

Hari Ketiga

Sore hari di hari ketiga Pekan Komunikasi Sosial Nasional – Konferensi Waligereja Indonesia (PKSN-KWI) diisi dengan kegiatan rekoleksi Orang Muda Katolik (OMK) se-Keuskupan Manokwari-Sorong. Setidaknya ada 146 peserta yang datang dari Fak Fak, Kaimana, Bintuni, Aimas, Maybrat, Manokwari, dan Sorong sendiri meramaikan kegiatan yang berlangsung dua hari, 14-15 Mei.

Sekretaris Eksekutif Komisi Kepemudaan KWI RD Antonius Haryanto menyambut gembira respons OMK yang hadir di Ruang Aula Lux ex Oriente Katedral Sorong, Papua. “Mereka begitu antusias dan responsif. Sangat luar biasa dan berani tampil,”ujar Romo Hary, Kamis (14/5/2015).

Di awal rekoleksi Romo Hary mengajak muda-mudi untuk menyadari keberadaan diri mereka. Apa yang mereka rasakan, bagaimana diri mereka saat ini dan kemudian menyadari siapa dirinya sesungguhnya. “Agar kemudian mereka bisa keluar dan tidak terkungkung memperhatikan diri sendiri,”ujar Romo Hary.

Dari situ, OMK diajak melihat kondisi lingkungannya sendiri, gerejanya. Apa saja yang menjadi kelemahan dan kekuatannya dan untuk selanjutnya di esok hari mereka diajak untuk mencari solusi yang sebaiknya mesti dibuat untuk menyelesaikan semua persoalan yang ada secara konkret. Setelah itu, solusi inilah yang mesti dibawa pulang ke tempatnya masing-masing.

Hari Keempat

Pentingnya memahami bagaimana berkomunikasi yang efektif menjadi hal yang pokok dalam Pekan Komunikasi Sosial Nasional – Konferensi Waligereja Indonesia (PKSN-KWI) yang berlangsung di Keuskupan Manokwari-Sorong 12-17 Mei selain persoalan keluarga. Karena itu pelatihan public speaking dan presentasi berperan penting dalam proses ini di hari keempat PKSN-KWI.

“Selama ini para pastor atau katekis hanya dibekali dengan pengetahuan tentang katekismus saja tetapi tidak tahu bagaimana menyampaikan ilmu itu dengan baik. Sebab itu, mereka perlu memahami dengan benar bagaimana cara berkomunikasi yang efektif,”ujar Errol Jonathans. Sehingga setidaknya selama sembilan jam, sesi untuk kesempatan ini diberikan kepada pakar komunikasi dan CEO Suara Surabaya ini menyampaikan bahasan penting ini di hadapan para pastor, suster, guru, dan para katekis di Keuskupan Manokwari-Sorong, Papua, Jumat (15/5/2015).

“Paling tidak ada tiga sasaran penting yang ingin dicapai dalam pelatihan ini. Pembongkaran pengetahuan, konsep, dan masalah attitude dalam berkomunikasi,”ujar Errol.

Dari sisi pengetahuan, pelatihan memberi dasar pengetahuan bagi peserta untuk memahami apa itu komunikasi dan bagaimana komunikasi mesti dijalankan.  Pada tataran konsep, peserta diharapkan mampu memahami secara mendalami apa itu komunikasi antar pribadi, komunikasi publik dan komunikasi massa.

Sementara attitude dicapai dengan cara mengubah cara pikir yang tertanam selama ini mengenai pentingnya persoalan kemasan dalam berkomunikasi.

“Kita sebelumnya yakin dengan istilah don’t judge the book by its cover. Tapi saya ubah, kemasan justru makin menguatkan komunikasi itu. Kaver itu justru yang diperindah agar buku itu makin laku,”ujar Errol.

Kemasan, dalam hal ini public speaking menjadi hal penting. Semua peserta, menurut Errol harus tahu bagaimana memanfaatkan banyak hal dan tantangan-tantangan yang harus diwaspadai dalam membawakan materi tertentu pada khalayak atau berkomunikasi di hadapan publik.

Gempita Malam Budaya

Malam harinya, pesta Budaya OMK dimulai. Gedung Aula Gereja Kristus Raja Katedral Sorong Lux ex Oriente terasa mau rubuh ketika Edo Kondologit hendak memungkasi Malam Budaya pada Sabtu (16/5/2015). Setidaknya enam tembang dilantunkan penyanyi kelahiran Sorong ini. Teriakan “lagi..lagi…lagi…” tak bisa ditolaknya hingga akhirnya Edo pun menyanyikan satu lagi lagu reggae ditambah satu lagu bersama penyanyi lokal Ocha Sentuf.

Suasana makin gempita, saat para anak muda ini berkerumun di depan dan atas panggung aula berkapasitas 1.500 orang ini. Mereka beryanyi, melambaikan tangan, berjoget dalam suasana hati yang luar biasa gembira. Keriangan makin menjadi saat Monsinyur Datus Lega yang ditodong untuk menyanyikan lagu ‘Aku Papua’ oleh Edo menyelesaikan satu bait lagu dengan suaranya yang merdu.

Acara yang menjadi salah satu rangkaian kegiatan dalam Pekan Komunikasi Sosial Nasional – Konferensi Waligereja Indonesia (PKSN-KWI) ini didominasi oleh Orang Muda Katolik dari seluruh Keuskupan Manokwari-Sorong dan dihadiri juga oleh Uskup Keuskupan Ambonia, Mgr. Petrus Kanisius Mandagi.

“Semoga Pekan Komsos ini memberi arti bagi umat Keuskupan Manokwari-Sorong agar makin berkembang dalam cinta,”ujar Ketua Komsos KWI Mgr. Petrus Turang dalam sambutannya.

Sebelum Edo, pentas seni malam budaya ini diisi dengan beragam tampilan dari berbagai kelompok. Seminaris Petrus van Diepen memainkan sebuah fragmen berjudul “Injil Masuk Tanah Papua” dilanjutkan dengan dance dan fragmen “Etalase Panggilan.”

Setelah itu mulailah paduan suara “Laudate Dominum menyajikan lantunan luar biasa gabungan suara-suara mereka dengan tiga lagu. Diselingi sajian dari Ocha Sentuf yang menyajikan lagu ‘Ave Maria’ yang pernah dinyanyikan oleh Beyonce, setelah sambutan dan pembagian hadiah lomba debat, drama musikal dari Sanggar Nani Bili menampilkan cerita berjudul “Surat dari Surga” yang menggambarkan pertarungan antara misi kristen di Papua dengan situasi awal Papua yang masih primitif.

Tampilan beat box oleh seorang seminaris dan lantunan lagu “Halleluia” Ochaf Sentuf tak pelak membuat para hadirin berdecak kagum atas kemampuan para muda-mudi Papua ini. Dan saat waktu menunjukkan pukul 11.30 WIT, berakhir pula malam akrab meriah ini.

Hari Kelima

Puncak PKSN-KWI diisi dengan seminar bertajuk “Mengkomunikasikan Keluarga : Tempat Istimewa Perjumpaan Karunia Kasih”, menghadirkan narasumber yang mumpuni di bidangnya seperti pakar komunikasi dan CEO Suara Surabaya Errol Jonathans, Pakar Filsafat Hukum Universitas Widya Mandira Kupang Norbertus Jegalus MA dengan keynote speaker Ketua Komisi Komsos KWI Mgr. Petrus Turang.

Seminar dihadiri 350 peserta dan diadakan di Aula “Lux ex Oriente” Katedral Sorong, pada Sabtu, 16 Mei 2015, pukul 08.00 WIT sampai selesai. Para imam, biarawan-biarawati, katekis, kelompok kategorial SMA, perguruan tinggi, OMK dan tamu undangan meramaikan kegiatan ini selain para pasutri dari kelompok Marriage Encounter (ME).

“Kami memang sengaja mengundang ratusan pasangan suami istri karena ingin fokuskan perhatian pada keluarga,”ujar Ketua Komsos Keuskupan Manokwari-Sorong Istoto Raharjo.

Dan di hari terakhir, hari keenam, misa penutupan Pekan Komunikasi Sosial Nasional  Konferensi Waligereja Indonesia (PKSN-KWI) berlangsung meriah. Dipimpin tiga uskup, Mgr. Petrus Kanisius Mandagi dan Mgr. Hilarion Datus Lega dengan selebran utama Mgr. Petrus Turang ekaristi penutupan juga dihadiri ratusan umat Kesuskupan Manokwari-Sorong, Minggu(17/5/2015).

Kemeriahan ekaristi sudah dimulai dari arak-arakan sebelum para uskup dan imam memasuki gereja. Tari-tarian penyambutan dari beberapa kelompok tari seperti Minahasa, Kei, NTT dan Papua mengiringi para punggawa gereja ini.

Makin terasa gempitanya dengan hadirnya dua grup paduan suara, dari siswa SMA Seminari Petrus van Diepen dan Orang Muda Katolik TPW Sorong. Para akhir acara, grup paduan suara dari SMA YPPK Agustinus unjuk kebolehannya. Paduan suara ini pernah meraih medali emas dalam ajang Bali International Choir Competition 2012 dan Golden Diploma level 1 serta predikat Winner of The Category I di Asia Pacific Choir Games 2013. Mereka menyanyikan dua lagu dan memukau jemaat dengan teknik vokal yang luar biasa. Setidaknya itu yang dirasakan sebagian orang yang hadir.

Dalam kotbahnya, Mgr. Petrus Turang mengucap terima kasih kepada semua yang terlibat khususnya Mgr. Hilarion Datus Lega yang sudah menyelenggarakan semuanya dengan baik. “Terima kasih juga atas kedatangan Mgr. Mandagi yang sudah hadir mendukung semua ini. Saya berharap, tahun depan, akan ada weekend untuk memeringati hari komunikasi sosial ini untuk para OMK. Dan dengan ini saya tutup Pekan Komunikasi Sosial Nasional Konferensi Waligereja Indonesia di Keuskupan Manokwari-Sorong.”ujar Uskup Keuskupan Agung Kupang ini.

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: