Mgr Sutrisnaatmaka saat tahbisan imam Pastor Yohanes Benyamin Wedu MSF di Paroki Raja Semesta Alam Nanga Bulik, Keuskupan Palangka Raya. Foto Cyril Us

Mgr Sutrisnaatmaka saat tahbisan imam Pastor Yohanes Benyamin Wedu MSF di Paroki Raja Semesta Alam Nanga Bulik, Keuskupan Palangka Raya. Foto Cyril Us

Dalam rangkaian 25 tahun berdirinya, Keuskupan Palangka Raya melakukan Sinode I di Aula Magna Wisma Unio Keuskupan Palangka Raya, 22 Mei 2018, yang dihadiri sekitar 150 peserta. Menurut Uskup Palangka Raya Mgr Aloysius Sutrisnaatmaka MSF yang membuka sinode itu, umat keuskupan itu akan membahas pendataan umat agar memiliki dasar yang kuat untuk berpastoral dan melayani umat dengan metode yang dipertanggungjawabkan.


Sinode bertema “Gereja Palangka Raya yang Mandiri, Misioner dan Peduli Lingkungan Hidup” dan akan berlangsung hingga 27 Mei 2018 itu mengingatkan Pertemuan Pastores (perpas) Keuskupan Palangka Raya yang dilakukan untuk mempersiapkan sinode itu. PEN@ Katolik membaca dari media online keuskupan itu bahwa keuskupan itu mau bersyukur atas hadirnya 25 paroki dan 25 imam diosesan.


“Semuanya itu patut kita syukuri dalam pesta perak keuskupan. Demikian juga, peningkatan dalam hal kemandirian finansial semakin nampak. Dalam perkembangan beberapa tahun terakhir ini, jumlah paroki yang mandiri semakin banyak. Dari 25 paroki, tinggal 5 yang masih bersubsidi,” tulisnya.


Laporan itu juga menulis bahwa para peserta perpas sepakat untuk tidak mengundang narasumber sinode itu dari luar. “Kita tidak hanya memerlukan pembahasan yang sifatnya teoritis, tetapi juga pembahasan yang kontekstual yang bertolak dari situasi konkret keuskupan kita. Hal itu dapat dicapai dengan menghadirkan para narasumber yang mengetahui situasi lokal keuskupan,” tegas laporan 20 Februari 2018 itu.


Mgr Sutrisnaatmaka MSF berharap, seperti ditulis dalam laporan yang disebarkan oleh mirifica.net, agar sinode itu “menelurkan hasil yang bukan sekadar pemikiran, refleksi dan diskusi manusiawi, melainkan sungguh merupakan kehendak Allah melalui bimbingan Roh Kudus dan usaha keras bersama sebagai sarana melayani umat menuju kesejahteraan yang menyeluruh.”


Melihat perkembangan misi, baik dari segi kuantitas maupun kualitas, terus berlanjut di pedalaman Kalimantan Tengah, tulis sejarah Keuskupan Palangka Raya, Uskup Banjarmasin Mgr FX Prajasuta MSF berniat agar wilayah kegembalaannya dimekarkan menjadi dua keuskupan, yakni Keuskupan Banjarmasin dan Keuskupan Palangka Raya. “Tanggal 14 November 1992, surat permohonan perihal pemekaran keuskupan dikirim ke Tahta Suci. Tanggal 14 April 1993, Tahta Suci mengabulkan permohonan itu dan mengumumkannya secara resmi, sebagai tahun berdirinya Keuskupan Palangka Raya dengan wilayah Provinsi Kalimantan Tengah dan mengangkat Mgr Julius Aloysius Husin MSF sebagai uskup pertama Keuskupan Palangka Raya. Pentahbisannya dilaksanakan di Palangka Raya tanggal 17 Oktober 1993,” tulis sejarah itu.(paul c pati)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.