Kepala, Bukan Ekor (1)

Ayat bacaan: Ulangan 28:13-14
========================
“TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia, dan apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya.”

Siapa yang tidak ingin sukses dan mengalami peningkatan? Berhasil dalam pekerjaan, karir naik, itu impian semua orang. Tidak ada orang yang mau mengalami stagnasi dalam karirnya. Alangkah bahagia rasanya jika pekerjaan kita berhasil dan kita terus mendapat promosi untuk naik lebih tinggi lagi. Dalam berusaha kita selalu ingin berhasil, dalam kehidupan pun demikian. Kita ingin berhasil membangun keluarga yang berbahagia, Anak-anak ingin tampil berhasil di mata orang tua, orang tua ingin berhasil mendidik anak-anak dan sebagainya. Tidak ada orang yang dengan sengaja ingin gagal atau malah merosot karirnya. Namun masih banyak orang yang masih bergumul dengan itu. Usaha terus gagal,lagi-lagi bangkrut, terus terlilit hutang, keluarga berantakan dan sebagainya. Bukannya promosi yang didapat, tapi malah turun pangkat ke tingkat yang lebih rendah.

Sebagai bagian dari proses? Bolehlah. Tapi itu seharusnya tidak berlaku selamanya. Apabila ada diantara teman-teman yang masih bergumul dengan hal ini, akan sangat baik untuk mengetahui apa sebenarnya keinginan Tuhan kepada anak-anakNya. Seperti halnya orang tua kita di dunia yang tidak ingin satupun dari anaknya hidup susah dan gagal, apa yang diinginkan Tuhan adalah menempatkan setiap kita menjadi kepala, bukan ekor. Tetap naik dan bukan turun. Jika masih naik turun atau tetap berada di bawah posisi seperti yang dikehendaki Tuhan, itu bisa jadi pertanda bahwa masih ada yang harus kita benahi dari diri kita. Dari perjalanan hidup Yusuf kita bisa melihat fakta menarik mengenai posisi kepala ini.

Sebelum kita melihat apa yang dialami Yusuf, mari kita lihat dulu ayat yang menyatakan seperti apa sebenarnya posisi atau status kita menurut keinginan Tuhan. “TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun..” (Ulangan 28:13). Ayat ini disampaikan setelah Tuhan membeberkan janji-janji berkatNya secara terperinci. Dari ayat ini kita sudah melihat dengan jelas apa sebenarnya yang dikehendaki Tuhan untuk terjadi kepada kita.

Dalam proses mungkin kita dibentuk melalui fase-fase yang tidak nyaman, bahkan mungkin menyakitkan. Tapi dalam proses itupun sebenarnya kita bisa merasakan perbedaan nyata apabila disana ada penyertaan Tuhan. Penyertaan Tuhan sudah dinyatakan akan terus bersama kita sampai selama-lamanya (Matius 28:20). Artinya Tuhan berada bersama kita bukan hanya ketika kita dalam keadaan aman tanpa masalah saja, tapi dalam kekelaman yang terkelam sekalipun Tuhan tetap ada. Daud merasakan hal itu. Ia mengatakan demikian: “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.” (Mazmur 23:4).

Sekarang mari kita lihat kisah Yusuf. Jalan hidup Yusuf menjadi sebuah bukti nyata bagaimana penyertaan Tuhan itu berlaku dalam setiap keadaan, dan itu membuat keberadaan dalam situasi sulit sekalipun tetap memiliki perbedaan jika kita menghadapinya bersama Tuhan. Sejak kecil Yusuf berbeda. Ia dikatakan lebih dikasihi dari anak-anak yang lain. (Kejadian 37:3). Melihat hal ini, cemburulah saudara-saudaranya, dan Yusuf pun mulai mengalami rangkaian penderitaan dalam hidupnya. Apalagi ketika ia menyampaikan mimpinya kepada mereka. Ia pun hampir dibunuh. Selamat dari pembunuhan bukan berarti selamat sepenuhnya, karena ia dilemparkan ke dalam sumur yang gelap gulita. Yusuf bisa saja mati secara perlahan di sana. Dia selamat dari sumur, tapi itupun bukan sebuah kebebasan, karena ia justru dijual kepada para saudagar Midian dan dibawa ke Mesir dalam status sebagai budak. Budak, ini bukan posisi kepala, tapi posisi ekor. Apa yang terjadi selanjutnya? Ternyata Yusuf dibeli oleh Potifar, seorang kepala pengawal istana.

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: