Ayat bacaan: Yosua 3:10
=======================
“Lagi kata Yosua: “Dari hal inilah akan kamu ketahui, bahwa Allah yang hidup ada di tengah-tengah kamu..”

Kita diberkati dengan talenta tertentu yang bisa membuat kita tampil baik dan istimewa dalam hidup, itu sangat pantas jika kita syukuri. Kita bekerja keras, berusaha dan belajar agar bisa menjadi orang-orang yang sukses dalam pekerjaan, dan itu membutuhkan waktu panjang. Talenta dan usaha kita meningkatkan kemampuan dan ilmu pengetahuan memang sangat menentukan keberhasilan kita. Tetapi hendaknya jangan sampai kita lupa bahwa semua itu merupakan anugerah dari Tuhan dan bukan karena kehebatan diri kita sendiri. Kenyataannya ada banyak orang yang lupa diri ketika sudah sukses, dan mengira bahwa kehebatannyalah yang membuat semua itu terjadi. tapi jangan lupa bahwa semua itu tetap merupakan berkat dari Tuhan. Semakin kita naik, semakin kita harus waspada menjaga sikap hati kita. Sebab kalau tidak, kita bisa terjerumus ke dalam dosa kesombongan yang sama sekali tidak disukai Tuhan.

Rendah hati, itulah yang seharusnya ada pada diri orang percaya. Tidak ada tempat bagi kesombongan mau seberapa besar sekalipun sukses yang ada pada kita. Prinsip padi, semakin berisi semakin merunduk merupakan hal yang wajib kita camkan dan lakukan. Berbicara mengenai kerendahan hati, kita bisa belajar lewat banyak tokoh, seperti misalnya lewat hidup Yosua.

Apa yang terjadi pada Yosua bukanlah sesuatu yang kecil. Ia dipilih Tuhan untuk melanjutkan kepemimpinan Musa atas bangsa Israel. Ia dipersiapkan sejak lama, selagi masih di usia muda. Ketekunan, kesetiaan dan imannya sudah teruji sejak semula ketika ia masih menjadi abdi Musa. Lalu Yosua pun dipilih Tuhan untuk menggantikan Musa. Ini sebuah kehormatan yang sangat besar. Yosua bisa punya banyak alasan untuk menjadi sombong, tapi dia tidak menunjukkan tanda-tanda seperti itu sama sekali.

Mari kita lihat kisah ketika Yosua hendak memimpin bangsa Israel untuk menyeberangi sungai Yordan. (Yosua 3:1-17). Sebelum memasuki sungai Yordan, Tuhan berbicara kepada Yosua. “Dan TUHAN berfirman kepada Yosua: “Pada hari inilah Aku mulai membesarkan namamu di mata seluruh orang Israel, supaya mereka tahu, bahwa seperti dahulu Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau.” (ay 7). Tuhan menyatakan kepada Yosua bahwa sama seperti ketika Tuhan menyertai Musa untuk melewati Laut Merah, demikian pula Tuhan akan menyertai Yosua dalam memimpin bangsa Israel dalam menghadapi sungai Yordan. Setelah Yosua menerima pesan Tuhan itu, ia pun segera menyampaikan hal tersebut kepada bangsa Israel. Tapi perhatikan apa yang dikatakan Yosua kepada bangsa Israel. “Lagi kata Yosua: “Dari hal inilah akan kamu ketahui, bahwa Allah yang hidup ada di tengah-tengah kamu dan bahwa sungguh-sungguh akan dihalau-Nya orang Kanaan, orang Het, orang Hewi, orang Feris, orang Girgasi, orang Amori dan orang Yebus itu dari depan kamu.” (ay 10). Perhatikan, Yosua tidak berkata “lihatlah hari ini kamu semua akan melihat bagaimana Tuhan membesarkan namaku, meninggikan aku ditengah-tengah kamu sekalian..” Yosua tidak berkata, “akulah yang terpilih, lebih tinggi dari kalian semua, dan jika kalian selamat itu semua berkat saya.” Tidak, sama sekali tidak. Apa yang dikatakan Yosua adalah “Dari hal inilah akan kamu ketahui, bahwa Allah yang hidup ada di tengah-tengah kamu.”

Meski Yosua mungkin berhak mengulangi pesan Tuhan itu kepada bangsa yang dipimpinnya, tapi ia tidak melakukan itu. Yosua bersikap rendah hati dan menyadari betul bahwa bukan karena hebat atau kuat kuasanya bangsa Israel akan bisa melewati sungai Yordan, melainkan karena penyertaan Tuhan. Yosua memusatkan perhatian bukan kepada dirinya sendiri melainkan kepada Tuhan. Fokusnya hanyalah Tuhan satu-satunya yang dimuliakan dalam segala peristiwa yang pernah, sedang dan akan terjadi. Yosua memilih untuk tidak merebut apa yang menjadi hak Tuhan. Selanjutnya Yosua pun menjelaskan secara rinci bagaimana mereka harus menyeberang (ay 11-13), dan itu dia lakukan untuk menunjukkan bahwa apa yang akan terjadi bukanlah kebetulan semata, atau bukan karena kehebatan bangsa Israel atau dirinya sendiri, melainkan karena ada kuasa Tuhan yang bekerja untuk melindungi dan menyelamatkan mereka.

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.