Ketidakadilan di Pengadilan

Ayat bacaan: Pengkotbah 3:16
=========================
“Ada lagi yang kulihat di bawah matahari: di tempat pengadilan, di situpun terdapat ketidakadilan, dan di tempat keadilan, di situpun terdapat ketidakadilan.”

ketidakdilan di pengadilan

Salah satu film seri tv yang saya gemari adalah CSI (Crime Scene Investigator). Film seri yang terdiri dari beberapa versi seperti Las Vegas, New York atau Miami ini menceritakan bagaimana para ahli forensik mengungkap kasus-kasus pembunuhan atau kejahatan lainnya. Mereka terus mengumpulkan kepingan-kepingan bukti untuk mengetahui bagaimana kejahatan itu terjadi dan siapa pelakunya. Berbagai kebohongan dari para pelaku kerap mereka dapati, dan dengan fakta-fakta yang mereka temukan baik dari korban maupun tempat kejadian perkara mereka akhirnya mampu menemukan siapa pelakunya dan bagaimana sebuah kejahatan dan pembunuhan itu terjadi. Betapa hebatnya melihat kegigihan para ahli forensik ini dalam mencari fakta dan keadilan. Sayangnya kisah seperti ini tampaknya hanya terjadi dalam film saja, karena kenyataannya kita hampir selalu mendengar ketidakadilan justru terjadi di tempat dimana kita seharusnya bisa mencari keadilan. Apalagi di negara kita yang tingkat korupsinya merupakan salah satu yang terparah di muka bumi ini. Kita melihat para pelaku bagai tidak punya malu, berani tampil di publik dan bebas dari hukum karena mereka mampu menyetorkan sejumlah uang kepada penyidik atau lewat orang-orang berpengaruh yang mampu melindungi mereka dari jerat hukum. Kebiasaan suap menyuap ini memang sangat sulit untuk dihilangkan. Lembaga keadilan bagaikan pasar, ada pembeli dan ada penjual. Betapa memprihatinkan ketika lembaga peradilan yang seharusnya menjadi tempat dimana keadilan bisa ditegakkan sebenar-benarnya malah menjadi tempat yang paling sulit untuk mendapatkannya.

Kejadian seperti ini ternyata sudah ada jauh di waktu lalu. Kita bisa melihat hal itu dalam banyak bagian di Alkitab. Pengkotbah mencatat kejadian persis sama seperti apa yang kita lihat hari ini. “Ada lagi yang kulihat di bawah matahari: di tempat pengadilan, di situpun terdapat ketidakadilan, dan di tempat keadilan, di situpun terdapat ketidakadilan.” (Pengkotbah 3:16). Namanya pengadilan, tapi justru disana terdapat ketidakadilan, di tempat di mana keadilan seharusnya ditegakkan justru di sana pula keadilan bisa diperjualbelikan. Itu yang kita lihat hari ini, itu pula yang sejak dulu terjadi. Artinya, warisan budaya suap ini sudah berlangsung sedemikian lama, dari generasi ke generasi berikutnya tanpa pernah terputus. Suap memungkinkan orang untuk membeli hukum dan keadilan, suap mampu memutarbalikkan fakta dan kebenaran sedemikian rupa sehingga orang yang bersalah bisa terbebas dari hukuman, minimal dihukum serendah-rendahnya. Suap mampu melakukan berbagai manipulasi tanpa peduli melukai rasa keadilan masyarakat. Mungkin di dunia mereka bisa lolos dengan menyuap, tapi mereka lupa bahwa keadilan pada suatu saat tidak lagi bisa dibeli ketika berhadapan dengan Tuhan sebagai Hakim. Berapa pun harta yang kita punya tidak akan bisa cukup untuk membeli penghakiman Tuhan. They can get away from human but will never can from God.

Di mata Tuhan, sikap menyuap atau membeli keadilan ini jelas merupakan sesuatu yang sangat Dia benci.  Tuhan bahkan secara tegas menganggapnya sebagai sebuah penghinaan. “Siapa berjalan dengan jujur, takut akan TUHAN, tetapi orang yang sesat jalannya, menghina Dia. (Amsal 14:2) Bukan itu saja, suap pun digolongkan sebagai sebuah kekejian. “Karena orang yang sesat adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi dengan orang jujur Ia bergaul erat.” (3:32). Tuhan pada suatu hari akan menuntut pertanggungjawaban kita atas segala perbuatan yang pernah kita lakukan semasa hidup, dan disana tidak akan ada pemutarbalikan fakta yang mungkin untuk dilakukan lagi. Keadilan sekarang bisa dibeli, pada akhirnya nanti biar bagaimanapun akan ditegakkan, dan tidak satupun yang bisa lolos dari kejahatan-kejahatan yang dilakukan. Paulus mengingatkan jemaat Roma: “Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.” (Roma 14:12), lalu Penulis Ibrani mengatakan “Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.” (Ibrani 4:13). Suap merupakan pelanggaran serius yang mampu membuat kita dihapuskan dari kitab kehidupan. Pengkotbah pun tahu bahwa hal ini pada saatnya nanti harus dipertanggungjawabkan. “Berkatalah aku dalam hati: “Allah akan mengadili baik orang yang benar maupun yang tidak adil, karena untuk segala hal dan segala pekerjaan ada waktunya.”(Pengkotbah 3:17). Cepat atau lambat, saat ini akan tiba.

Banyak orang sayangnya berpikir singkat saja dengan menyepelekan pelanggaran suap menyuap ini. Bahkan sejak dulu pun demikian. Di masa hidup Pengkotbah kita sudah melihatnya, di masa Mikha pun kasus suap menjadi salah satu sumber kemurkaan Tuhan yang begitu menakutkan. Lihatlah betapa bobroknya perilaku para penegak hukum, imam bahkan nabi pada masa itu. “Para kepalanya memutuskan hukum karena suap, dan para imamnya memberi pengajaran karena bayaran, para nabinya menenung karena uang, padahal mereka bersandar kepada TUHAN dengan berkata: “Bukankah TUHAN ada di tengah-tengah kita! Tidak akan datang malapetaka menimpa kita!” (Mikha 3:11). Jika di masa itu terlihat buruk, di Perjanjian Baru pun kita menemukan kisah mengenai percobaan suap yang dilakukan Simon, mantan penyihir terkenal seperti yang bisa dibaca dalam  Kisah Para Rasul 8:4-25. Berulang-ulang kita melihat suap masih saja dilakukan, bahkan hingga hari ini, padahal jauh sebelumnya Tuhan telahmengingatkan dalam kitab Keluaran agar kita tidak melakukan pelanggaran suap menyuap ini. “Suap janganlah kauterima, sebab suap membuat buta mata orang-orang yang melihat dan memutarbalikkan perkara orang-orang yang benar.” (Keluaran 23:8).

Melihat bagaimana seriusnya dosa suap menyuap ini, marilah kita hari ini tidak tergoda untuk melakukannya. Baik menyuap maupun menerima suap, keduanya sama seriusnya, dan harus kita pertanggungjawabkan kelak di hadapan Tuhan. Suap dalam bentuk apapun yang dilakukan pelaku atau penerima sama-sama merupakan penghinaan dan kekejian di hadapan Tuhan seperti yang bisa kita lihat dari ayat-ayat di atas. Saya tahu memang sulit untuk hidup tanpa memberi uang pelicin atau suap dalam berbagai urusan di negara kita. Mungkin waktu kita akan tersita, mungkin urusan menjadi berbelit-belit dan lebih sulit, mungkin kesabaran kita pun akan diuji, tetapi biarlah itu terjadi. Rela repot, waktu terbuang dan mengalami proses berbelit dan lama merupakan konsekuensi dari kejujuran di negara kita ini, dan itu jauh lebih baik daripada kita mendapat kesulitan di hari penghakiman kelak. Saya sudah mulai melakukannya, beberapa teman pun demikian. Meski urusan menjadi lebih rumit dan sulit, namun ada sukacita tersendiri ketika saya berhasil membereskan urusan tanpa harus melakukan suap sama sekali. Kita masih tetap bisa berhasil meski tanpa menyuap, karena semua berkat dan keberhasilan itu sesungguhnya berasal dari Tuhan dan bukan lewat orang lain. Jika kita bisa menyenangkan Tuhan dan perilaku jujur kita, kenapa tidak? Marilah kita mulai dari diri kita sendiri untuk mengatakan tidak kepada suap menyuap, dan cepat atau lambat itu bisa memberi dampak positif bagi bangsa dan negara kita. Be a role model, say no to bribery!

Ketidakadilan mungkin terjadi di rumah keadilan, tetapi tidak akan pernah bisa mengatasi penghakiman Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: