Ketidakadilan di Tempat Keadilan

Ayat bacaan: Pengkotbah 3:16
=========================
“Ada lagi yang kulihat di bawah matahari: di tempat pengadilan, di situpun terdapat ketidakadilan, dan di tempat keadilan, di situpun terdapat ketidakadilan.”

ketidakadilan di tempat keadilan, suap

Membenahi hukum di Indonesia merupakan pekerjaan rumah yang sungguh begitu berat. Hukum dan keadilan dapat dibeli dengan uang, mafia-mafia peradilan berkeliaran mulai dari tingkat daerah hingga pusat. Kita sering mendengar orang berteriak meminta keadilan, tapi kita akan bingung menjawab dimana orang yang berteriak itu bisa mendapatkan keadilan. Kata keadilan ini akan terasa sangat semu manakala sebagian orang bisa membelinya. Kalaupun memang harus masuk penjara, sang terdakwa tetap bisa menyulap selnya menjadi hotel mewah seperti bintang lima, lengkap dengan televisi, air panas, ac, kulkas bahkan salon kecantikan. Apa yang kita lihat hari ini memang sudah lebih baik. Setidaknya mulai terlihat keseriusan untuk membenahi sistem hukum yang carut marut di negara kita, setidaknya hal-hal seperti itu mulai bisa kita lihat secara terbuka lewat media massa, tapi perjalanan sungguh masih panjang. Kebiasaan suap menyuap ini memang sangat sulit untuk dihilangkan. Hukum ekonomi jelas berlaku disini. Ada pasar, ada pembeli dan ada penjual. Betapa memprihatinkan ketika lembaga peradilan yang seharusnya menjadi tempat dimana keadilan bisa ditegakkan sebenar-benarnya malah menjadi tempat yang paling sulit untuk mendapatkannya.

Suap memungkinkan orang untuk membeli hukum dan keadilan, suap mampu memutarbalikkan fakta dan kebenaran sedemikian rupa sehingga orang yang bersalah bisa terbebas dari hukuman, minimal dihukum serendah-rendahnya. Suap mampu melakukan berbagai manipulasi tanpa peduli melukai rasa keadilan masyarakat. Kasus suap bukan hanya menjadi problema di jaman ini. Jauh di waktu lampau pun suap sudah menjadi budaya. Kita bisa melihat hal itu dalam banyak bagian di Alkitab. Pengkotbah misalnya, mengatakan bahwa “Ada lagi yang kulihat di bawah matahari: di tempat pengadilan, di situpun terdapat ketidakadilan, dan di tempat keadilan, di situpun terdapat ketidakadilan.” (Pengkotbah 3:16). Namanya pengadilan, tapi justru disana terdapat ketidakadilan, di tempat di mana keadilan seharusnya ditegakkan justru di sana yang tidak terdapat keadilan. Bukankah ini yang terjadi di negara kita hari ini? Artinya, warisan budaya suap ini sudah berlangsung sedemikian lama, dari generasi ke generasi berikutnya tanpa pernah terputus. Orang akan berpikir pendek, mencari jalan untuk menyelamatkan dirinya dari hukuman dunia, tapi mereka lupa bahwa keadilan pada suatu saat tidak lagi bisa dibeli ketika berhadapan dengan Tuhan sebagai Hakim.

Sikap menyuap ini adalah sebuah perbuatan yang sangat dibenci Tuhan. Tidak main-main, Tuhan menganggapnya sebagai sebuah penghinaan. “Siapa berjalan dengan jujur, takut akan TUHAN, tetapi orang yang sesat jalannya, menghina Dia.” (Amsal 14:2) Bukan itu saja, suap pun digolongkan sebagai sebuah kekejian. “Karena orang yang sesat adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi dengan orang jujur Ia bergaul erat.” (3:32). Di dunia mungkin kita bisa lolos, tetapi bisakah kita lolos dari hari penghakiman kelak? Adakah jumlah harta yang akan cukup untuk dipakai untuk menyogok Tuhan? Tentu tidak. Tuhan pada suatu hari akan menuntut pertanggungjawaban kita atas segala perbuatan yang pernah kita lakukan semasa hidup, dan disana tidak akan ada pemutarbalikan fakta yang mungkin untuk kita lakukan lagi. Paulus mengingatkan jemaat Roma: “Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.” (Roma 14:12), lalu Penulis Ibrani mengatakan “Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.” (Ibrani 4:13). Suap merupakan pelanggaran serius yang mampu membuat kita dihapuskan dari kitab kehidupan. Pengkotbah pun tahu bahwa hal ini pada saatnya nanti harus dipertanggungjawabkan. “Berkatalah aku dalam hati: “Allah akan mengadili baik orang yang benar maupun yang tidak adil, karena untuk segala hal dan segala pekerjaan ada waktunya.”(Pengkotbah 3:17).

Banyak orang menyepelekan pelanggaran suap menyuap ini. Bahkan sejak dulu pun demikian. Pengkotbah berbicara mengenai suap menyuap ini seperti yang kita baca di atas, lalu di masa Mikha pun kasus suap menjadi salah satu sumber kemurkaan Tuhan yang begitu menakutkan. Lihatlah betapa bobroknya perilaku para penegak hukum, imam bahkan nabi pada masa itu. “Para kepalanya memutuskan hukum karena suap, dan para imamnya memberi pengajaran karena bayaran, para nabinya menenung karena uang, padahal mereka bersandar kepada TUHAN dengan berkata: “Bukankah TUHAN ada di tengah-tengah kita! Tidak akan datang malapetaka menimpa kita!” (Mikha 3:11). Di Perjanjian Baru pun kita menemukan kisah mengenai percobaan suap yang dilakukan Simon, mantan penyihir terkenal. (Bacalah Kisah Para Rasul 8:4-25). Berulang-ulang kita melihat suap masih saja dilakukan, bahkan hingga hari ini, padahal jauh sebelumnya Tuhan sudah mengingatkan dalam kitab Keluaran agar kita tidak melakukan pelanggaran suap menyuap ini. “Suap janganlah kauterima, sebab suap membuat buta mata orang-orang yang melihat dan memutarbalikkan perkara orang-orang yang benar.” (Keluaran 23:8).

Mengingat bahwa suap menyuap merupakan pelanggaran serius, marilah kita hari ini tidak tergoda untuk melakukannya. Baik menyuap maupun menerima suap, keduanya sama seriusnya, dan harus kita pertanggungjawabkan kelak di hadapan Tuhan. Suap dalam bentuk apapun yang dilakukan pelaku atau penerima sama-sama merupakan penghinaan dan kekejian di hadapan Tuhan. Saya tahu memang sulit untuk hidup tanpa memberi uang pelicin atau suap dalam berbagai urusan di negara kita. Mungkin waktu kita akan tersita, mungkin urusan menjadi berbelit-belit dan lebih sulit, mungkin kesabaran kita pun akan diuji, but that’s okay! Itu jauh lebih baik daripada kita mendapat kesulitan di hari penghakiman kelak bukan? Saya sudah mulai melakukannya. Meski urusan menjadi lebih rumit dan sulit, namun ada sukacita tersendiri ketika saya berhasil membereskan urusan tanpa harus melakukan suap sama sekali. Jika kita bisa menyenangkan Tuhan dan perilaku jujur kita, kenapa tidak? Marilah kita mulai dari diri kita sendiri untuk mengatakan tidak kepada suap menyuap, karena jika bukan kita, siapa lagi?

Suap harus dihindari karena merupakan kekejian dan penghinaan di hadapan Tuhan

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: