JAUH  sebelum para imam misionaris Kongegasi Redemptoris (CSsR) tiba di Pulau Sumba, pewartaan iman akan  Yesus Kristus sudah terlebih dahulu dilakukan oleh para imam misionaris  Ordo Serikat Yesus (Jesuit) dan baru kemudian oleh para imam misionaris Kongregasi Serikat Sabda Allah (SVD).

Dua misionaris Jerman Yesuit yang pertama kali mendarat di Pulau Sumba adalah Pastor B. Schweitz SJ dan Bruder W. Busch SJ. Kedua misionaris Yesuit berdarah Jerman ini berhasil menginjakkan kaki mereka pertama kali di Sumba tanggal 21 April 1889. Bersama lima kolega Yesuit lainnya, kedua misionaris Yesuit pionir pewartaan iman di Pulau  Sumba ini merintis jalan karya misi  selama 9 tahun.

Pada kurun waktu selama 9 tahun ini, mereka telah mempermandikan 1.054 jiwa, kebanyakan anak–anak.

Ditarik kembali ke Jawa

Pada tahun 1898, para misionaris Yesuit ini dengan berat hati harus meninggalkan Pulau Sumba atas keputusan pemimpin Serikat Yesus di Yogyakarta, karena tenaga mereka lebih mendesak  dibutuhkan di Jawa. Sejak pulangnya para misionaris Yesuit meninggalkan tanah Sumba, maka selama 23 tahun (1898–1921) umat katolik yang telah dipermandikan di Sumba tidak mendapat pelayanan pastoral sama sekali.

Baru pada tahun 1921, para imam misionaris SVD dari Flores diizinkan untuk mengadakan kunjungan pastoral di Sumba. Namun, itu pun hanya bisa mereka lakukan setidaknya tiga kali dalam setahun.

sumbamap

Peta Pula Sumba di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT)

Namun, atas perjuangan yang tekun dan penuh risiko, akhirnya pada tahun 1929, Pastor H. Limbrock SVD mendapat izin dari Pemerintahan Kolonial Belanda untuk boleh menetap di Sumba.

Dari tahun 1929 sampai 1957, karya misi SVD di Sumba mengalami perkembangan yang sangat menggembirakan. Hingga tahun 1957, jumlah umat katolik berkembang menjadi 9. 500 orang.

Rumah Adat Sumba2 anak

Rumah adat di Pulau Sumba (Ilustrasi/Ist)

Pada tahun 1957, wilayah misi Sumba dan Sumbawa masih dipimpin oleh seorang deken SVD di bawah Vikaris Apostolik Ende, Flores.

Pada tanggal 26 Mei 1957, pimpinan Dekenat Sumba dan Sumbawa diserahkan oleh Pastor Deken Van Vessem SVD kepada Pastor J. Luckas CSsR.

Prefektur Apostolik Weetebula

Dengan didirikannya Hirarki Gerejani di Indonesia pada tahun 1959, maka wilayah misi Sumba dan Sumbawa ditingkatkan menjadi Prefektur Apostolik Weetebula di bawah Keuskupan Agung Ende, Flores.

Pastor G. Legeland CSsR diangkat menjadi Prefek Apostolik Weetebula yang pertama.

Tahun 1969, Prefek Apostolik Weetebula ditingkatkan statusnya menjadi Keuskupan Weetebula.

 

Romo Willy Wagener CSsR

Pastor Willy Wagener CSsr, setelah menjadi Administrator Prefektur Apostolik Weetebula lalu menjadi Rektor Wisma Sang Penebus CSsR di Paroki Nandan, Yogyakarta (Dok. Paroki Nandan)

Atas desakan Duta Vatikan di Jakarta, seorang imam Redemptoris untuk sementara harus memimpin Keuskupan Weetebula sebagai Administrator Apostolik sampai diangkat seorang Uskup Pribumi.

Ternyata status sementara ini berlangsung selama 17 tahun.

Dalam tahun–tahun ini diangkat tiga orang Administrator Apostolik berturut – turut.

  • Tahun 1970–1975 diangkat Pastor Willy Wagener CSsR.
  • Tahun 1975– 980 diangkat Pastor H. Haripranata SJ.
  • Tahun 1980-986 diangkat Pastor B. Ney, CSsR.

Uskup pertama Diosis Weetebula

Mgr Kherubim Pareira

Mgr. Kherubim Pareira SVD, kini Uskup Diosis Maumere di Flores, NTT.

Baru pada tanggal 25 April 1986, Mgr. G. Kherubim Pareira SVD ditahbiskan menjadi Uskup pertama untuk Keuskupan Weetebula.

Pada tanggal 16 Juli 2009 Mgr. Edmund Woga CSsR ditahbiskan menjadi Uskup kedua untuk Keuskupan Weetebula, karena Mgr. G. Kherubim Pareira SVD  dipindah-tugaskan oleh Tahta Suci menjadi Uskup untuk Diosis Maumere di Flores, NTT.

Tautan:

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.