Kesetiaan Musa dan Ketidaksetiaan Israel

Ayat bacaan: Ibrani 3:12
====================
” Waspadalah, hai saudara-saudara, supaya di antara kamu jangan terdapat seorang yang hatinya jahat dan yang tidak percaya oleh karena ia murtad dari Allah yang hidup.”

Kita harus extra hati-hati ketika mengendarai mobil di malam hari. Ada banyak orang yang seenaknya melanggar peraturan di jalan raya pada malam hari, karena jalan dianggap tidak lagi padat, dan terutama karena polisi biasanya tidak lagi ada di jalan. Pengendara motor yang tidak pakai helm masih termasuk biasa. Karena yang lebih parah bisa kita jumpai di jalan. Melanggar lampu merah, melawan arah, menyelonong tanpa lihat kiri kanan, semua itu seperti menjadi kebiasaan ketika hari sudah gelap. Seolah-olah peraturan bagi mereka hanya berlaku hingga sore hari. Matahari terbenam, terbenam pula peraturan bagi mereka. Ironis, karena peraturan ditaati bukan untuk keselamatan mereka di jalan raya, tapi semata-mata hanya karena takut ditangkap polisi. Dan seperti itulah kebanyakan orang berpikir. Orang lebih takut terhadap manusia ketika melanggar peraturan ketimbang kepada Tuhan, yang pasti melihat semuanya. Tidak ada yang tersembunyi bagi Tuhan. Jika kita bangga bisa melanggar peraturan tanpa ketahuan orang, kita lupa bahwa Tuhan mengetahui dan melihat segalanya.

Kesetiaan tidak lagi menjadi hal penting di mata orang hari ini. Kepada pasangannya saja tidak setia, dalam pekerjaan saja tidak setia, apalagi dalam mentaati peraturan di jalan. Padahal faktor kesetiaan menjadi perhatian penting dalam kehidupan kita di mata Tuhan. Tuhan telah berulang kali mengingatkan kita mengenai faktor ini dalam firman-firmanNya, baik secara langsung maupun lewat contoh-contoh tokoh yang akhirnya binasa akibat ketidaksetiaan mereka. Lihat saja salah satu contohnya, Saul. Ketidaksetiaan Saul muncul ketika ia tidak sabar menanti janji Tuhan. Ia ketakutan menghadapi ancaman orang Filistin dan kehilangan kepercayaan rakyatnya yang sudah mulai kocar kacir karena panik. Kita bisa melihat kisah tentang Saul ini dalam 1 Samuel 1:22. Karena takut, Saul pun menduakan Tuhan. (ay 9). Sebuah pilihan yang fatal. Akibat ketidaksetiaannya, Saul tidak saja kehilangan mahkota, kehilangan urapan, tapi juga berkat dan penyertaan Tuhan dalam hidupnya. Hidup Saul pun berakhir tragis.

Contoh lain yang terkenal adalah bangsa Israel yang tegar tengkuk. Kita bisa melihat bagaimana orang-orang Israel berulangkali menyakiti hati Tuhan dengan keluh kesah, protes dan ketidaksabaran dan ketidaksetiaan mereka, meski mereka telah berulangkali pula mengalami sendiri bagaimana penyertaan Tuhan turun atas mereka sepanjang perjalanan menuju tanah terjanji. Di sisi lain, kita bisa melihat bagaimana kesetiaan Musa memenuhi perintah Tuhan. Dengan penuh kesabaran ia terus patuh memimpin bangsa besar yang keras kepala ini selama 40 tahun. Ini suatu pekerjaan yang tidak mudah, menghabiskan sebagian besar dari hidup untuk berada dalam kesulitan besar. Tapi Musa menunjukkan kesetiaan yang luar biasa meski tugas itu amat sulit. Apa yang kita lihat dari Musa dan rakyat yang dipimpinnya menggambarkan perbedaan nyata mengenai setia dan tidak. Dan hal ini kembali diingatkan sebagai contoh dalam kitab Ibrani. Bacalah Ibrani 3:7-19 yang mengulas kembali mengenai kebodohan bangsa Israel yang memurkakan Tuhan. “..nenek moyangmu mencobai Aku dengan jalan menguji Aku, sekalipun mereka melihat perbuatan-perbuatan-Ku, empat puluh tahun lamanya. Itulah sebabnya Aku murka kepada angkatan itu, dan berkata: Selalu mereka sesat hati, dan mereka tidak mengenal jalan-Ku.” (Ibrani 3:9-10). Akibat ketidaksetiaan mereka, akhirnya merekapun mendapatkan konsekuensinya dengan gagal memperoleh tempat yang dijanjikan Tuhan.

Apa yang dilakukan bangsa Israel pada masa itu tidak berbeda dengan apa yang sering kita lakukan hari-hari ini. Kita seringkali tidak sabar menanti janji Tuhan, kita seringkali terus mengeluh, bersungut-sungut, kita seringkali melanggar janji, peraturan dan kesetiaan. Berhasil menipu tanpa diketahui, bukannya malu tapi malah bangga. Kita lupa bahwa Tuhan menyaksikan semuanya. Oleh karena itulah nasihat Penulis Ibrani masih sangat relevan untuk kita ingat hari ini. ” Waspadalah, hai saudara-saudara, supaya di antara kamu jangan terdapat seorang yang hatinya jahat dan yang tidak percaya oleh karena ia murtad dari Allah yang hidup.” (Ibrani 3:12). Penekanan pun diberikan sang Penulis. “siapakah mereka yang membangkitkan amarah Allah, sekalipun mereka mendengar suara-Nya? Bukankah mereka semua yang keluar dari Mesir di bawah pimpinan Musa? Dan siapakah yang Ia murkai empat puluh tahun lamanya? Bukankah mereka yang berbuat dosa dan yang mayatnya bergelimpangan di padang gurun? Dan siapakah yang telah Ia sumpahi, bahwa mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Nya? Bukankah mereka yang tidak taat?” (ay 16-18). Kesetiaan sungguh menjadi pesan yang sangat penting bagi kita hari ini, khususnya ketika kita hidup di masa yang menganggap ketidaksetiaan merupakan hal yang wajar dan lumrah. Di mata Tuhan, kesetiaan akan selalu bermakna penting, dan pelanggaran akan hal itu akan berakibat fatal seperti yang kita lihat dari contoh bangsa Israel dan Saul. Dalam Roma kita bisa melihat bahwa ketidaksetiaan merupakan salah satu dari berbagai kefasikan dan kelaliman manusia yang sangat dimurka Tuhan. (Roma 1:18-32). Dan ketidaksetiaan ada di ayat 31. Tidak main-main, karena ganjaran untuk rupa-rupa kefasikan disini sangatlah berat, yaitu kematian. (ay 32).

Apa yang terjadi pada bangsa Israel dan Saul di atas hendaklah menjadi peringatan bagi kita untuk senantiasa menjunjung tinggi kesetiaan. Amsal berkata “Sifat yang diinginkan pada seseorang ialah kesetiaannya; lebih baik orang miskin dari pada seorang pembohong.” (Amsal 19:22). Kesetiaan juga termasuk salah satu dari buah Roh. (Galatia 5:22).Ini semua menunjukkan pentingnya untuk tetap menjaga kesetiaan dalam hidup kita. Mulailah belajar setia dalam perkara kecil agar kita bisa mendapat kepercayaan dari Tuhan untuk sesuatu yang lebih besar lagi. (Matius 25:21). Sebab “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.” (Lukas 16:10). Jangan berusaha setia hanya karena takut kepada orang atau ingin mendapat pujian dari sesama manusia, tapi lakukanlah karena takut akan Tuhan, karena kita mengasihiNya dan tidak ingin mengecewakan Tuhan yang begitu mengasihi kita. Jika terhadap manusia saja kita sudah sulit untuk setia, bagaimana kita bisa menjadi orang-orang yang setia bagi Tuhan? Sekecil apapun itu, lakukanlah dengan kesetiaan. Patuhlah kepada perintah-perintah Tuhan meski tidak ada orang yang melihat. Mulai dari hal-hal kecil, dan tingkatkan kepada hal-hal yang lebih besar lagi. Jadilah pribadi yang menjunjung tinggi kesetiaan.

Belajarlah untuk setia karena hal itu sangat penting di mata Tuhan

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply