Kerikil-Kerikil Tajam

Ayat bacaan: 1 Raja Raja 19:4
=========================
“Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: “Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku.”

kerikil tajam, masalah kecilMemiliki sepatu dengan sol yang tidak berfungsi baik agaknya merepotkan di kala hujan. Dua sepatu yang saya miliki ternyata memiliki masalah dengan solnya, sehingga sepatu itu tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Dengan cepat kaus kaki yang saya pakai basah, dan beberapa butir kerikil dan pasir basah pun masuk ke dalam sepatu, membuat saya tidak nyaman berjalan bahkan terganggu akibat butir-butiran pasir dan kerikil itu. Ukurannya kecil, tapi mampu membuat saya terganggu dalam melangkah. Jika dibiarkan berada di sana untuk waktu yang lama benda-benda kecil itu pasti akan mampu menimbulkan rasa sakit pada telapak kaki saya. Mengapa saya menyinggung soal ini? Karena seringkali kita bukan dikalahkan oleh masalah besar, namun justru oleh masalah yang kecil, yang mungkin datang tepat setelah kita mengalami sesuatu yang besar dari Tuhan.

Pernahkah anda mengalami masalah tepat setelah anda mengalami sesuatu yang besar? Saya kira ini pernah dialami oleh banyak orang. Saya baru saja mengalami hal tersebut, dan itu sangatlah tidak mudah. Ternyata manusia memang rentan dalam menghadapi masalah. Ketika masalah besar mampu teratasi dengan baik, meski dengan keajaiban luar biasa dari Tuhan yang mustahil bagi logika kita sekalipun, kita bisa setiap saat dijatuhkan oleh perkara-perkara yang relatif lebih kecil, yang datang setelahnya. Ketika kita mampu mengatasi batu-batu besar, kita malah tersandung dalam kerikil-kerikil yang kecil namun ternyata cukup tajam untuk melemahkan kita. Dalam beberapa kisah yang tercatat dalam Alkitab kita bisa mendapatkan contoh yang sama. Salah satunya adalah dalam kisah Elia.

Kurang apa hebatnya Elia? Dia dikenal sebagai “nabi api” yang mampu menurunkan api dari Surga. Pada kesempatan lain, ia juga mampu menurunkan hujan lewat doanya sehingga ia pun dikenal sebagai “nabi hujan”. seperti yang bisa kita baca dalam Yakobus 5:17-18. Elia pernah dengan gemilang mengalahkan bukan satu, bukan dua, bukan tiga tapi tidak kurang dari 450 nabi Baal di atas gunung Karmel lewat penyertaan Tuhan. (bacalah 1 Raja Raja 18:20-46). Elia berhasil membuktikan bahwa Allah Abraham, Ishak dan Israel adalah Allah yang sesungguhnya. Begitu luar biasa, Elia telah mengalami langsung bagaimana penyertaan Tuhan mampu memberikan kemenangan demi kemenangan dalam perkara berat sekalipun. Namun ternyata Elia adalah manusia juga sama seperti kita yang bisa patah ketika mendapat tekanan, yang justru relatif lebih kecil dibanding apa yang telah mampu ia atasi sebelumnya.

Tepat ketika Izebel mendengar Elia menumpas semua nabi Baal, Izebel pun mengeluarkan ancaman terhadap Elia. “maka Izebel menyuruh seorang suruhan mengatakan kepada Elia: “Beginilah kiranya para allah menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika besok kira-kira pada waktu ini aku tidak membuat nyawamu sama seperti nyawa salah seorang dari mereka itu.” (1 Raja Raja 19:2). Jika mengalahkan 450 nabi Baal saja bisa, apalagi Tuhan langsung yang berperkara di sana, ancaman Izebel seharusnya tidak akan cukup untuk menakut-nakuti Elia. Itu logikanya. Namun yang terjadi, ternyata ancaman ini cukup efektif untuk melemahkan mentalnya. Elia ternyata ketakutan. (ay 3). “Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: “Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku. (ay 4). Begitu takutnya hingga ia pun sampai putus asa bahkan ingin mati saja. Lihatlah bahwa hal seperti ini bisa terjadi pada seorang nabi yang diberkati secara luar biasa.

Dalam kesempatan lain kita mendapati kisah yang kurang lebih sama. Lihat bagaimana Tuhan menunjukkan kuasaNya meluputkan bangsa Israel dari kejaran tentara Firaun dengan membelah Laut Teberau, bangsa Israel sudah kembali putus asa ketika mereka sampai di Mara, sebuah tempat yang airnya pahit dan tidak dapat diminum. Lagi-lagi disini kita melihat bagaimana rentannya manusia menghadapi masalah. Baru saja mukjizat Tuhan turun secara luar biasa dalam masalah besar, bangsa Israel bisa patah akibat masalah yang relatif lebih kecil dibanding apa yang mereka alami sebelumnya.

Kedua kisah ini memberi pelajaran berharga bagi kita. Ketika kita mampu menghadapi masalah besar, berhati-hatilah dengan masalah-masalah yang cenderung kita anggap kecil. Kondisi-kondisi seperti ini selalu bisa dimanfaatkan iblis untuk merusak iman kita, membuat kita putus asa dan kehilangan harapan. Kita bisa dibuat seolah-olah begitu tertekan dan dengan segera melupakan bagaimana luar biasanya kuasa penyertaan Tuhan yang turun atas kita, melepaskan kita dari masalah besar di waktu sebelumnya. Agar tidak tergelincir seperti halnya Elia dan bangsa Israel waktu itu, kita harus terus mengingat bagaimana Tuhan mampu melepaskan kita dari kesesakan di waktu lalu. Jika dulu bisa, mengapa sekarang tidak? Firman Tuhan berkata “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Filipi 4:13). Jika ini janji Tuhan, Allah yang setia, mengapa kita harus ragu? Memang, jika kita mengandalkan kekuatan sendiri yang terbatas ini maka tentu akan sulit, namun jangan lupa bahwa kita memiliki Allah yang kuasaNya tak terbatas. Secara indah Daud melukiskan ini seperti berikut: “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!” (Mazmur 42:6, 42:12, 43:5).

Ada masa-masa dimana kita diserang lewat masalah kecil ketika baru saja mengalami keajaiban pertolongan Tuhan. Ada kalanya kita tersandung dalam situasi yang relatif lebih sederhana padahal kita baru saja memenangi pergumulan iman yang berat. Ada masa dimana kita mampu melompati batu besar namun kerikil tajam bisa melemahkan kita. Dalam situasi demikian, ingatlah bagaimana Tuhan melepaskan diri kita. Berhentilah panik, takut atau ragu, jangan putus asa dan kehilangan semangat serta harapan. Tapi tetaplah berdiri kuat, karena jika dahulu Tuhan sanggup, kali ini pun Dia pasti sanggup. Berhati-hatilah terhadap masalah yang kecil dan percayalah bahwa Tuhan selalu ada dan bisa melepaskan kita dari jerat masalah berukuran apapun.

“Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” (Roma 8:31)

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: