Keteladanan Dari Seorang Ibu

Ayat bacaan: Ibrani 10:25
====================
“Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.”

belajar dari ibu sakit, pincang, penyanggah

Hari minggu kemarin ketika saya bertugas sebagai pengerja, tepatnya sebagai penyambut jemaat yang berdiri di depan pintu, ada seorang ibu yang datang ke gereja sendirian dengan susah payah. Ia menggunakan alat bantu yang biasanya dikenal dengan “walker” (lihat gambar), yaitu sejenis pegangan 4 kaki dari besi sebagai alat bantu untuk berjalan. Ia tertatih-tatih sendirian melangkah mulai sejak keluar dari lift menuju ke ruang ibadah raya. Meski demikian, ia terlihat sungguh bersuka cita. Senyuman tulus ia arahkan kemana-mana, bahkan berkali-kali ia berhenti menerima salam dari jemaat lain yang ada di sekitarnya. Ini pemandangan yang mengagumkan. Saya berpikir, ketika kita sedikit saja merasa tidak enak badan lalu merasa tidak sanggup untuk pergi ke gereja untuk beribadah, ketika kita lebih memilih untuk sibuk bekerja hingga melupakan hari Sabat yang seharusnya kita pergunakan untuk memuliakan Tuhan bersama dengan saudara-saudara seiman, ketika kita merasa kasur jauh lebih nikmat ketimbang harus repot-repot bangun dan pergi ke gereja, ibu ini penuh suka cita meski kondisinya sedang tidak memungkinkan. Naik apa ia datang? Bagaimana ia berdesakan di dalam lift? Dari lapangan parkir menuju lantai 4, berdesakan, itu tentu berat baginya. Namun ia hadir dengan penuh sukacita. Ia mengucapkan terima kasih dengan senyum yang sangat damai ketika saya membantunya untuk duduk, mengosongkan dua bangku di depannya agar “walker”nya bisa ia letakkan di depannya. Ketika ibadah selesai, ia kembali mengangguk dan mengucapkan terima kasih ketika saya membantu mengosongkan kursi-kursi di sekitarnya agar ia lebih leluasa bergerak. Terima kasih ibu, atas keteladanan yang ibu contohkan hari ini.

Ada begitu banyak alasan bagi kita untuk bolos beribadah di hari Minggu. Terlalu capai seminggu ke belakang, kurang enak badan, tidak ada yang antar, malas pergi sendiri karena teman berhalangan, hujan, sedang banyak tugas, ada teman yang datang dan sebagainya, acap kali kita jadikan alasan untuk memutuskan tidak pergi ke gereja, beribadah bersama saudara-saudara kita seiman. Jika kita sedang dalam kondisi si ibu, akankah kita tetap bersemangat seperti dirinya, atau kita lebih peduli pada rasa malu dilihat orang dengan keadaan kita yang sedang sakit? Ada pula yang berdalih tidak perlu ke gereja, karena Tuhan toh ada di rumah juga. Itu tidaklah salah. Tuhan memang bersifat “omnipresent” alias punya kemampuan untuk hadir di mana-mana pada saat yang sama. Namun bersekutu, beribadah bersama-sama, memuji dan memuliakan Tuhan bersama-sama, membangun relasi dengan saudara-saudara seiman lainnya agar kita bisa saling menguatkan, semua itu tidaklah bisa kita lakukan jika kita hanya memilih untuk beribadah sendirian saja selamanya. Ada kalanya kita lemah, di sana peran teman-teman akan sangat berguna. Sebaliknya ketika teman sedang lemah, ada kita yang bisa menguatkan. Ada firman-firman Tuhan yang akan sangat berguna dalam hidup kita setidaknya untuk menguatkan kita menghadapi pekerjaan atau belajar di sekolah seminggu ke depan. Ada sukacita luar biasa ketika kita bersama-sama memuliakan Tuhan baik dalam pujian atau penyembahan, alangkah sayangnya jika semua itu terlewatkan ketika kita memutuskan untuk melewatkan ibadah ke gereja.

Penulis Ibrani mengingatkan demikian: “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan – pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” (Ibrani 10:25). Berbagai penyesatan, berbagai kesulitan di dunia yang semakin tua ini setiap saat bisa membuat kita lemah. Kita butuh “nutrisi” tambahan agar kuat menghadapi itu semua. Bersekutu, saling support bersama saudara seiman, bersukacita memuji dan memuliakan Tuhan bersama-sama dan asupan firman Tuhan sudah pasti akan membuat kita lebih kuat dan tidak gampang jatuh. Apalagi Yesus sendiri pun mengingatkan bahwa “di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” (Matius 18:20).

Pengkotbah mengatakan Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!” (Pengkotbah 4:9-10). Kemudian selanjutnya dikatakan demikian: “Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan.” (ay 12). Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Selanjutnya kita bisa melihat pula bahwa ada pelipatgandaan ketika ada lebih dari satu orang yang bersepakat. Kita bisa melihat dalam kitab Ulangan mengenai hal ini. Ketika satu orang bisa mengejar seribu orang, dua orang bukanlah bisa membuat lari dua ribu orang, seperti hitungan matematika biasa, namun dua orang punya kemampuan untuk mengalahkan sepuluh ribu orang! (Ulangan 32:30). Ada pelipatgandaan sebesar 10 kali lipat ketika dua orang bersepakat bersama. Jika dua orang saja sudah demikian besar, bagaimana jika kita beribadah bersama dengan banyak saudara-saudara kita seiman? Iblis tidak akan mampu menggoyahkan kita, karena kita menerapkan hukum Kristus dengan saling dukung, saling bantu, dan bersatu dalam kasih.

Jika ibu yang pincang itu sanggup datang dengan penuh sukacita, mengapa kita tidak? Ibu itu punya kerinduan untuk berjemaat bersama-sama dalam kegembiraan bahwa Tuhan sungguh baik bagi dirinya, meskipun kondisinya sedang dalam keadaan sulit. Luar biasa. Saya kagum dengan semangatnya dan kerinduan hatinya untuk hadir bersekutu dengan saudara-saudara seiman, bersama-sama meninggikan Tuhan, memuji dan menyembah Dia. Kita tidak boleh menyia-nyiakan waktu karena hari-hari ini adalah jahat. (Efesus 5:16). Menjelang hari Tuhan yang sudah semakin dekat, hendaklah kita semakin giat untuk saling menguatkan, salah satunya adalah dengan tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk beribadah bersama-sama. Belajarlah dari keteguhan iman dan semangat dari sang ibu.

Bersekutu bersama akan membuat kita tidak gampang dipatahkan

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply