Kepekaan Tinggi

Ayat bacaan: Efesus 5:10
========================
“dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan.”

coffee cupper, coffee taster, wine taster, ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan

Sebulan lalu saya iseng membeli kopi yang cukup terkenal di Bandung. Kopi ini tampaknya sudah turun temurun diwariskan sejak awal 1900an. Ini saya tahu dari melihat kemasannya yang masih didesain seperti desain awal. Bahkan ejaan yang dipakai pun masih ejaan lama. Ketika masuk ke toko, saya ditanya oleh sang pemilik, mau kopi seperti apa? Saya bingung menjawabnya karena jujur, saya bukanlah penikmat kopi. Membelinya saja hanya karena iseng. Dia pun kemudian menjelaskan beberapa jenis kopi agar saya bisa memilih. Setelah melakukan pembayaran, dia kembali berpesan agar kopi sebaiknya diminum sebelum sarapan, takaran satu sendok makan dan sebagainya. Wah, saya bingung. Si pemilik jelas seorang yang sangat mengerti kopi, dia tahu bagaimana kopi harus diminum agar rasanya benar-benar sempurna. Saya pun ingat istilah “coffee cupper” atau “coffee taster”. Mereka adalah para ahli kopi yang sangat peka pada cita rasa secangkir kopi. Mereka dapat menjelaskan secara terperinci tentang kopi yang mereka minum atau dari aroma yang mereka hirup, meski dengan mata tertutup sekalipun. Itu di dunia per-kopi-an. Di dunia anggur (wine) pun kita mengenal istilah “wine taster”, orang yang ahli membedakan jenis-jenis anggur lewat penciuman dan lidah perasa yang peka.

Kepekaan itu terbentuk dari pengalaman dan latihan terus menerus. Tidak ada orang yang langsung menjadi ahli, tidak ada yang bisa langsung peka tanpa dua hal tersebut. Sama halnya dengan kepekaan rohani. Menjadi orang percaya bukanlah berarti bahwa kita akan langsung peka, mengerti apa yang berkenan di hadapan Tuhan, atau peka membedakan mana yang mengarah pada dosa dan mana yang tidak. Kepada jemaat Efesus, Paulus mengajak mereka untuk menguji apa yang berkenan kepada Tuhan (Efesus 5:10). Untuk mampu menguji, jemaat Efesus harus terus menerus belajar hidup sebagai “anak terang” (ay 8). Istilah “anak terang” dipakai untuk menunjuk pada mereka yang hidup sebagai anak-anak Allah yang taat pada firman dan dalam kasih Kristus. Anak-anak terang adalah pelaku firman Allah yang mengasihi Dia, sebab Kristus sendiri adalah sumber terang. Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” (Yohanes 8:12). Jika kita terus belajar untuk hidup sebagai anak terang, kita akan mampu membedakan mana yang berkenan di hadapan Tuhan dan mana yang tidak. Kepekaan itu akan memungkinkan kita untuk tidak mudah disesatkan, meskipun tiap hari kita hidup berdampingan dengan orang-orang yang mengejar keduniawian. Bahkan kita akan mampu menelanjangi perbuatan-perbuatan kegelapan, tipu daya iblis yang terbungkus rapi sekalipun. “Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang” (ay 13).

Kita hidup di sebuah jaman dimana penyesatan hadir dimana-mana, lewat apa yang kita dengar maupun yang kita lihat. Berbagai hal menggiurkan ditawarkan dunia setiap saat. Terkadang kita akan berhadapan dengan jalan-jalan yang kelihatannya baik, namun ternyata berujung pada maut. “Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut (Amsal 14:12). Tanpa kepekaan rohani, kita akan mudah terjerumus dalam kegelapan. Karena itu adalah penting untuk tetap hidup sesuai firman Tuhan, tetap bertekun dalam doa dan terus berada dalam bimbingan Roh Kudus. Sudahkah kita memiliki rohani yang peka? Kita anak-anak Tuhan diingatkan untuk bangun dari tidur dan bangkit dari kematian dan terus berusaha untuk menjadi anak terang, dimana Kristus akan bercahaya di atas kita (ay 14). Seperti halnya kepekaan “coffee-cupper” dan “wine taster” yang mampu menguji kopi dan anggur, demikianlah kita harus mempunyai kepekaan agar dapat menguji apa yang berkenan kepada Tuhan dan apa yang tidak.

Kepekaan rohani yang tinggi akan mengungkap kegelapan dengan cahaya terang

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply