Kepatuhan (1)

Ayat bacaan: Yohanes 1:12
=====================
“Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya”

patuh

Saya sangat kagum kepada anak teman saya yang masih berusia 9 tahun. Di usia semuda itu ia sudah bisa melakukan banyak hal. “Dia suka ikutan mengerjakan apa yang dikerjakan oleh seisi rumah.” kata ibunya sambil tertawa. Kakeknya mengutak-atik motor, ia pun ikut disana, setidaknya memutar sekrup. Ia selalu bangga ketika tangannya terkena oli, karena itu ia anggap sebagai bukti peran sertanya dalam memperbaiki motor. Ibunya memasak, ia pun ikut membantu. Maka di usia 9 tahun itu ternyata ia sudah pintar memasak jenis-jenis makanan yang tidak terlalu rumit untuk dibuat. Di usia itu semuda itu ia mulai berpikir untuk belajar piano atau gitar, dan hebatnya lagi, ia sudah pintar memotret dengan kamera pro. Segudang kepintaran ini ternyata tidak membuatnya sombong. Hari ini saya melihat langsung bagaimana ia datang dan bertanya dulu sebelum melakukan sesuatu. “Ma, boleh tanya tidak?”, “Ma, masih boleh pesan tidak, saya haus..” Ini adalah sesuatu yang langka untuk dijumpai, terlebih di hari-hari ini dimana kecenderungan orang tua yang biasa kita temui adalah memanjakan anaknya atau sebaliknya tidak mempedulikan mereka.

Di saat ada banyak anak yang menangis dalam meminta sesuatu dan berpikir bahwa raungan mereka akan membuat orang tuanya menuruti keinginan mereka, anak teman saya ini sudah mengerti bagaimana bersikap sopan di usianya yang masih begitu muda. Kedekatannya terhadap mamanya dan sikapnya yang manis membuatnya terus bertumbuh luar biasa menjadi anak multi-talenta. Sayangnya kebanyakan anak bersikap sebaliknya. Mungkin si anak sebenarnya mendengar, namun hanya sedikit yang patuh dan mau menurutinya. Tidaklah adil jika kita hanya menuduh anak-anak saja yang berlaku seperti itu, karena jujurnya justru banyak pula orang tua yang bandel dan mementingkan diri sendiri saja. Telinga kita mendengar, namun sikap, tindakan dan perbuatan kita sama sekali tidak mencerminkan apa yang kita dengar. Dan akibatnya, ada banyak kerugian yang akan kita alami berawal dari kebandelan kita sendiri.

Kalau terhadap orang tua, guru atau orang yang lebih dewasa di dunia saja kita berbuat demikian, terhadap Bapa pun kita bisa melakukan hal yang sama. Sebagian besar dari kita mungkin sudah sering mendengar Firman Tuhan seperti ketika duduk di gereja misalnya atau lewat kesempatan-kesempatan lain, tetapi apakah kita sudah menanggapi, mentaati dan menjalani hidup sesuai itu? Sebagian orang akan terus melakukan hal-hal yang menyenangkan dirinya tanpa mempedulikan apa kata Tuhan mengenai apa yang diperbuatnya. Mendengar Firman cukup lewat kotbah, cukup hari Minggu saja, dan setelah itu mereka akan kembali pada kehidupan duniawinya. Jika terjepit sedikit saja, dan mungkin itupun akibat kesalahan sendiri, maka mereka pun merengek-rengek bahkan berani menuduh Tuhan pilih kasih atau tidak peduli. Alkitab bukan lagi hal yang asing bagi sebagian dari kita, tetapi sudahkah kita menangkap esensi dasar dari kebenaran yang terkandung di dalamNya? Sudahkah kita memperhatikan dengan seksama bagaimana kehidupan kita dan menjaganya agar berita luar biasa tentang keselamatan lewat Kristus yang diberitakan lewat Injil tidak sampai luput dari kita?

Sebelum kita lanjutkan, marilah kita cermati terlebih dahulu siapa atau seperti apa sesungguhnya diri kita, manusia. “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” (Roma 3:23). Ini kondisi yang memperihatinkan. Kita digambarkan sebagai orang-orang berdosa, yang dengan sendirinya membuat kita kehilangan kemuliaan Allah. Semua manusia gagal mencapai standar kebenaran yang sempurna dari Tuhan. Dan ganjaran atau konsekuensi dari semua ini adalah sangat jelas, kita seharusnya binasa. Tapi lihatlah bagaimana cara Tuhan mengasihi kita. Meski semuanya salah kita, Tuhan sama sekali tidak menginginkan kita berakhir seperti itu. Dia tidak membiarkan kita hancur begitu saja. Tidak. Kita berharga bahkan dikatakan mulia di mataNya. (Yesaya 43:4). Lalu Injil mengatakan sebuah kalimat yang menunjukkan sebuah bentuk kasih terbesar yang pernah ada. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16). Atau lihat pula Firman Tuhan lewat Petrus: “Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh.” (1 Petrus 3:18). Adalah  kasih yang begitu besar yang ternyata sanggup menggerakkan Tuhan untuk menebus kita, bahkan Dia rela  mengorbankan AnakNya yang tunggal untuk tujuan itu. “Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.” (1 Petrus 1:18-19).

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: