Kerendahan Hati dan Menjadi Pribadi Rendah Hati

rendah hati by istSelasa, 3 Maret 2015: Pekan II Prapaskah Yesaya 1:10,16-20; Mzm 50:8-9,16bc-17,21,23; Mateus 23:1-12 KEMARIN  kita merenungkan kualitas hidup Kristiani yakni kemurahan hati dengan tidak menghakimi tetapi mengampuni. Berdasarkan Injil hari ini, mari ka sekarang merenungkan kerendahan hati sejati. Yesus mengingatkan kita untuk melayani sesama dengan kerendahan hati bukan dengan keangkuhan. Iman yang benar membimbing kita menjadi pribadi yang rendah hati dan menyerahkan diri kita pada kebijaksanaan Allah serta melakukan tuntunan-Nya. Apakah kerendahan hati sejati itu? Pertama-tama, kerendahan hati adalah kesederhanaan hati dan kesiapsediaan mencari Allah saja. Selanjutnya, kerendahan hati bukanlah perasaan buruk terhadap diri sendiri, atau meninlai diri sendiri rendah. Ia tidak berpikir tentang diri yang lebih rendah dari semua yang lain. Akhirnya, kerendahan hati sejati itu membebaskan kita menjadi diri sendiri di hadapan Allah yang menghargai kita dan menghidarkan kita dari keputusasaan dan kesombongan. Jadi, kerendahan hati adalah kebenaran dalam pengertian diri dan kebenaran tindakan. Ia membuat seseorang menilai diri secara realistis tanpa khayalan pun pretensi untuk menjadi yang bukan dirinya sendiri termasuk terhadap yang lain. Orang yang rendah hati menghargai dirinya sendiri tidak lebih kecil atau lebih besar dari yang lain seapaadanya. Secara spiritual dan teologis, kerendahan hati sejati merupakan ratu dan batu landasan bagi semua keutamaan lain sebab ia memampukan kita untuk melihat dan menilai secara benar, cara Allah memandang (kita dan sesama). Ia membantu kita menjadi orang yang siap untuk diajak-dan-belajar sehingga memperoleh pengetahuan, kebijaksanaan dan cara pandang yang jujur dan benar tetnang realitas diri dan kehidupan. Ia membawa daya, jiwa dan kehendak memberikan diri untuk sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri. Dalam Adorasi Ekaristi Abadi, kita belajar rendah hati di hadirat Yesus Kristus yang telah merendahkan diri-Nya demi keselamatan kita. Ia menghampakan diri-Nya, sebagai hamba rendah hati dan taat hingga wafat, bahkan wafat di kayu salib (bdk Flp 2:7-8). Kita lalu dimampukan untuk mengasihi dan melayani sesama dengan sukacita tanpa egoisme, demi kepentingan sesama lebih dari kepentingan diri sendiri. Tuhan Yesus Kristus, kami ingin menjadi hamba seperti Engkau mengasihi dan melayani sesama. Berilah kami hati-Mu, hati Hamba yang mencari kebaikan bagi sesama dan menaruh kepentingan mereka sebagai yang utama dalam perhatian dan kepedulian kami bagi mereka. Ajarilah kami menjadi hamba seperti Engkau yang merendahkan diri dan mengasihi sesama dengan murah hati tanpa pelayanan dan kasih yang egoistis, kini dan selamanya. Amin.

rendah hati by ist

Selasa, 3 Maret 2015: Pekan II Prapaskah

Yesaya 1:10,16-20; Mzm 50:8-9,16bc-17,21,23; Mateus 23:1-12

KEMARIN  kita merenungkan kualitas hidup Kristiani yakni kemurahan hati dengan tidak menghakimi tetapi mengampuni. Berdasarkan Injil hari ini, mari ka sekarang merenungkan kerendahan hati sejati.

Yesus mengingatkan kita untuk melayani sesama dengan kerendahan hati bukan dengan keangkuhan. Iman yang benar membimbing kita menjadi pribadi yang rendah hati dan menyerahkan diri kita pada kebijaksanaan Allah serta melakukan tuntunan-Nya.

Apakah kerendahan hati sejati itu? Pertama-tama, kerendahan hati adalah kesederhanaan hati dan kesiapsediaan mencari Allah saja. Selanjutnya, kerendahan hati bukanlah perasaan buruk terhadap diri sendiri, atau meninlai diri sendiri rendah. Ia tidak berpikir tentang diri yang lebih rendah dari semua yang lain. Akhirnya, kerendahan hati sejati itu membebaskan kita menjadi diri sendiri di hadapan Allah yang menghargai kita dan menghidarkan kita dari keputusasaan dan kesombongan.

Jadi, kerendahan hati adalah kebenaran dalam pengertian diri dan kebenaran tindakan. Ia membuat seseorang menilai diri secara realistis tanpa khayalan pun pretensi untuk menjadi yang bukan dirinya sendiri termasuk terhadap yang lain. Orang yang rendah hati menghargai dirinya sendiri tidak lebih kecil atau lebih besar dari yang lain seapaadanya.

Secara spiritual dan teologis, kerendahan hati sejati merupakan ratu dan batu landasan bagi semua keutamaan lain sebab ia memampukan kita untuk melihat dan menilai secara benar, cara Allah memandang (kita dan sesama). Ia membantu kita menjadi orang yang siap untuk diajak-dan-belajar sehingga memperoleh pengetahuan, kebijaksanaan dan cara pandang yang jujur dan benar tetnang realitas diri dan kehidupan. Ia membawa daya, jiwa dan kehendak memberikan diri untuk sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi, kita belajar rendah hati di hadirat Yesus Kristus yang telah merendahkan diri-Nya demi keselamatan kita. Ia menghampakan diri-Nya, sebagai hamba rendah hati dan taat hingga wafat, bahkan wafat di kayu salib (bdk Flp 2:7-8). Kita lalu dimampukan untuk mengasihi dan melayani sesama dengan sukacita tanpa egoisme, demi kepentingan sesama lebih dari kepentingan diri sendiri.

Tuhan Yesus Kristus, kami ingin menjadi hamba seperti Engkau mengasihi dan melayani sesama. Berilah kami hati-Mu, hati Hamba yang mencari kebaikan bagi sesama dan menaruh kepentingan mereka sebagai yang utama dalam perhatian dan kepedulian kami bagi mereka. Ajarilah kami menjadi hamba seperti Engkau yang merendahkan diri dan mengasihi sesama dengan murah hati tanpa pelayanan dan kasih yang egoistis, kini dan selamanya. Amin.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply