Kesaksian (2)

(sambungan)

Dalam 1 Petrus 2:9 dikatakan: “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.” Dari ayat ini kita juga bisa melihat bahwa sebagai bagian dari bangsa yang terpilih dan menyandang gelar imamat yang rajani (artinya imam-imam yang melayani Raja), merupakan bangsa yang kudus kepunyaan Allah sendiri, kita diminta untuk memberitakan, menyampaikan, membagi kesaksian atas perbuatan-perbuatan Tuhan yang besar yang kita alami. Siapapun kita, sebagai bagian dari bangsa yang terpilih kita harus terjun langsung menjadi rekan sekerja Allah lewat panggilan kita masing-masing. Memberi kesaksian merupakan hal sederhana yang bisa langsung anda lakukan saat ini juga. Meski sederhana, sebuah kesaksian memiliki kekuatan yang sangat besar dalam membawa jiwa-jiwa untuk mengenal Kristus.

Dalam Wahyu kita bisa membaca bahwa kesaksian adalah salah satu alat yang mampu membunuh iblis dan perbuatan-perbuatan jahatnya. “Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut.” (Wahyu 12:11). Ini juga menggambarkan betapa pentingnya sebuah kesaksian untuk menghancurkan tipu muslihat iblis yang sangat ingin membuat lebih banyak lagi orang untuk dilemparkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Sebuah kesaksian nyata akan keajaiban perbuatan Tuhan dalam hidup manusia akan mampu berbicara banyak mengenai kebaikan Tuhan. Sebuah kesaksian yang paling sederhana sekalipun malah bisa lebih efektif ketimbang mengkotbahi orang panjang lebar tanpa disertai contoh nyata. Pada akhirnya kita akan sampai pada kesimpulan bahwa sebuah pengalaman pribadi yang dibagikan akan memiliki kekuatan tersendiri untuk menggerakkan seseorang.

Sebuah kesaksian tidak harus selalu berisikan mukjizat-mukjizat seperti kesembuhan sakit penyakit, pelepasan, pemulihan, berkat-berkat dan sebagainya. Sebuah kesaksian kecil mengenai bagaimana kita bisa tetap hidup tenang, damai dan penuh sukacita dalam pengharapan di kala kesesakan, bagaimana kita bisa tetap teguh dalam iman di saat sulit, itupun bisa menjadi berkat yang memberi kekuatan tersendiri bagi orang lain. Tidak ada satu orangpun yang tidak memiliki satupun kesaksian. Masalahnya adalah, maukah kita membagikannya kepada orang lain agar mereka bisa mengenal siapa Yesus sebenarnya? Bukan kemampuan kita berbicara atau ilmu yang kita miliki yang dibutuhkan, tetapi pakailah kuasa Allah yang bekerja di dalam diri kita. Kalau begitu, maukah anda menceritakan kebaikan Tuhan yang pernah anda alami kepada orang lain?

Kesaksian sesederhana apapun akan sanggup memberkati orang lain

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: