Keyakinan Teguh dalam Injil

Ayat bacaan: Roma 1:16
==================
“Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani.”

Hidup adalah sesuatu yang kompleks. Ada begitu banyak aspek didalamnya yang harus kita cermati apabila kita mau mendapatkan yang terbaik dalam perjalanan meniti kehidupan. Selain sisi-sisi hidup yang tenang dan nyaman, sebuah kehidupan sejatinya penuh tantangan. Ada berbagai hal yang menuntut kemampuan kita dalam mengatasi dan menyelesaikannya. Kesulitan hidup, tekanan, godaan, terpaan problema yang datang dan pergi, semua itu merupakan bagian-bagian dari kehidupan setiap orang, siapapun dia. Semua ini membuat hidup itu seringkali hadir sebagai sesuatu yang tidak mudah untuk dijalani. Hidup bukanlah hanya main-main. Hidup adalah sesuatu yang nyata, yang harus kita perjuangkan untuk bisa memperoleh yang terbaik di dalamnya. Jika hidup secara umum saja sudah demikian, apalagi untuk menjalani hidup di dalam kekristenan. Setiap saat ada begitu banyak pola kehidupan dunia yang akan siap menjerat dan menjerumuskan orang-orang percaya untuk tersesat di dalamnya. Sebagai contoh sederhana, bayangkan apabila kita berlayar dalam perahu. Ada kalanya angin tenang, tapi ada saatnya angin bertiup kencang bahkan badai. Disaat angin sedang tidak bersahabat, kita bisa terombang ambing tak tentu arah, jika sangat kencang kita bahkan bisa terbalik dan tenggelam. Hidup di dunia pun seperti itu. Agar bisa selamat dan tidak goyah, kita tentu butuh pegangan. Sebuah pegangan kokoh yang bisa kita cengkram kuat untuk bertahan agar selamat.

Apa yang bisa kita jadikan pegangan kuat? Dalam surat Roma kita bisa menemukan jawabannya. “Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani.” (Roma 1:16). Menurut kesaksian Paulus, Keyakinan yang kokoh dalam Injil inilah yang terbukti mampu menguatkan dirinya dalam melakukan pelayanan kemana-mana. Mengingat bahwa Paulus punya masa lalu yang kelam, tentu ia tahu betul pentingnya sebuah pegangan agar ia tidak kembali jatuh ke dalam jurang kebinasaan. Berkaca dari pengalamannya, Paulus rindu untuk membagikan hal ini kepada orang lain sebanyak mungkin. Jika ia bisa kuat dan selamat, ia yakin orang lain pun tentu bisa. Selain Injil ia katakan sebagai sebuah KEKUATAN ALLAH YANG MENYELAMATKAN, ia juga mengingatkan bahwa tu berlaku bagi semua orang percaya tanpa terkecuali. Mengapa demikian? “Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman.” (ay 17). Lihatlah bahwa Injil punya kekuatan yang menyelamatkan sebab di dalamnya nyata tertulis segala sesuatu tentang kebenaran Allah, yang akan bisa kita mengerti lewat iman dan itu pun mengarahkan kita kepada pertumbuhan iman. Injil punya kekuatan yang akan menumbuhkan, mengokohkan atau menguatkan iman kita. Dan orang benar akan selalu hidup oleh iman. Sebuah iman yang teguh dan kuat akan membuat kita tidak mudah terombang ambing dan terjerumus. Iman yang teguh akan membuat kita mampu berjalan dengan sukacita meski yang kita alami sedang tidak kondusif. Iman yang teguh mampu memimpin kita berjalan sesuai kehendakNya hingga menerima anugerah keselamatan. Dari mana iman ini muncul? Alkitab mengatakan bahwa “iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” (Roma 10:17).

Jika demikian, tentu akan sangat merugikan apabila kita masih saja malas membaca dan merenungkan Firman Tuhan. Itu membuat kita tidak tahu apa saja janji Tuhan, apa yang telah dan akan Dia sediakan, berbagai teguran, nasihat, larangan dan ketetapanNya. Bagi yang sudah tahu, alangkah sayangnya jika firman-firman Tuhan ini masih tetap diragukan kekuatannya. Meski tahu tapi masih hidup dalam keraguan, itu pun tidak boleh terjadi. Jika diibaratkan sebagai pegangan seperti ilustrasi di atas, kita bisa melihat bahwa tidak sedikit dari orang-orang percaya hari ini yang memang sudah punya pegangan tapi pegangannya masih sangat lemah. Mereka masih hidup dalam keraguan, kecemasan, gampang takut, mudah terpengaruh oleh berbagai macam pengajaran yang seolah terlihat baik namun di dalamnya terkandung begitu banyak penyesatan. Mereka ini biasanya memberi batas toleransi yang begitu longgar, mencari pembenaran-pembenaran bukan sesuai Firman Tuhan tetapi berdasarkan anggapan mereka sendiri. Memberi pengertian keliru akan firman Tuhan yang hanya menguntungkan diri sendiri untuk bertoleransi dengan kedagingan, dan jika ini yang dilakukan, maka itu bisa mengancam keselamatan yang sesungguhnya telah dianugerahkan Tuhan atas kasih karuniaNya. Yakobus menyinggung mengenai orang yang terus mendua hati, hidup terombang-ambing di dalam keraguan ini. “…sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan.” (Yakobus 1:6-7).

Yesus pun mengingatkan kita agar terus membangun kehidupan dengan mendengarkan dan melakukan firmanNya, yang Yesus ibaratkan dengan membangun rumah. “Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya–Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan–, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun. Akan tetapi barangsiapa mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya.” (Lukas 6:47-49). Mendasarkan perjalanan hidup pada perkataanNya kemudian tampil sebagai pelaku-pelaku firman itu bagaikan membangun rumah di atas pondasi batu karang yang kuat.

Injil berasal dari Kerajaan Allah. Itulah pegangan yang hidup, berisi kekuatan Allah dan itu tidak berasal dari dunia. Itu seperti yang dikatakan Paulus: “Sebab aku menegaskan kepadamu, saudara-saudaraku, bahwa Injil yang kuberitakan itu bukanlah injil manusia. Karena aku bukan menerimanya dari manusia, dan bukan manusia yang mengajarkannya kepadaku, tetapi aku menerimanya oleh penyataan Yesus Kristus.” (Galatia 1:11-12). Di dalam Injil terkandung keselamatan, itu disediakan buat kita selama kita bisa teguh berpegang kepadanya. “Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu–kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya.” (1 Korintus 15:2). Jika demikian, apakah kita bisa berpegang teguh pada Injil kalau kita masih saja malas membacanya? Hidup tanpa pegangan akan sangat berbahaya. Kita tidak akan punya kekuatan untuk bertahan dan melawan berbagai godaan dan tekanan, demikian juga dalam menghadapi berbagai masalah dalam kehidupan. Oleh karenanya dengar baik-baik firmanNya, dan aplikasikan secara nyata dalam kehidupan. Sadari bahwa Injil mengandung kuasa Allah yang hidup, jadikanlah pegangan agar anda mampu menjalani hidup yang berkenan dihadapanNya dan tidak mudah tergoyahkan meski badai sedang kencang menerpa anda.

Injil merupakan kekuatan Allah yang menyelamatkan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: