Sunday, 21 December 2014

Kesetiaan Kaleb

Ayat bacaan: Yosua 14:17
====================
“Itulah sebabnya Hebron menjadi milik pusaka Kaleb bin Yefune, orang Kenas itu, sampai sekarang ini, karena ia tetap mengikuti TUHAN, Allah Israel, dengan sepenuh hati.”

Berapa lama toleransi yang kita berikan dalam menanti sebuah janji digenapi? Masing-masing orang akan memberi jawaban berbeda. Ada yang tidak sabaran, ada yang lebih sabar, itupun biasanya akan tergantung pada situasi dan kondisi kita. Ada kalanya kita bisa bersabar, tapi ada pula waktu dimana kita sulit untuk melakukan itu.Ada banyak pasangan yang akhirnya memilih untuk mengakhiri hubungan karena apa yang mereka harapkan tidak kunjung tiba. Mereka menginginkan pasangannya berubah, tapi ketika itu tidak kunjung terjadi hingga sebuah batas waktu tertentu menurut keinginannya, merekapun memutuskan untuk mengakhiri saja hubungan itu. Ketidak sabaran bisa menjadi salah satu alasan terbesar mengapa kesetiaan akhirnya harus dikorbankan. Terhadap sesama manusia seperti itu, kepada Tuhan pun sama saja. Ketika janji-janji Tuhan terasa terlalu lama menurut standar ukuran waktu kita, maka kepercayaan kita kepadaNya pun bisa goyah. Dan akhirnya, kesetiaan kepada Tuhan pun kita tinggalkan.

Waktu Tuhan seringkali berbeda dengan ukuran waktu kita. Tapi bagi orang yang bersabar akhirnya akan indah. Alkitab mencatat banyak contoh mengenai upah yang diterima yang berawal dari kesetiaan. Yusuf, Abraham, dan Musa misalnya, mereka mengalami rentang waktu panjang dimana kesabaran dan kesetiaan mereka diuji. Untuk hari ini mari kita lihat tokoh lainnya yang bisa kita jadikan teladan, yaitu Kaleb bin Yefune.

Kisah Kaleb mulai muncul ketika Musa menugaskan 12 orang yang mewakili masing-masing suku untuk mengintai situasi dan kondisi di tanah Kanaan, tanah yang dijanjikan Tuhan bagi mereka. (Bilangan 13:1-33), dimana Kaleb merupakan salah satu dari kedua belas pengintai itu. Setelah 40 hari mereka menjalankan tugas itu mereka pun kembali dengan mayoritas dari mereka berkesimpulan seperti ini: “Kami sudah masuk ke negeri, ke mana kausuruh kami, dan memang negeri itu berlimpah-limpah susu dan madunya, dan inilah hasilnya. Hanya, bangsa yang diam di negeri itu kuat-kuat dan kota-kotanya berkubu dan sangat besar, juga keturunan Enak telah kami lihat di sana.” (ay 27-28). Tempatnya memang sangat kaya dan subur, tetapi ada orang-orang berukuran raksasa tinggal disana. Sebagian besar dari mereka kecut melihat situasi disana. Bagaimana mungkin masuk berperang melawan raksasa di kota yang dilindungi benteng-benteng kokoh? Itu kata mereka. Bahkan saking kecut hati mereka menilai diri mereka sendiri seperti belalang yang lemah, kecil dan tidak berarti dibanding bangsa Enak yang besar-besar itu. (ay 33). Tetapi ternyata tidak semua pengintai bersikap pesimis. Kaleb adalah salah satu pengintai yang memiliki sikap hati positif selain Yosua. Dengan tegas ia membantah  rekan-rekannya. “Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!” (ay 30). Mengapa Kaleb bisa seyakin itu? Alasannya sederhana. Karena ia percaya apabila Tuhan sendiri yang berjanji untuk memberikan tanah itu kepada bangsanya, maka Tuhan pasti akan membantu dalam prosesnya. Tuhan yang memberi, mungkinkah Tuhan hanya sengaja ingin membiarkan mereka binasa? Kaleb memiliki iman yang teguh, itu membuatnya mampu percaya kepada Tuhan. Dan dari kisah selanjutnya mengenai Kaleb kita tahu bahwa ia berhasil membuktikan kesetiaannya secara luar biasa setelah teruji oleh waktu.

Kita bisa melihat kelanjutan kisah Kaleb 45 tahun kemudian dalam kitab Yosua. Pada saat itu Kaleb sudah tua di usia 85 tahun. Hingga saat itu ternyata ia belum juga memperoleh apa yang dijanjikan Tuhan kepadanya. Bayangkan sebuah penantian 45 tahun. Mampukah kita bersabar sepertiga atau seperempat dari waktu sepanjang itu? Rasanya bakal sulit. Tapi Kaleb menunjukkan kesetiaan yang luar biasa. Kaleb berkata “Aku berumur empat puluh tahun, ketika aku disuruh Musa, hamba TUHAN itu, dari Kadesh-Barnea untuk mengintai negeri ini; dan aku pulang membawa kabar kepadanya yang sejujur-jujurnya.” (Yosua 14:7). 10 pengintai lain menyampaikan kabar dengan pesimis, sehingga kesimpulan mereka membuat bangsa Israel menjadi tawar hati. Tapi tidak bagi Kaleb, sebab ia “tetap mengikuti TUHAN, Allahku, dengan sepenuh hati.” (ay 8). Lantas Kaleb berkata: “Pada waktu itu Musa bersumpah, katanya: Sesungguhnya tanah yang diinjak oleh kakimu itu akan menjadi milik pusakamu dan anak-anakmu sampai selama-lamanya, sebab engkau tetap mengikuti TUHAN, Allahku, dengan sepenuh hati. Jadi sekarang, sesungguhnya TUHAN telah memelihara hidupku, seperti yang dijanjikan-Nya. Kini sudah empat puluh lima tahun lamanya, sejak diucapkan TUHAN firman itu kepada Musa, dan selama itu orang Israel mengembara di padang gurun. Jadi sekarang, telah berumur delapan puluh lima tahun aku hari ini” (ay 9-10). 85 tahun, itu usia yang sudah sangat renta. Pada usia seperti ini kondisi fisik pasti sudah jauh menurun. Tenaga sudah sangat berkurang, berjalanpun mungkin sudah sulit. Tapi ternyata Kaleb memiliki semangat yang luar biasa. Ia berkata “pada waktu ini aku masih sama kuat seperti pada waktu aku disuruh Musa; seperti kekuatanku pada waktu itu demikianlah kekuatanku sekarang untuk berperang dan untuk keluar masuk.” (ay 11). Mungkin fisiknya sudah lemah seperti orang lain pada umumnya, tapi semangat hidupnya masih tetap sama seperti 45 tahun yang lalu. Itu menunjukkan bagaimana ia masih tetap berjalan mengikuti Tuhan dengan sepenuh hati meski apa yang dijanjikan belum kunjung ia peroleh setelah sedemikian lama. Itupun menunjukkan bahwa ia tidak pernah menjadi ragu akan janji Tuhan. Sebab bagaimana mungkin orang yang ragu bisa punya semangat sebesar dirinya? Kaleb menunjukkan kesetiaan yang besar yang tidak tergantung oleh situasi, kondisi maupun waktu. Ia hanya tahu, jika Tuhan sudah berjanji, pada waktunya janji itu pasti ditepati. Ia tahu betul bahwa Tuhan bukanlah Pribadi yang suka ingkar janji. Dan pada usia ke 85 itu akhirnya Kaleb bin Yefune menerima apa yang telah dijanjikan untuknya. Ia memperoleh Hebron sebagai milik pusakanya. (ay 13). Sejarah membuktikan bahwa Hebron bukanlah kota yang termudah untuk ditaklukkan. Kota ini justru merupakan sebuah kota yang didiami oleh orang-orang yang paling besar di antara bangsa raksasa, Enak. (ay 15). Keteguhan hati, semangat hidup, kepercayaan penuh dan kesetiaan tak terbatas mewarnai iman dari Kaleb, dan pada akhirnya kisahnya berakhir dengan indah.Alkitab mencatat hal itu dengan gemilang. “Itulah sebabnya Hebron menjadi milik pusaka Kaleb bin Yefune, orang Kenas itu, sampai sekarang ini, karena ia tetap mengikuti TUHAN, Allah Israel, dengan sepenuh hati.” (ay 14).

Pertanyaannya sekarang, mampukah kita bersabar seperti Kaleb? Kesabaran yang sesungguhnya akan teruji oleh waktu, begitu pula halnya dengan kesetiaan. Kaleb, seperti halnya Yusuf, Abraham dan banyak tokoh lainnya sudah menunjukkan bahwa kesabaran dan kesetiaan mereka menuju kepada akhir yang indah Jika bagi mereka seperti itu, bagi kita pun sama. Tuhan tidak akan pernah ingkar janji, hanya saja waktuNya mungkin berbeda dengan keinginan kita. Di saat seperti itu, sanggupkah kita tetap bersabar tanpa kehilangan pengharapan? Mampukah kita menunjukkan kesetiaan seperti Kaleb?

Percayalah bahwa janji Tuhan akan selalu digenapi, karena itu bersabarlah dan tetaplah setia

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

0saves


If you enjoyed this post, please consider leaving a comment or subscribing to the RSS feed to have future articles delivered to your feed reader.

Related Posts to "Kesetiaan Kaleb"

Response on "Kesetiaan Kaleb"