Ketinggalan

ketinggalan bus by huffington post“Sebab itu, baiklah kita waspada, supaya jangan ada seorang di antara kamu yang dianggap ketinggalan, sekalipun janji akan masuk ke dalam perhentian-Nya masih berlaku.” (Ibr 4, 1) DALAM  peristiwa pesawat AirAsia QZ 8501, ada satu keluarga yang ketinggalan pesawat. Pesawat telah take off pk. 05.20, sedangkan keluarga tersebut baru datang pk. 05.30. Keluarga ini merasa tidak diberitahu, sekalipun maskapai telah berusaha menelepon dan mengirimkan email pemberitahuan perubahan waktu penerbangan. Ketinggalan pesawat menimbulkan rasa marah dan kecewa serta mengakibatkan batalnya rencana liburan. Dalam kasus ini, ketinggalan menjadi suatu berkat. ‘Ketinggalan’ sebetulnya tidak hanya dialami oleh keluarga ini, tetapi juga menjadi pengalaman banyak orang. Ada orang yang ketingalan pesawat, kereta api, travel atau bus. Ada yang ketinggalan di kamar, ruang tunggu, mall, kamar kecil dan terpisah dari rombongan. Ada yang ketinggalan dalam suatu acara resmi atau peristiwa tertentu. Ada banyak alasan atau faktor yang membuat seseorang ketinggalan, baik yang berasal dari diri sendiri maupun dari luar diri atau pihak lain. Penulis Surat Ibrani mengajak kita untuk waspada terhadap hal-hal yang membuat kita bisa ketinggalan dalam memasuki tempat perhentian-Nya. Setiap orang mempunyai kesempatan untuk memasuki tempat perhentian-Nya. Kepada mereka semua juga telah disampaikan kabar kesukaan. Namun demikian, firman yang menyukakan itu tidak tumbuh dan berkembang sama di dalam diri setiap orang. Firman itu bisa tumbuh subur di dalam diri seseorang, sehingga dirinya semakin kuat dan kokoh dalam iman akan Allah. Tetapi ada juga firman yang tidak bisa tumbuh dan berkembang dalam diri orang yang tidak taat dan setia. Firman itu akhirnya sia-sia. Ketidaksetiaan dan ketidaktaatan itu menimbulkan amarah Allah, sehingga mereka ini tidak dapat masuk ke dalam perhentian-Nya. Mereka menjadi kelompok orang yang ‘ketinggalan’, yakni terpisah dari Allah dan tidak menikmati sukacita-Nya. Mari berusaha agar diri kita tidak ketinggalan! Teman-teman selamat pagi dan selamat berkarya. Berkah Dalem. Kredit foto: Ilustrasi (Huffington Post)

ketinggalan bus by huffington post

“Sebab itu, baiklah kita waspada, supaya jangan ada seorang di antara kamu yang dianggap ketinggalan, sekalipun janji akan masuk ke dalam perhentian-Nya masih berlaku.” (Ibr 4, 1)

DALAM  peristiwa pesawat AirAsia QZ 8501, ada satu keluarga yang ketinggalan pesawat. Pesawat telah take off pk. 05.20, sedangkan keluarga tersebut baru datang pk. 05.30. Keluarga ini merasa tidak diberitahu, sekalipun maskapai telah berusaha menelepon dan mengirimkan email pemberitahuan perubahan waktu penerbangan.

Ketinggalan pesawat menimbulkan rasa marah dan kecewa serta mengakibatkan batalnya rencana liburan. Dalam kasus ini, ketinggalan menjadi suatu berkat.

‘Ketinggalan’ sebetulnya tidak hanya dialami oleh keluarga ini, tetapi juga menjadi pengalaman banyak orang. Ada orang yang ketingalan pesawat, kereta api, travel atau bus. Ada yang ketinggalan di kamar, ruang tunggu, mall, kamar kecil dan terpisah dari rombongan. Ada yang ketinggalan dalam suatu acara resmi atau peristiwa tertentu.

Ada banyak alasan atau faktor yang membuat seseorang ketinggalan, baik yang berasal dari diri sendiri maupun dari luar diri atau pihak lain.

Penulis Surat Ibrani mengajak kita untuk waspada terhadap hal-hal yang membuat kita bisa ketinggalan dalam memasuki tempat perhentian-Nya. Setiap orang mempunyai kesempatan untuk memasuki tempat perhentian-Nya. Kepada mereka semua juga telah disampaikan kabar kesukaan.

Namun demikian, firman yang menyukakan itu tidak tumbuh dan berkembang sama di dalam diri setiap orang. Firman itu bisa tumbuh subur di dalam diri seseorang, sehingga dirinya semakin kuat dan kokoh dalam iman akan Allah. Tetapi ada juga firman yang tidak bisa tumbuh dan berkembang dalam diri orang yang tidak taat dan setia. Firman itu akhirnya sia-sia.

Ketidaksetiaan dan ketidaktaatan itu menimbulkan amarah Allah, sehingga mereka ini tidak dapat masuk ke dalam perhentian-Nya. Mereka menjadi kelompok orang yang ‘ketinggalan’, yakni terpisah dari Allah dan tidak menikmati sukacita-Nya. Mari berusaha agar diri kita tidak ketinggalan!

Teman-teman selamat pagi dan selamat berkarya. Berkah Dalem.

Kredit foto: Ilustrasi (Huffington Post)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply