Saturday, 29 November 2014

Ketaatan=Repot?

Ayat bacaan: 1 Petrus 1:14
=================
“Hiduplah sebagai anak-anak yang taat..”

ketaatanBayangkan sebuah negara dimana warganya hidup taat dan sadar hukum. Itu impian kita semua bukan? Betapa nyaman dan tenangnya hidup di dalamnya, ketika semua elemen berjalan dengan baik dalam kepatuhan. Tetapi lihatlah betapa sulitnya hal itu untuk diwujudkan. Jangan bermimpi untuk bisa melihat itu jika kita sendiri masih sulit mematuhi hukum dan hidup benar. Tata tertib berlalu lintas saja sudah sulit kita terapkan, apalagi hal-hal yang lebih besar. Bangsa yang hidup taat atau sadar hukum merupakan impian semua orang, tetapi sangatlah sulit untuk direalisasikan.

Mengapa demikian? Karena seringkali ketaatan terlihat seolah-olah membatasi kesenangan kita, bahkan pada waktu-waktu tertentu malah bisa merepotkan. Ambil sebuah contoh kecil saja, ketika membuat SIM (Surat Ijin Mengemudi). Mau taat, itu artinya kita harus repot berhari-hari dalam mengurusnya. Repot ikut ujian, kalau tidak lulus harus mengulang lagi, harus melalui antrian dan penantian yang membosankan. Akan jauh lebih mudah apabila dilakukan lewat perantara dengan sedikit uang pelicin bukan? Bagaimana untuk masuk kerja, menjadi pegawai negeri dan sebagainya? Manusia cenderung mencari jalan yang terpintas, dimana ketaatan tidak lagi menjadi faktor didalamnya.

Alkitab mencatat banyak contoh yang indah mengenai ketaatan yang berbuah kebahagiaan. Jika hanya membaca kisah akhirnya tentu indah, namun coba lihat prosesnya. Mereka terlebih dahulu harus melewatkan masa-masa sulit, bahkan harus mengorbankan sesuatu dalam mempertahankan ketaatan. Mari kita lihat salah satu contoh, yaitu Nuh. Coba lihat apa yang diperintahkan Tuhan kepadanya. ” Buatlah bagimu sebuah bahtera dari kayu gofir; bahtera itu harus kaubuat berpetak-petak dan harus kaututup dengan pakal dari luar dan dari dalam.” (Kejadian 6:14). Membuat kapal? Dan pesan ini hadir bukan di tepi pantai. Tidak ada catatan bahwa hujan pernah turun sebelumnya. Dan kapal yang bisa menyelamatkan Nuh beserta keluarganya dari air bah? Air bah, seperti apa itu? Bayangkan pesan seperti apa itu. Jika anda berada di posisi Nuh, apa yang anda lakukan? Mungkin anda tertawa atau malah terheran-heran mendengar perintah ini. Tapi Nuh tidak menunjukkan penolakan sedikit pun. Ia langsung bergegas mengerjakannya. Bayangkan lagi berapa tahun ia harus menghadapi ejekan orang-orang yang melihat pekerjaannya. Ditertawakan bertahun-tahun, dianggap gila, itu semua harus dihadapi oleh Nuh dan keluarganya. Setelah itu? Nuh harus mengumpulkan segala jenis hewan sepasang-sepasang. “Dan dari segala yang hidup, dari segala makhluk, dari semuanya haruslah engkau bawa satu pasang ke dalam bahtera itu, supaya terpelihara hidupnya bersama-sama dengan engkau; jantan dan betina harus kaubawa. Dari segala jenis burung dan dari segala jenis hewan, dari segala jenis binatang melata di muka bumi, dari semuanya itu harus datang satu pasang kepadamu, supaya terpelihara hidupnya.” (ay 19-20). Saya membayangkan Nuh dan keluarganya berlari kesana kemari menangkapi hewan-hewan yang berlarian kesana kemari. Bagaimana dengan hewan-hewan bertubuh besar seperti beruang, singa, badak dan sebagainya? Entahlah. Tapi lagi-lagi kita melihat ketaatan yang luar biasa, meski repotnya tentu bukan main. Dengan tegas tertulis dalam Alkitab: “Lalu Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, demikianlah dilakukannya.” (ay 22).  Nuh memilih untuk patuh sepenuhnya, dan pada akhirnya kita bisa melihat buah dari ketaatan Nuh. Hanya ia dan keluarganya yang selamat dari air bah yang memusnahkan seluruh penduduk bumi pada masa itu. Pilihan ada pada Nuh, apakah ia mau taat atau tidak. Apabila ia tidak taat, maka tentu hasilnya akan lain. Tetapi Nuh mengambil keputusan yang benar, dan hasilnya bisa kita saksikan.

Seperti apa yang dilalui Nuh, ketaatan seringkali membutuhkan pengorbanan yang mungkin tidak sedikit. Mungkin merepotkan, mungkin tidak menyenangkan, bahkan mungkin pula membuat kita menderita. Tetapi pada akhirnya kita akan melihat buah dari ketaatan yang pasti akan sangat manis. Tuhan tidak akan pernah menutup mataNya dari anak-anakNya yang selalu hidup dengan taat tanpa banyak tanya dan keluh. Jika selama ini kita sudah terbiasa mengangkangi peraturan dan lebih memilih untuk menyisihkan ketaatan, pesan penting pun hadir sebagai ayat bacaan kita hari ini: Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu.” (1 Petrus 1:14). Kita harus mulai melatih diri kita untuk hidup dalam ketaatan. Tanpa itu kita tidak akan pernah menjadi orang yang memperoleh kasih karunia seperti halnya Nuh. Bukan itu saja, kita pun akan terus membuang-buang kesempatan untuk mendapat penggenapan janji-janji Tuhan seperti yang telah Dia tetapkan bagi kita. Kalaupun kita harus repot dalam mempertahankan ketaatan, mengapa tidak? Buah yang manis sudah menanti kita yang berhasil mempertahankan ketaatan hingga akhir.

Ketaatan mungkin merepotkan, namun akan menghasilkan buah yang manis

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Incoming search terms:

0saves


If you enjoyed this post, please consider leaving a comment or subscribing to the RSS feed to have future articles delivered to your feed reader.

Related Posts to "Ketaatan=Repot?"

Response on "Ketaatan=Repot?"