Ketaatan

Ayat bacaan: Lukas 5:5
==================
“Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.”

ketaatan

Masalah ketaatan adalah masalah yang mungkin mudah untuk dijalankan ketika kita sedang dalam keadaan tenang, tapi bisa menjadi sulit ketika kita berada dalam kesesakan. Kenyataannya ada banyak orang yang tergiur dalam berbagai godaan ketika berada dalam keadaan tertekan dan terjatuh ke dalam beragam alternatif yang mengarah pada kejahatan di mata Tuhan, atau bahkan kepada pilihan-pilihan yang jelas-jelas bertentangan dengan firman Tuhan sendiri. Tidak ada satupun manusia yang senang hidup menderita. Jika bisa tentu kita ingin hidup kita selalu lancar tanpa masalah. Namun dalam kehidupan kita tidak akan pernah selamanya berada dalam keadaan tenang. Ada waktu dimana kita mengalami kesulitan, dan disana sebenarnya iman kita diuji. Mampukah kita terus taat, tetap bersabar dan mempercayakan sepenuhnya kepada Tuhan, atau kita justru terjatuh akibat ketidaksabaran kita? “Ah, sekali-kali kan tidak apa-apa, Tuhan mengerti kok..” kata seorang teman pada suatu ketika di kala ia sedang terlilit hutang dan memutuskan untuk korupsi “secukupnya” untuk menutupi itu. Atau lihatlah ketika ada seorang teman lainnya yang kehilangan barang berharganya, ia segera pergi menuju paranormal, karena menurutnya antara ketaatan dan usaha untuk menemukan kembali itu beda urusannya. Hari ini saya ingin mengajak teman-teman sekalian untuk melihat sepenggal kisah yang dialami Simon Petrus ketika masih berprofesi sebagai seorang nelayan.

Pada saat itu Simon ternyata sedang mengalami kesulitan. Sepanjang malam ia berusaha membentangkan jalanya di laut tapi ia tidak mendapatkan apa-apa. Sebagai nelayan ia tentu tahu kapan waktu yang terbaik untuk menangkap ikan, yaitu di malam hari. Aneh rasanya jika ada nelayan yang pergi melaut di pagi hari. Di pagi itu para nelayan baru saja turun dari perahu mereka dan sedang mencuci jala mereka dengan tangkapan nihil. Simon pun mengeluh kepada Yesus mengenai hal ini. Yesus berkata: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” (Lukas 5:4). Apa yang dikatakan Yesus tentu aneh bagi seorang nelayan yang tahu persis bahwa pagi bukanlah waktu yang ideal untuk menjala ikan. Tapi sungguh menarik melihat apa jawaban Simon. “Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” (ay 5). Simon berkata kira-kira begini: malam saja kami mencoba dengan keras kami tidak menangkap apapun, apalagi pagi.. tapi jika Yesus yang menyuruhnya, aku akan menuruti.” Dan itulah yang dilakukan Simon. Ia memilih untuk taat sepenuhnya, tanpa banyak tanya, tanpa berbantah-bantah dan bertolak kembali ke tengah dan menebarkan jalanya. Kita tahu apa yang terjadi kemudian. “Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak.” (ay 6). Akankah Petrus bisa memperoleh ikan sebegitu banyak hingga jalanya terkoyak jika ia tidak taat? Tentu ia tidak akan mendapatkan apa-apa. Tapi pilihan yang dia ambil adalah untuk percaya dan taat sepenuhnya tanpa banyak tanya sehingga ia pun menuai berkat Tuhan.

Dari kisah ini kita melihat bahwa ketaatan akan mendatangkan mukjizat. Ketaatan merupakan sebuah kunci dari terjadinya pemulihan. Yesus bisa saja memberikan langsung ikan langsung pada saat itu juga, tapi ternyata Yesus ingin melihat terlebih dahulu sampai sejauh mana ketaatan dari seorang nelayan kawakan bernama Simon Petrus. Dan ketaatannya itulah yang akhirnya mendatangkan mukjizat baginya. Jika menilik perjalanan bangsa Israel pada Perjanjian Lama, maka kita akan melihat bahwa ketidaktaatan bangsa ini kemudian justru membuat mereka harus mengalami banyak kesulitan. Mereka harus mengalami masa penjajahan tidak kurang dari 430 tahun, dan harus pula melewati masa padang gurun selama 40 tahun lamanya. Ini semua harus mereka alami akibat ketidaktaatan mereka. Sedikit saja mengalami kendala, mereka akan segera bersungut-sungut, mengeluarkan sindiran dan ejekan, mengeluh, mengomel bahkan sempat berkata ingin kembali lagi ke Mesir. “dan mereka berkata kepada Musa: “Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini? Apakah yang kauperbuat ini terhadap kami dengan membawa kami keluar dari Mesir?Bukankah ini telah kami katakan kepadamu di Mesir: Janganlah mengganggu kami dan biarlah kami bekerja pada orang Mesir. Sebab lebih baik bagi kami untuk bekerja pada orang Mesir dari pada mati di padang gurun ini.” (Keluaran 14:11-12). Inilah bentuk ketidaktaatan dari bangsa Israel yang masih sering pula kita lakukan hingga saat ini.

Ketaatan sungguh penting dan merupakan kunci penting untuk terjadinya pemulihan dalam hidup kita. Dalam keadaan seperti apapun kita tetaplah dituntut untuk taat dan setia sepenuhnya kepaa Tuhan. Dia mampu melepaskan kita pada waktunya, Dia akan selalu bisa melakukan hal-hal yang mustahil sekalipun, seperti halnya yang terjadi pada Petrus, namun dari sisi kita dituntut sebuah bentuk ketaatan yang sepenuhnya. Ketaatan dianggap Tuhan sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah. “Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.” (Efesus 5:2). Bentuk ketaatan penuh bisa kita teladani dari sosok Yesus sendiri. “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” (Filipi 2:8). Inilah bentuk keteladanan dari Yesus sendiri yang bisa kita jadikan sebuah cerminan bagaimana kita seharusnya taat kepada Tuhan. Ketaatan Yesus kepada kehendak Tuhan hingga akhir membuat kita semua diselamatkan. Dan karenanya sudah sepantasnya jika kita pun harus taat penuh kepadaNya agar kita semua dilayakkan untuk memperoleh keselamatan kekal sepenuhnya seperti yang dijanjikan Tuhan. “Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya,dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya.” (Ibrani 5:9-10). Ada waktu-waktu dimana kita diijinkan Tuhan untuk masuk ke dalam kesulitan. Jangan patah semangat, jangan menyerah, jangan putus pengharapan, tapi jadikanlah itu sebagai sebuah momentum untuk membuktikan iman kita. Tetaplah taat, percayalah sepenuhnya, maka pada saatnya apapun yang kita alami saat ini akan dipulihkan Tuhan dengan luar biasa.

Jadikan ketaatan sebagai kunci dari proses pemulihan

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply