Kesimpulan Prematur

Ayat bacaan: Yohanes 1:46
====================
“Kata Natanael kepadanya: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?”

kesimpulan prematur

Dahulu seorang teman pernah dengan galau bercerita kepada saya bahwa orang tuanya tidak setuju terhadap kekasih pilihannya. Karena jahat? Ternyata bukan, melainkan karena kekasihnya berasal dari sebuah suku, katakanlah suku A. Hal seperti ini tentu sudah sering kita dengar bukan? Tidak menutup kemungkinan bahwa anda pun pernah mengalami hal ini, baik sebagai korban maupun mungkin juga sebagai pelakunya. Betapa seringnya orang dengan mudah menghakimi orang lain terburu-buru karena berasal dari suku tertentu, atau mungkin juga dari tingkatan sosial keluarganya atau kekayaan. Ada teman lainnya yang pernah mendapat penolakan dari orang tua pasangannya karena ia tidak memiliki mobil, ada pula yang ditolak karena bukan pegawai negeri. Terdengar konyol mungkin bagi kita, tetapi itulah realita yang pernah saya saksikan langsung. Sebuah kesimpulan prematur, yang hanya mendasarkan pada satu-dua alasan yang seringkali berasal dari generalisir secara subyektif tanpa memandang bibit-bobot-bebet seseorang secara objektif. Ketiga teman saya ini akhirnya menikah, dan nyatanya sampai sekarang mereka baik-baik saja dan hidup bahagia.

Sepertinya sudah menjadi kecenderungan manusia untuk terlalu cepat menarik kesimpulan terhadap sesuatu. Ketika kita berada dalam satu lingkungan kecil yang kebetulan terdapat beberapa orang yang tidak sopan, kita bisa dengan cepat berkata “kota ini kasar dan buruk!” Padahal beberapa orang itu tidak sebanding untuk mewakili sebuah kota dengan penduduk ribuan. Ketika ada seorang anak yang bandel, orang bisa berkata: “orang tuanya tidak benar..” atau “memang sudah turunan..”. Ketika ada satu orang yang kita temui sedang dalam keadaan marah, kita bisa menganggap bahwa ia pemarah. Ketika kita berpapasan dengan orang yang tidak tersenyum, kita langsung menganggap bahwa orang itu angkuh dan arogan. Dan ada banyak contoh lain dari kecenderungan manusia untuk menilai terlalu cepat hanya berdasarkan pandangan sesaat. Padahal kalau mau jujur, seringkali apa hal buruk yang kita lihat dari sebagian orang atau dalam satu waktu tertentu tidaklah cukup representatif untuk menggambarkan keseluruhan suku atau kota/negara, atau dalam kasus per orang tidaklah cukup representatif untuk mewakili sifat sebenarnya dari orang tersebut.

Sifat terlalu cepat menghakimi dengan menggeneralisir seperti ini sudah terjadi sejak jaman dahulu. Kita bisa melihat hal ini ketika Yesus mengumpulkan murid-murid pertamaNya. Natanael pernah menarik kesimpulan terlalu terburu-buru. Ketika mendengar perkataan Filipus bahwa mereka telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret, Natanael langsung bereaksi negatif. Ia berkata “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” (Yohanes 1:46). Mengapa ia bisa berkata seperti itu? Fakta sejarah menyatakan bahwa Nazaret merupakan kota kecil yang berjarak sekitar 80 mil dari Yerusalem. Sebagai kota yang terletak pada jalur perdagangan dari Damaskus ke Galilea, mungkin sekali Natanael sering mendengar kekacauan dan kejahatan disana, sehingga langsung menyimpulkan bahwa adalah tidak mungkin jika seorang Mesias akan datang dari kota seperti Nazaret. Atau ada hal-hal buruk lainnya yang pernah terdengar tentang Nazaret pada masa itu, atau ia hanya negatif karena kota itu kecil saja, entahlah. Saya tidak tahu bagaimana pastinya pandangan orang di masa itu tentang kota Nazaret. Mungkin belum pernah ada hal baik dari kota itu sebelumnya sehingga Natanael bisa berkata seperti itu. Tetapi lihatlah fakta bahwa Yesus “Orang Nazaret” pada waktu itu sudah melakukan banyak mukjizat yang baik. “Kamu tahu tentang segala sesuatu yang terjadi di seluruh tanah Yudea, mulai dari Galilea, sesudah baptisan yang diberitakan oleh Yohanes,yaitu tentang Yesus dari Nazaret: bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia.” (Kisah Rasul 10:38). “Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (Matius 11:5), bahkan lebih dari itu, Dia menebus dosa-dosa kita dengan nyawaNya sendiri. Dan ini semua dilakukan oleh “Seorang” yang tumbuh dan dibesarkan di Nazaret. Jika kita melihat salah satu nubuatan Yesaya dalam Yesaya 53:3, dimana disana disebutkan bahwa Mesias akan merupakan orang yang hina, dan dengan berasalnya Yesus dari Nazaret, nubuatan ini pun dipenuhi. Yesus bukan berasal dari kota besar yang terkenal pada masa itu, tetapi hanya dari kota sekecil Nazaret yang tidak ada apa-apanya. Tapi benarkah bahwa kota yang kecil dan dianggap tak berguna itu tidak akan pernah menghasilkan sesuatu yang baik? Tentu saja tidak. Itu kesimpulan yang terlalu prematur, terburu-buru dan tidak memiliki cukup alasan. Sebagai bukti, Sang Penyelamat turun ke dunia mengambil rupa manusia berasal dari Nazaret.

Yesus sendiri sudah mengingatkan: “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (Matius 7:1-2). Lihatlah betapa berbahayanya menjatuhkan “vonis” terburu-buru, apalagi dengan menggeneralisir sesuatu hanya dari sebuah sudut pandang saja tanpa melihat sesuatu secara menyeluruh terlebih dahulu. Suku A itu kasar, suku B itu lambat, suku C itu penipu dan sebagainya. Anak-anak Tuhan tidak boleh berpikiran seperti itu. Berburuk sangka dan bersifat negatif terlalu cepat bukanlah bagian dari kasih seperti yang diajarkan Firman Tuhan. Betapa seringnya manusia melakukan hal itu dan menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar. Itu harus kita jauhkan dari pola pikir kita, dan sebaliknya gantilah dengan apa yang dikatakan Paulus: “isilah pikiranmu dengan hal-hal bernilai, yang patut dipuji, yaitu hal-hal yang benar, yang terhormat, yang adil, murni, manis, dan baik.” (Filipi 4:8 BIS). Jadi, jika pertanyaan “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret” ditujukan kepada kita, kita harus belajar untuk menjawab “ya, sesuatu yang baik bisa datang dari Nazaret.” Janganlah terlalu cepat menggeneralisir sesuatu. Kita harus menjaga diri agar tidak terperosok pada kecenderungan mengambil kesimpulan negatif secara prematur atau terlalu cepat. Seperti jawaban Filipus pada Natanael, “Mari dan lihatlah!” (Yohanes 1:47), kita harus membuka mata lebar-lebar dan melihat sesuatu dengan objektif sebelum menarik kesimpulan terburu-buru.

Hindari kecenderungan untuk menarik kesimpulan secara prematur, karena itu sama saja dengan menghakimi

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: